
"Halo Tuan Bai," sapa Clarie.
"Tidak perlu bicara dengan bahasa yang formal Clarie, panggil aku dengan nama saja," kata Leon sambil tersenyum.
Clarie duduk, dan memesan satu cangkir cokelat panas. Di luar udara terasa sangat dingin, tulang-tulang Clarie bisa merasakan itu. Udara yang mengerikan. Malam ini dia membuat janji khusus dengan Leon, tentang pekerjaan dan juga tentang pertemanan. Satu bulan lamanya Clarie dan Leon saling berbagi cerita, saling mengingatkan, dan saling bertukar informasi. Hubungan mereka masih sebatas itu saja dan mereka tidak mengharapkan yang lebih. Satu cangkir cokelat panas datang ke hadapan Clarie, Clarie mulai meminumnya sedikit demi sedikit.
"Jadi, kamu ingin bertemu denganku ada masalah apa? Pekerjaan? Ben? Tentang karyawan? Atau mungkin Riko dan April?" tanya Leon dengan nada setengah malas. Matanya menatap gadis yang duduk di depannya, indah tapi mematikan.
Tuk! Clarie meletakkan cangkirnya kembali, kemudian menatap Leon lurus-lurus dan tajam. "Leon, apa benar dulunya kamu adalah sahabat Ben?"
Leon terhenti sejenak, memalingkan wajahnya dan tidak menjawab. Ben lagi Ben lagi, dunia memang tidak pernah tidak membicarakan laki-laki itu, laki-laki yang dulunya adalah sahabatnya. Namun sekarang tidak, tidak lagi. "Bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini Clarie? Pekerjaanku tidak terlalu banyak, jadi kupikir aku bisa santai sejenak,"
__ADS_1
Clarie kembali minum, Leon sedang mengalihkan pembicaraan. Nampaknya ini hal yang tidak mudah untuk diketahui olehnya. Jika Clarie tidak bisa menjalankan rencana yang dia buat, hancur sudah persiapan untuk hari itu. "Hari ini lumayan membuat diriku pusing, Alyta selalu membuat masalah denganku. Kamu tahu? Dia membuat keributan dengan karyawan lain demi bisa berbicara denganku, dan tentu saja itu bukan pembicaraan yang bagus,"
"Gadis itu memang tidak pernah berubah dari dulu, sejak kecil sampai besar pun masih sering membuat keonaran,"
"Apa rencanamu? Bersantai itu? Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Pergi ke bioskop menonton film sepuasnya, seharian. Kamu harus ikut, aku sudah memesan dua tiket. Permintaanku ini tidak bisa ditolak,"
"Oh, jangan berburuk sangka dulu Clarie. Itu karena gender filmnya horor, aku tidak bisa menonton sendirian. Siapa yang akan membawakanku minuman setelah keluar dari tempat itu?"
"Baiklah, beri tahu aku kapan akan ke sana untuk menonton film yang sama sekali tidak kamu sukai. Sekarang aku harus pulang, Ben sudah mengirim pesan,"
__ADS_1
......................
"Leon bagaimana keadaan Clarie sekarang? Apa...dia baik-baik saja sekarang?"
Leon menghela napas, baru saja dia masuk ke apartemen sudah ditanyai saja. Leon mendorong tubuh Dean ke samping, supaya dia bisa berjalan lurus tanpa perlu ada orang yang menghalanginya. Dia butuh istirahat.
"Kak Leon! Jawab dong, aku benar-benar ingin tahu keadaannya sekarang ini!" teriak Dean.
"Clarie masih baik-baik saja Dean, sudah satu bulan ini setiap hari aku menemuinya dan menanyakan kabar. Clarie menjawab baik-baik saja, tapi wajahnya berbeda. Kakakmu itu sekarang seperti mengendalikan Clarie, Dean. Dia mengatur seluruh hidupnya,"
Ini buruk, kesetiaan yang Clarie berikan jatuh pada orang yang salah. Pikiran Dean menjadi berantakan, tidak tahu bagaimana jadinya jika dia terus berdiam diri seperti ini. Kakaknya orang yang licik, gila, dan kejam. Dia tidak akan pernah memaafkan orang yang melakukan kesalahan kepadanya. Dia harus menyelamatkan Clarie, harus.
__ADS_1