
Dengan malas Clarie masuk ke apartemennya, lima hari yang lalu dia dipindahkan ke sini oleh Ben. Tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu luas, untuknya ini cukup. Ben sudah menunggu kepulangannya sedari tadi, dia duduk di sofa sambil memandangi laptop yang ada di hadapannya.
"Sudah menunggu lama?" tanya Clarie.
"Sudah, sangat lama. Hari ini berkencan lagi dengan Leon?" Ben bertanya balik, nadanya terdengar tidak suka. Sangat jelas.
"Dia temanku Ben, bukan kekasih. Lagipula aku juga tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis,"
Ben tersenyum simpul mendengar jawaban yang Clarie berikan, gadis itu tidak pernah berubah. Seiring berjalannya waktu, Clarie semakin datar, tidak punya perasaan, dan pendiam. Tidak ada yang bisa menebak apa yang terjadi dengan gadis itu, apa yang menyebabkannya menjadi bongkahan es.
__ADS_1
Ben mengikuti Clarie ke dalam kamarnya. Ben tidak bisa melihat wajah itu terus datar, dia ingin melihat Clarie tertawa dan tersipu seperti pertemuan yang sebelumnya. Tidak disangka kalau itu hanya sifat yang palsu, sifat yang digunakan untuk menutupi sifatnya yang asli. Semakin hari, semakin sifat Ckarie yang sebenarnya mulai terlihat, cuek, dingin, tidak peduli dengan orang sekitar, dan keras kepala.
"Kenapa mengikutiku sampai ke dalam kamar Ben? Apa yang ingin kamu lakukan ha?" tanya Clarie dengan lantang. Dia tidak pernah suka orang yang mengikutinya ke manapun dia pergi.
Dan satu lagi yang tertinggal, mudah curiga walau orang itu sudah termasuk dekat dengannya. Semua sifat itu semakin membuat Ben susah mendekatinya, padahal diawal Clarie sangat mudah untuk didekati.
"Oh, kukira kamu ingin bercerita sedikit tentang hari ini. Mungkin kamu tertekan atau kamu sedih atau mungkin kamu sedang senang?"
"Baiklah, aku akan memberimu...ruang untuk diri sendiri. Kalau begitu aku pulang, besok aku bertemu dengan walikota. Tolong pergi bersama denganku," Ben meninggalkan apartemen itu dan menyisakan Clarie seorang diri dalam kesepian dan kesendirian. Apa selama ini dia terlalu mengengkangnya? Terlalu mengaturnya? Terlalu mengikatnya dengan aturan yang dia buat?
__ADS_1
......................
Tanpa Clarie sadari, selama dia mengikuti perintah Ben, dia menjadi monster, dia membunuh orang yang akan menjadi ancaman bagi Ben. Entah ada angin apa yang ada di sekitarnya, membuatnya terjebak dalam ruang transparan yang tidak memiliki celah. Diperintah seperti seorang budak, dikurung dalam kandang seperti singa sirkus.
Kapan Ben akan merencanakan balas dendam untuknya? Kapan Ben akan melakukan itu? Pertanyaan yang tidak pernah terjawab sampai sekarang, pertanyaan yang mungkin saja tidak akan pernah terjawab.
"Selamat pagi Kak, hari ini Kakak mau ke mana? Kencan dengan laki-laki yang kemarin datang ke sini ya?" Clarie menengok ke arah gadis remaja di sebelahnya. Gadis itu sedang merapikan poninya yang sedikit berantakan.
Dia adalah tetangganya, gadis itu tinggal di kamar sebelah bersama dengan ayah dan ibunya.
__ADS_1
Kencan? Yang benar saja, itu tidak penting bagi Clarie karena dia tidak tertarik dengan hubungan seperti itu, tidak sama sekali. "Kamu mau sekolah kan? Kenapa dandan terus?"
"Ya biar dong Kak, biar cantik. Nah Kak Clarie malah terlihat mau terjun ke medan perang,"