Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
76. 2nd


__ADS_3

Menurut kalian apa dengan mengakui kesalahan kita akan dimaafkan? Apa aku harus mengakuinya? Aku sudah menyesal, tapi aku belum meminta maaf kepada orang yang kuganggu selama ini. Dan berakhirlah hari ini, aku mendapatkan balasannya. Luka. Bukan luka di hati atau di batin, tapi luka di fisik.


Aku berharap waktu bisa kembali berputar ke zaman dulu. Dan aku ingin memperbaikinya. Apakah bisa? Aku tahu kalau luka yang 'dia' punya pasti lebih besar dan lebih parah dari luka yang kupunya sekarang.


Aku tahu aku terlalu ingin sejajar dengannya. Maka kulakukan segala hal supaya aku bisa menyamainya. Aku tidak semenarik 'dia', aku tidak sepintar 'dia'.


"Renata, bisa tolong ambilkan minum untukku?" Renata berhenti menulis dan menutup buku kecil yang sering dia gunakan akhir-akhir ini. Gadis itu segera mengambil minum untuk Dean, lalu menyerahkannya. "Terima kasih," ucap Dean lalu segera meminumnya.


"Kak Dean, apa saat Kak Clarie marah dia terlihat menakutkan? Atau mungkin sampai Kak Dean sulit bernapas?" Dean menatap Renata bingung, dia sendiri juga bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu.


Habisnya selama dia menjalani hubungan dengan Clarie, gadis itu hampir tidak pernah marah. Pengecualian pada saat Clarie memutuskan hubungannya saat itu. Dia terlihat seperti orang lain, denga sorot mata dingin dan tanpa ampun.


"Apa kamu sedang membayangkan bagaimana Kakakmu marah? Kamu sudah berniat untuk minta maaf kepadanya?"


"Entahlah, i-ini membuatku gugup," karena Kak Clarie tidak akan mendengarkan permintaan maafku. "Dan aku tidak yakin Kak Clarie mau memaafkan semua hal yang sudah kulakukan padanya. Ta-tapi aku benar-benar menyesal telah mengganggunya selama ini," Renata yang terlihat gugup membuat Dean mendengus pelan dan tersenyum.

__ADS_1


"Meski Kakakmu terlihat berubah, percayalah kalau dia masih sama seperti yang dulu. Clarie yang murah hati," ucap Dean tersenyum. Renata mengangguk pelan, tapi hatinya masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Dean. Mengingat bagaimana kakaknya, Clarie, yang menyakitinya tadi.


Dia masih takut, apalagi dengan dugaannya yang berkaitan dengan terbunuhnya teman-teman sskolahnya yang ikut mengganggu Clarie. Dirinya tidak bisa tenang.


Sementara di dalam kamar yang lain, masih berisi dengan orang yang sama, Clarie, Nic, tuan dan nyonya Lin, dan paman bibi Clarie. Mereka menikmati makan malam dalam suasana hati yang berbeda-beda.


Clarie yang mesih penuh dengan kecurigaan dan rasa ingin tahu selalu memasang wajah datar tanpa ekpresi.


"Kakak, sudah waktunya minum obat," ucap bibi Clarie. Dia berniat mengambil kesempatan kali ini untuk berbincang dengan saudaranya, meski hanya sebentar saja. "Kak, tadi aku tidak bisa mengatakan apapun. Clarie juga terlihat sangat menakutkan tadi,"


"Bukannya Renata yang paling berani berbicara dengan Clarie? Kenapa kemarin dia tidak bisa mengatakannya?"


"Entahlah, mungkin memang harus kami yang mengatakannya secara langsung,"


Clarie yang mendadak pergi, membuat mereka terkejut. Nic mengambil kesempatan ini untuk memberikan pendapatnya lagi, dia berjalan mendekati mereka.

__ADS_1


"Lebih baik kalian cepat mengatakannya, daripada dia tidak sabar dengan kelambatan kalian dan berakhir dengan mengenaskan. Mungkin ini bisa mengampuni sebagian nyawa kalian. Kalau kalian ingin tahu, mungkin setelah mengetahui alasanku datang kemari. Clarie, akan menghabisi nyawa kalian. Dendamnya yang sudah menumpuk dan dia sudah cukup bersabar untuk menunggu hari ini,"


Nic kemudian juga ikut pergi, dia tertawa sebentar mengingat apa yang akan terjadi pada orang-orang di depannya itu. Kematian. Yang sebentar lagi akan menyambut mereka dengan senang hati.


Nic juga ikut meninggalkan ruangan itu, dia akan menyusul Clarie.


"Jangan berbicara denganku untuk sementara waktu, kamu sangat menjengkelkan!" Nic berhenti setelah mendengar kalimat yang baru saja Clarie lontarkan kepada seseorang. Setelah suara langkah kaki yang terdengar semakin samar, Nic melanjutkan perjalanannya.


Dia sedikit terkejut melihat laki-laki yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya, Ben. Pipinya sedikit merah, itu adalah bekas tamparan. "Kamu baik-baik saja?" tanya Nic sedikit bersimpati.


"Apa urusanmu? Orang yang tiba-tiba datang membuat kekacauan. Kamu kan yang menghasut Renata? Jawab, sampai semua ini terjadi?! Sebenarnya apa yang kamu mau?!"


"Aku hanya datang untuk mengambil apa yang seharusnya kudapatkan, hanya itu dan tidak lebih. Lalu, aku juga melakukan kewajibanku saja. Tolong jangan membuat Clarie marah, dia bisa saja mencabut nyawamu. Begitu pula denganku, jangan sekali-kali membuatku marah," Nic menepuk bahu Ben beberapa kali dan meninggalkannya.


Seringai terukir di wajah Nic. "Hm, dasar orang-orang yang menyebalkan. Jangan pernah berani mengganggu atau merebut apa yang menjadi milikku,"

__ADS_1


__ADS_2