Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Lupakan Sabrina, dan Terima Aku Sebagai Istrimu


__ADS_3

Sesaat, Sean menikmati aroma parfum yang menggelitik indera penciumannya. Lily of the valley adalah satu dari sekian banyaknya parfum di muka bumi ini yang dipilih Sabrina untuk mewakili kepribadiannya yang terkenal begitu feminin dan keibuan. Aroma parfum yang manis, mengingatkan kita pada wangi bunga melati tetapi dalam penampilan subtil dan hijau serta tak memuakkan saat tengah dihirup oleh seseorang.


Sean memejamkan mata sambil membayangkan mendiang istrinya yang tengah memeluk dirinya dari belakang. Pria itu semakin terbuai kala jemari lentik Karin mengusap dadanya yang bidang dibungkus kemeja slim fit.


Perlahan, jemari mungil nan panjang wanita itu bergerak turun ke bawah menuju enam kotak otot liat seperti roti sobek. Ia bermain-main di sana. Mengelus, mengusap sambil memberikan sedikit rangs*ng*n di dada dan bagian perut sang suami.


Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Karin. Wanita itu pun turut memberikan rangs*ng*n pada area leher suaminya sambil berucap dengan sedikit mendesaah, "Aku ingin malam ini kita menghabiskan malam bersama, Sean. Kamu dan aku berbagi kehangatan di atas ranjang yang sama. Kita berdua saling memuaskan satu sama lain hingga menuju puncak kenikmatan yang belum pernah dirasakan selama ini." Mengakhiri kalimat dengan meniupkan angin di telinga sang suami.


Seluruh tubuh Sean meremang saat area sensitif pria itu disentuh oleh seorang wanita. Selama lima tahun, ia tak pernah sekalipun melampiaskan hasraatnya pada Karin walau di antara mereka telah terjalin ikatan suci pernikahan yang sah di mata agama dan negara. Sean lebih baik memendam keinginan itu daripada menabur benih di dalam rahim istrinya. Meski tak jarang, hasraat untuk bercinta menguasai dirinya kala jiwa kelelakiannya tengah mengebu-gebu maka alternatif terakhir yaitu, bermain solo tanpa harus menjamah wanita yang tak pernah dicintai olehnya.


Jadi jangan heran bila saat ini singa imut dalam diri Sean telah bangkit, dan memberontak ingin segera mencapai puncak kenikmatan yang belum pernah ia rasakan selama lima tahun lamanya. Ia lelaki normal yang butuh pelampiasan. Namun, apakah pria itu bersedia menebarkan benih kepada wanita pilih Anita? Wanita yang tak pernah dicintainya selama ini. Entahlah, hanya waktu yang 'kan menjawab semuanya.


Jemari tangan Karin masih bergerilya ke sana kemari. Hingga tanpa sadar, dua buah kancing kemeja bagian atas milik Sean telah terbuka hingga mempertontonkan bulu-bulu halus di area sekitar dada.


Seluruh tubuh Karin ikut panas dingin, ketika permukaan kulitnya menyentuh bulu-bulu halus itu. Andai saja lampu kamar menyala, kita bisa melihat kabut gairaah dalam diri wanita itu.


'Oh my ghos! Tubuh pria ini begitu seksi hingga membuatku tidak sabar ingin segera melakukan penyatuan dengannya. Aku yakin, permainan ranjang Sean lebih ganas dibandingkan pria itu. Sean pasti membawaku menuju puncak kenikmatan berkali-kali ketika kami bergumul nanti,' batin Karin. Otak wanita itu sudah dipenuhi oleh pikiran-pikiran me$um hingga membuatnya tak dapat berpikir jernih.

__ADS_1


Lantas, ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti beberapa saat. Mulai mencopot kancing kemeja pria itu hingga bagian atas tubuh sang CEO tanpa ada helai kain yang menutupi.


Akan tetapi, saat telapak tangan lembut Karin menyentuh sesuatu yang masih terbungkus celana bahan, tiba-tiba saja Sean tersadar dan segera menepis tangan itu dengan kasar.


"Jangan sentuh tubuhku dengan tanganmu itu, Karin!" teriak Sean. Ia sangat yakin kalau wanita yang tengah menggodanya itu adalah istrinya sendiri. Meskipun tak dapat melihat dengan jelas karena ruangan itu dalam keadaan gelap gulita tanpa ada cahaya menerangi sama sekali, tetapi nalurinya mengatakan jika wanita di belakangnya adalah Karin.


