Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
63. Aku Kembali


__ADS_3

Daiys's POV


Suasana menjadi tidak tenang setelah tante Clarie pergi. Paman Ben yang terus mengurung diri di dalam kamarnya dan nenek Aleeza yang terus mendesak paman untuk segera menikah. Aku sangat setuju kalau paman menikah, tapi aku tidak akan merestuinya jika paman menikah dengan wanita itu.


Pagi-pagi sekali aku terbangun, di sampingku, paman Ben masih tertidur pulas. Ya, selama dua hari ini aku tidur bersama paman Ben. Supaya wanita itu tidak seenaknya masuk ke kamar paman.


Aku merasa kasihan saat paman terus didesak oleh nenek. Sifat aslinya yang perlahan muncul, dan disaksikan oleh orang yang ada di sana. Aku takut jika paman dicelakai seseorang di saat keadaannya seperti ini.


"Daisy, ternyata kamu sudah bangun ya?" aku tersenyum dan memeluknya, hitung-hitung sebagai tambahan semangat.


"Ya, dan harus. Aku tidak mau wanita itu mengganggu Paman. Apa Paman Ben sudah bisa menghubungi Tante?" dia menggeleng, wajahnya yang bersemangat mulai terlihat lesu lagi. "Coba lagi dan jangan menyerah Paman. Daisy tahu kalau Tante pasti akan kembali,"


"Iya-iya,"


"Daisy akan ke dapur mengambilkan minum untuk Paman Ben. Jangan halangi Daisy karena yang Daisy lakukan adalah untuk kebaikan Paman," paman mengangguk pasrah. Belakangan ini aku berperan seperti pelayan pribadi, membawakan makan dan minum, dan menemani paman Ben mengobrol. Melelahkan, tapi tak apa. Asal paman tidak bertatap muka dengan wanita menyebalkan itu.


"Selamat pagi Daisy sayang," suara ini, aku benar-benar ingin menyumpal mulutnya dengan lap meja. "Kamu sedang apa? Mau Tante bantu?"


"Diam, aku bisa sendiri. Dan satu lagi, kamu bukan Tanteku, dan tidak akan pernah! Selamanya!" gertakku. Hanya kata-kata ini saja yang bisa terucap, sebenarnya masih banyak kata yang ingin kukeluarkan. Namun sayangnya tidak bisa, nenek Aleeza ada di sini. Kalau aku mengumpat sedikit saja, aku bisa dipulangkan ke kedua orang tuaku.


"Tante tahu kalau Daisy belum bisa menerima Tante dengan lapang dada, tapi jangan gitu dong. Itu namanya nggak sopan,"

__ADS_1


"Cih, bodo amat mau sopan atau enggak. Terserah, intinya jangan dekati Paman Ben. Menyentuh kulitnya saja, akan kubuat kamu tidak bisa menggerakkan jari,"


"Ya ampun, Clarie ya yang ajarin kamu bicara pake gaya begini?" aku membuang muka dan bergegas kembali ke kamar paman. Bagaimana caranya supaya wanita itu pergi dari rumah ini? Dia liciknya minta ampun!


Daisy's POV end


......................


"Kami pulang!" ucap Clarie setelah menutup pintu rumah yang sangat familiar baginya. Wajah cerianya disambut dengan tampang datar dari Aleeza. "Halo Nenek, sudah lama tidak bertemu," sapa Clarie masih dengan wajah ceria.


Aleeza mengkerutkan dahinya, mendapat respon yang di luar dugaan. Ceria? Yang benar saja, seharusnya dia gugup. Dahinya semakin berkerut ketika mendapati Damian yang berada di samping Clarie. "Siapa bocah ini?" tanyanya.


"Siapa? Siapa lagi kalau bukan putraku, benar kan sayang?" Clarie menjawab dengan senyuman lagi. Seperti tak punya dosa, Clarie berjalan melewati Aleeza begitu saja.


Clarie berbalik. "Kalau begitu saya harus bawa anak yang dari mana?"


"Sudahlah Clarie, kamu sangat tidak patuh. Kemana saja kamu satu minggu ini?"


"Saya baru saja bermain bersama dengan teman, ada apa menanyakannya?"


Mendengar jawaban Clarie, Aleeza semakin geram. Memang penampilan belum tentu mencerminkan kepribadian. "Cepat mandi, sebentar lagi makan malam akan dimulai,"

__ADS_1


"Baik Nenek,"


Aleeza mendudukkan diri di sofa ruang tamu. Sembari memijit pelipisnya, dia mengatur deru napas. Apa selama ini Clarie hanya berpura-pura? Dan sekarang dia menunjukkan sifatnya yang asli? Hebat, sangat hebat sampai-sampai membuatnya naik darah dalan sekejap.


Saat makan malam, suasana terasa janggal. Tidak ada percakapan dan tak ada yang berniat membuka pembicaraan. Namun itu semua berubah saat Clarie dan Damian bergabung dengan mereka. "Selamat malam, kenapa suasanya begini? Tidak harmonis sekali," Clarie langsung dihadiahi tatapan tajam Aleeza.


"Loh, Nenek kenapa? Bukannya memang benar ya?" balas Clarie. Lalu dia berkata lagi, "Hai Alyta, ternyata kita bertemu lagi. Wah, aku tidak senang melihat mukamu," untuk kedua kalinya, Clarie mendapatkan tatapan tajam.


"Hahaha, Clarie seharusnya aku yang mengatakan hal itu. Mulutmu jadi semakin banyak bicara ya?"


"Habis liburan sih, jadinya aku benar-benar senang. Sayang sekali kamu nggak libur ya? Padahal cuacanya enak loh buat jalan-jalan,"


"Clarie, cukup, makan makananmu cepat," perintah Aleeza. Tersenyum, entah kenapa Clarie terus tersenyum bahkan disaat keadaan yang tidak mengenakkan ini.


Tidak ada percakapan lagi sampai masing-masing orang yang ada di ruangan tersebut selesai memakan sajian.


"Baiklah, karena kami sudah selesai makan malam. Kami akan ke kamar tidur, terima kasih hidangannya. Lalu, selamat menikmati suasana yang canggung ini," ucap Clarie, kemudian meninggalkan ruang makan bersama dengan Damian.


Ben, Aleeza, dan Alyta diam saja. Namun berbeda dengan Daisy, matanya menatap tajam ke arah anak laki-laki yang berjalan di samping Clarie.


......................

__ADS_1


Hayo, kenapa Daisy begitu yah? Adakah yang tau?


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel ini. Jangan lupa untuk dukungannya supaya saya lebih semangat menulis. Sampai jumpa di bab selanjutnya.😉


__ADS_2