
"Selamat pagi, pagi ini suasananya indah sekali ya?" ucap Alyta berbasa-basi dengan wajah cerah nan menjengkelkannya itu. Siapa saja, tolong jauhkan dia dariku. Melihat wajahnya saja membuatku kesal. "Selamat pagi Clarie," dia menyapaku dan aku tidak berniat untuk menanggapi sapaan itu. Suasana hatiku sudah buruk sekarang.
Terlebih lagi aku masih memikirkan Nic yang mengetahui nama asliku. Bagaimana dan dari siapa dia mengetahuinya? Bahkan aku sempat mencurigai putraku tersayang, Damian. Namun tidak ada untungnya bagi anak itu.
Hari ini aku berencana untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku di perusahaan Ben. Sudah cukup bermain tuan dan pelayan, kali ini aku resmi merdeka. Merdeka dari orang menyebalkan, merdeka dari pekerjaan yang mengikat, dan merdeka dari kengkangan. Sudah kuputuskan! Mulai detik ini juga aku akan mengambil langkah untuk membalaskan seluruh dendam yang ada pada diriku. Tidak lupa juga aku akan melaksanakan isi perjanjian yang pernah Ben dan aku sepakati. Dengan begitu aku tak mempunyai hutang.
Dan benar-benar bebas!!
"Clarie, bisa kamu ganti chanel TV-nya? Jangan tontonkan pemandangan mengerikan itu kepada anak di bawah umur," tegur nenek Ben. Cih, orang tua memang suka mengatur seenaknya. Dengan malas aku mengganti chanel TV. Dari yang satu, pindah ke yang lain. Namun sayang sekali, topik yang sedang panas sekarang adalah tentang pembunuhan. Ups nenek, tolong maafkan aku, orang asing ini.
"Tampaknya berita pembunuhan lebih menarik daripada berita yang lain, Nenek. Seperti, kerjasama antara L Group dan perusahaan keluarga Xiao?" sindirku. Aduh, mulut ini semakin lama semakin suka mengumpat dan menyindir orang lain. Mungkin saking lamanya aku berbincang dengan Oktaviana, jadinya ikut tertular.
Tentu suasana berubah menjadi tak mengenakkan. Dan tidak ada yang protes saat pembawa acara berbicara tentang korban-korban yang semakin banyak.
Damian yang sedari tadi hanya duduk manis mirip boneka tiba-tiba memeluk lenganku. "Ya Damian?" tanyaku.
"Ibu, ingat film yang itu kan?" tanyanya dengan mata berbinar. "Sebentar lagi akan dimulai!"
Ya benar! Film aksi! Segera aku memindah chanel dan tak lama kemudian film itu dimulai.
__ADS_1
"Clarie, apa kamu tahu film ini tidak boleh dipertontonkan kepada anak di bawah umur?" hah, nenek mulai lagi.
"Iya," jawabku singkat.
"Ganti, jangan biarkan Damian menontonnya,"
"Damian yang bilang sendiri ingin menonton film ini nenek," nenek pasti jantungmu akan berhenti mendadak saat tahu kalau dia pernah membunuh seseorang. Dia berbeda denganmu dan anak, serta cucumu yang hidup dalam limpahan harta dan kasih sayang.
"Damian sayang, tolong turuti ucapan Nenek ya. Film ini belum boleh kamu tonton," dan sekarang Alyta mulai bergabung.
Tapi maaf saja, kata-kata Alyta itu tak akan mempan. Damian terus menonton film yang sedang ditayangkan dan tidak menanggapi. Alyta terus mengoceh ini itu, oh dan jangan lupa tangannya itu merangkul bahu putraku. Hish, dia itu.
Aku menyempatkan diri melirik ke arah nenek, wajahnya super duper terkejut. Aku tebak karena dia baru saja mendengar gaya bicara Damian. Ini pertama kalinya Damian berbicara agak formal, sebenarnya sih dia jarang sekali bicara, kecuali kepadaku.
"Nenek, silahkan pilih acara TV yang Anda suka," kataku sambil menyerahkan remote TV lalu menyusul Damian. Tepat seperti yang kuduga, anak itu sedang duduk santai di atas kasur sembari mendengarkan musik lewat earphone yang terpasang ditelinganya.
Sibuk dengan ponsel? Itu tidak membuatku bosan. Jika ada yang datang? Itu jelas berkesan mengganggu, mirip seperti situasiku saat ini.
Pintu kubuka dan menampilkan sesosok pria yang sangat memengaruhi kehidupanku. Ben. Wajahnya tampak lesu dari hari kemarin. "Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya. Kemudian aku mempersilahkannya masuk sebagai jawaban.
__ADS_1
Pria itu duduk di kursi dan matanya terus terfokus pada sepucuk surat yang ada di sela-sela jariku. Yups, ini adalah surat pengunduran diri. "Tolong terima surat dariku,"
Ben menerimanya dengan ragu-ragu. "Apa ini surat pengunduran diri?" aku mengangguk. "Rupanya kamu berniat meninggalkanku ya?"
"Benar, lagipula setelah tidak membutuhkanku, kemungkinan besar aku akan dibuang," Ben terkejut dengan tanggapan yang kuberikan, cepat-cepat dia mengendalikan ekspresinya.
"Clarie, aku ingin menjelaskan secara singkat tentang pertunanganku yang mendadak itu," Ben mengambil jeda sesaat. Mungkin dia mengharapkan ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Tapi aku harus mengatakan apa? Perasaanku saja masih kacau begini. "Renata yang menjadi penyebabnya, dan ternyata Alyta adalah kakak dari salah satu temannya,"
"Lalu?"
"Memangnya kamu tidak kesal?"
Heh dasar dia ini. "Kenapa harus kesal kalau korbannya saja diam seperti boneka? Memangnya aku siapamu sampai harus menangani masalah pribadi?" Ben menundukkan kepalanya, keadaannya tampak buruk. Tapi sih tidak akan memengaruhi diriku, karena dia masih ada di dalam daftar orang-orang yang ingin kuhancurkan. Satu kali tertulis maka tidak dapat dihapus.
"Aku dengar dari Leon, kalian berdua sedang tidak akur ya?"
"Bukan urusanmu, tapi sejak kapan kalian dekat lagi? Jangan bilang ada kaitannya dengan Renata,"
"Hm, sedikit karena Leon itu mempunyai hubungan dengan Dean. Mereka teman seapartemen," sunyi sejenak. "Apa kamu tidaj ada niatan untuk menjenguk kedua orang tuamu?"
__ADS_1
Semakin lama topiknya semakin menjengkelkan saja. "Baiklah kalau kamu memaksa. Damian, nanti kamu ikut ibu ke rumah sakit ya, kita mau menjenguk Kakek dan Nenek,"