Mendengar suara teriakan Sean yang begitu menggelegar, membuat Karin tersentak kaget seolah sedang mendengar suara gemuruh petir berhenti tepat di hadapannya. Ia membeku seakan tubuhnya tak dapat bergerak sama sekali.


Menyadari tak ada pergerakan dari Karin, Sean bergegas mencari saklar dan menekan tombol berbentuk kotak itu. Maka ... saat itu juga ruangan kembali terang benderang seperti sedia kala.


Dengan mata kepalanya sendiri, Sean dapat melihat penampilan istri pilihan sang mama. Mengenakan gaun malam transparan yang mempertontonkan dua aset berharga dengan bagian puncak berwarna merah muda membuat wanita itu terlihat begitu menggoda iman. Bagian bawah terbungkus kain berbentuk segi tiga dengan warna senada. Kulit putih, mulus, tanpa ada cela sedikit pun.


"Mau apa kamu ke kamarku, heh! Bukankah sudah kuperingatkan untuk tidak mencoba menyentuh tubuhku, lalu kenapa malam ini kamu nekad melakukannya!" bentak Sean dengan menaikkan nada bicaranya. Ia geram karena Karin telah melanggar larangan yang pernah diucapkan kepada wanita itu.


Karin yang telah sadar sepenuhnya menghunuskan tatapan tajam ke arah Sean sambil berkata, "Memangnya kenapa aku tidak boleh menyentuhmu? Aku ini istrimu, dan kamu adalah suamiku. Kita bebas melakukan apa pun karena tanpa takut dipergoki oleh orang lain!"


"Sudah lima tahun Sean, kamu tak memberikan nafkah kepadaku. Selama ini aku diam, mencoba mengerti kamu. Namun, untuk malam ini aku tak bisa menahannya lagi. Aku ... ingin meminta hakku sebagai seorang istri!" sembur Karin tak kalah emosi. Ia merasa terhina telah ditolak secara kasar oleh suaminya sendiri. Sedangkan di luar rumah, dirinya begitu dipuja dan sangat didambakan oleh kekasih gelapnya, bernama mister White.

__ADS_1


Sean mendengkus kesal sambil merapikan kemeja yang nyaris terlepas dari tubuhnya. "Cih! Jangan mimpi kamu bisa memiliki tubuhku seutuhnya Karin, sebab sampai kapan pun kamu tak bisa menggantikan posisi Sabrina di hatiku!"


Selalu mendengar nama Sabrina disebut, Karin semakin emosi. Telapak tangan wanita itu mengeras hingga memperlihatkan buku-buku kuku. "Kenapa kamu selalu menyebut orang yang sudah mati sih! Memangnya dengan cara seperti itu kamu dapat menghidupkan dia kembali!"


"Tidak, Sean. Selamanya, istrimu itu tetap mati terkubur di bawah gundukan tanah merah dan tak 'kan kembali lagi ke rumah ini."


Karin sudah tak lagi dapat membendung emosi dalam diri. Ingi rasanya ia berteriak, membalas semua penghinaan yang ditujukan kepadanya. Namun, ia kembali teringat kesepakatan bersama mister White.


Menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan sambil memejamkan mata sejenak. Mencoba mengendalikan diri agar tak kehilangan kendali dan malah terjadi perang dunia ketiga di antara mereka. Setelah dapat mengendalikan emosi, ia membuka kelopak mata dan mencoba tersenyum hangat kepada Sean.


Berjalan dengan sangat anggun. Berlenggak lenggok layaknya seorang pragawati yang tengah memperagakan busana milik desainer terkenal di atas run away. Mengibaskan rambutnya yang panjang dengan gerakan slow motion. "Daripada kamu terus memikirkan Sabrina, lebih baik bersenang-senanglah denganku. Lupakan wanita itu, dan coba buka hatimu untukku. Terima aku sebagai pengganti istrimu."


"Aku jamin, setelah kita bergumul di atas ranjang yang sama, kamu dapat melupakan Sabrina untuk selamanya. Jadi ... mari kita nikmati malam ini bersama, memadu kasih layaknya pasangan suami istri yang sesungguhnya," ucap Karin lembut. Ia ulurkan tangan ke depan, menangkup wajah tampan Sean dengan tatapan menggoda.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2