Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
50. Daisy Si Kecil Yang Nakal (1)


__ADS_3

Setelah pertengkaran kemarin, hubungan Clarie dan Ben memburuk. Dan sekarang hubungan mereka bertambah lebih buruk lagi. Aleeza memaksa Clarie untuk kembali tinggal di rumah Ben, tapi kali ini tidak ada Martin, Deo, Lena, ataupun Diena. Hanya ada Clarie dan Ben saja. Aleeza ingin Ben dan Clarie lebih dekat lagi.


Ini malam pertama mereka berada di dalam satu rumah, dan hanya ada mereka di dalamnya. Sungguh, suasananya bisa seperti kutub yang dingin dan seperti di lava yang panas.


"Hei sialan, bilang ke Nenek tua itu kalau kita tidak akan melakukan hal konyol itu," ucap Clarie. Untuk saat ini di suasana hati yang sangat buruk, mulutnya tidak akan segan segan untuk mengumpat, memanggil orang dengan umpatan, atau membuat keributan. Toh sudah tidak ada yang mengengkangnya, kecuali dengan keputusan konyol yang dikatakan oleh Si Nenek Tua Aleeza.


Untuk yang kesekian kalinya Ben mengkerutkan dahinya, telinganya tidak terbiasa dengan panggilan barunya. "Aku tidak bisa membantah apa yang diputuskan oleh keluargaku, Clarie. Aku tidak bisa," balasnya.


"Oh oh oh, poor Ben. Bagaimana bisa kamu mengajak seseorang untuk meninggalkan keluarganya sedangkan kamu sendiri tidak bisa membantah keputusan dari keluarga. Atau jangan-jangan kamu tidak bisa membunuh orang, maka dari itu kamu memintaku untuk melakukannya? Dan aku melakukan itu tanpa dibayar? Ayolah," cerca Clarie.

__ADS_1


Clarie terus menerus mengoceh, dan umpatan tidak pernah lupa dilontarkan mulutnya. Gadis itu berhenti mengoceh saat bel rumah berbunyi. "Sial, siapa sih yang datang malam-malam begini?! Mengganggu orang sedang mengumpat saja,"


Dengan hati yang berat dan bercampur aduk, Clarie membukakan pintu untuk tamu yang datang malam malam begini. "Tante Clarie!!!" sorak seorang gadis kecil, namanya Daisy. Dia adalah putrinya Ester.


Sial, bocah nakal ini lagi, keluh Calrie dalam hati. Bocah nakal?? Clarie rasa itu kurang cocok, seharusnya lebih berkesan jelek. Wajah datar Clarie tidak mampu memudarkan kegembiraan Daisy. "Ada apa ke sini malam malam? Ingin mengecek aku dan Ben huh?" tanya Clarie dengan nada tidak bersahabat.


"Hei hei, kok marah sih?" Ester menertawai wajah Clarie yang datar. Penderitaan terlihat jelas dari sorot matanya. "Ok ok, jangan marah lagi. Ehm, aku hanya ingin menitipkan putriku, Daisy ke kalian. Tolong ya, hanya beberapa hari saja," lanjutnya.


"Kamu tidak bilang kalau Kak Ester yang datang?"

__ADS_1


"Ck, memang aku harus melakukannya begitu?"


"Kamu juga tidak mempersilahkannya masuk?"


"Haruskah? Dia saja tidak protes tuh," Ester menggeleng-gelengkan kepalanya, suasananya tidak bagus.


"Paman Ben, Paman Ben, Daisy boleh menginap di sini kan? Boleh kan? Beberapa hari saja! Ayah dan ibu akan ke luar kota, tapi Daisy masih betah di sini," ucap Daisy, dia mengalihkan perhatian Ben kepada dirinya. Pertengakaran tidak baik untuk calon pasangan.


Ben tersenyum lalu berkata, "Iya boleh,"

__ADS_1


Mendengar jawaban itu, Clarie berdecak kesal. Daisy adalah penyebab dipercepatnya hari pernikahan. Alasan bodoh yang diucapkan dari mulut anak kecil itu mampu memengaruhi orang-orang dewasa, hebat sekali. "Sana urus si anak setan, aku mau tidur. Jangan ganggu aku Ben, dan kamu! Jangan coba-coba masuk ke dalam kamarku,"


__ADS_2