Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
51. Daisy Si Kecil Yang Nakal (2)


__ADS_3

Setelah sampai di dalam kamarnya, Clarie segera menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Setelah itu dia mulai tidur. Sedangkan Ben belum tidur, dia masih sibuk dengan Daisy. Yang ini lah, yang itu lah. Intinya repot, apalagi gadis itu sangat nakal.


"Paman Ben, Tante Clarie benar-benar sudah tidur?" tanya Daisy sambil mengunyah cemilan.


"Iya, Tante Clarie sudah tidur. Memang kenapa?"


"Daisy mau tidur bareng sama Tante,"


"Kan Daisy nggak boleh masuk ke kamar Tante Clarie," Daisy menundukkan kepalanya, bukan karena sedih. Otak kecilnya itu sedang mencari cara supaya dia bisa masuk ke kamar Clarie.


"Paman Ben! Bisa tolong bawakan tas yang diberi ibu tadi?" pinta Daisy. Ben mengangguk dan mengambil tas yang diberikan oleh Ester. Kemudian dia memberikannya ke Daisy. Gadis kecil itu mengobrak abrik tasnya, mengambil barang yang ada di dalam tas lalu dia lempar ke sembarang tempat.

__ADS_1


Tempat di sekitar mereka menjadi berantakan, baju, mainan, dan lain-lain milik Daisy berserakan. Ben tidak tahu apa yang keponakannya itu cari di dalam tasnya. Tapi rumahnya jadi berantakan. "Daisy, kalau cari barang jangan begitu caranya. Ambil sebagian kemudian letakkan di meja, jangan ambil lalu lempar ke sembarang tempat," ujar Ben sembari memunguti barang-barang Daisy.


"Baik Paman," Ben menggelengkan kepalanya, heran sekali dengan sikap anak kecil ini.


Daisy berhenti mengobrak abrik tasnya, benda yang dia cari sudah dia temukan. Apa itu? Sebuah kotak pensil. "Kamu hanya mencari kotak pensil saja? Paman kira kamu mencari barang yang berharga, seperti boneka,"


"Hanya? Paman tidak tahu apa yang ada di dalam kotak pensil ini. Jadi sebelum mengetahuinya jangan asal bicara. Paman tahu apa isinya selain alat tulis Daisy?" Ben mengangkat bahunya.


Daisy tersenyum meremehkan, lalu berkata, "Tuh kan, Paman ingat waktu Daisy pinjam kunci rumah ini?"


"Ehem, sebenarnya Daisy tidak hanya mengambil kunci rumah saja. Daisy juga mengambil kunci lainnya, semua kunci. Setelah itu Daisy pergi dan membuat kunci cadangan,"

__ADS_1


"Lalu...apa hubungannya dengan sekarang ini Daisy sayang? Apa kamu butuh kunci itu sekarang?"


"Tante Clarie pasti mengunci pintunya kan? Ya kan? Ya kan? Makanya Daisy cari ini untuk membuka pintunya! Paman Ben letakkan saja barang-barang Daisy di meja, sekarang ayo temani Daisy ke kamar Tante Clarie!"


Dengan mudah Daisy membuka pintu kamar Clarie yang dikunci, tentu berkat bantuan kunci cadangan yang gadis kecil itu buat. Lalu dengan gembira Daisy naik ke tempat tidur, dan berbaring di samping Clarie. "Paman Ben, ayo sini," bisik Daisy, tangan kecilnya menepuk-nepuk bagian tempat tidur yang masih longgar.


Ben menolaknya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana pagi harinya. "Haruskah Daisy minta ke Nenek Alee untuk mempercepat pernikahan kalian?"


"Untuk apa? Tante Clarie saja sudah tidak setuju dengan yang kemarin,"


"Daisy memang ingin tidur dengan Tante Clarie, tapi Daisy juga ingin tidur dengan Paman Ben,"

__ADS_1


"Tidak bisa Daisy," air muka Ben berubah seketika. Ekspresi itu, Daisy akan segera menangis. Gawat!! Kalau Daisy menangis, Clarie bisa bangun. Nah, kalau Clarie bangun, dia pasti marah kepada Ben lebih parah lagi. "Daisy, Daisy, tolong jangan menangis,"


"Terserah! Kalau Paman nggak ada di samping Daisy dalam waktu 5 detik...Daisy nangis nih. Satu...dua..." Daisy mulai menghitung.


__ADS_2