
Orang pertama yang ditemui oleh Clarie, Ben, dan Daisy adalah para pelayan. Mereka terlambat tiga menit, tapi itu bukan masalah, itu adalah keuntungan. Dulu Renata pasti datang terlambat dan menyita perhatian semua orang. Sekarang Clarie akan mencobanya, dan jika itu berhasil maka bisa dianggap sebagai salah satu dari pembalasannya.
"Tidak apa-apa meski datang terlambat?"
"Tidak apa-apa Ben, santai saja. Mereka tidak akan menyiksa kamu kok, kan mereka tidak berani," jawab Clarie.
Tapi sedari tadi dirinya merasa sedikit aneh, mungkin tatapan dari para bibi pelayan yang ada di belakang mereka. Punggung Clarie benar-benar merinding. "Ben, apa ada yang salah dengan diriku? Kenapa mereka menatapku seperti itu?" bisiknya. Ben menengok ke belakang.
Dia tersenyum. "Bukankah mereka mengira kita tambah dekat?"
"Mereka mengira Paman dan Bibi sudah jadi sepasang kekasih, benar kan Paman Ben? Daisy benar kan?"
"Dasar bocah setan, sekali lagi bicara sembarangan pipi kamu akan kucubit loh," ancam Clarie. Daisy memang suka bicara sembarangan seperti sekarang.
__ADS_1
"Memangnya Tante Clarie nggak suka Paman Ben? Pamanku kan ganteng, kaya lagi. Siapa sih yang nggak mau?" balas Daisy.
"Sstt, berhenti bicara,"
Cara yang digunakan Renata memang sangat manjur. Saat Clarie, Ben, dan Daisy mendekat semua tatapan mengarah ke mereka. Selamat menikmati hari yang buruk Renata. "Selamat siang, maaf kami terlambat ada beberapa kendala tadi," ucap Clarie.
Clarie memandang orang-orang yang ada di sana. Mama dan papanya menatap tidak percaya, mungkin mereka berpikir Clarie tidak akan menerima undangan mereka. Paman dan bibinya menatapnya dengan tatapan yang gembira dan tidak suka. Gembira karena melihat dirinya, dan tidak suka karena ada Ben dan keponakannya di samping.
Sedangkan Renata, dia tersenyum. Tapi itu senyum palsu tentunya. Dan Dean, dia malah memalingkan wajahnya. "Ayo duduk, untung kami baru saja mengobrol dan belum memulai makan siangnya," pinta Renata.
"Sayang, kamu mau sayap ayam lagi?" tawar Clarie ke Daisy. Bibi Clarie yang di sebelahnya mendadak menoleh.
"Kenapa tidak Tante saja yang menambah? Bukannya Tante lebih membutuhkannya,"
__ADS_1
"Anak kecil lebih aktif sayang, kamu kan masih kecil,"
"Oh Clarie, kamu benar-benar berubah sayang. Kamu jadi lebih cerewet," komentar bibinya.
"Haha, benarkah Bibi? Oh iya Renata, ini ada hadiah dariku. Semoga kamu suka ya," Clarie meletakkan kotak kado kecil di sebelah piring Renata. Renata mengambilnya lalu menggoyang-goyangkan kotak itu di sebelah telinganya.
"Ini isinya apa Kak?"
"Alat tes kehamilan, siapa tahu ada makhluk kecil di dalam perutmu. Iya kan Dean?"
"Ti...tidak kok, kami masih belum. La...lagipula kami tidak terburu-buru untuk segera mempunyai seorang bayi,"
"Begitukah? Tapi aku tidak percaya, bukannya kalian pasti sudah melakukannya kan? Ayolah, kalian pasangan yang saling mencintai, aku tidak percaya," hati Clarie sangat gembira. Lihat muka-muka yang pucat itu! Mereka sedang tersudut.
__ADS_1
Ya, Renata dan Dean tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk menjawab atau menanggapi Clarie. Karena di kenyataannya pernikahan mereka itu hanya diinginkan satu pihak, yaitu Renata. "Uhm, Kak Clarie akan menginap kan? Paman dan Bibi juga akan menginap di sini," Renata mengalihkan pembicaraan, di dalam hati dia bersumpah akan membalasnya nanti malam.
"Aku akan menginap kalau Ben dan keponakannya diperbolehkan menginap juga. Jika kalian tidak menerimanya, aku tidak akan menginap,"