Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Menjadi Ibu di Usia Muda


__ADS_3

Satu bulan berlalu setelah kehadiran Clarissa di perusahaan Anderson Grup. Wanita itu bekerja dengan baik hingga segala urusan pekerjaan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Nona muda Smith dapat membuktikan kepada semua orang bahwa dia bergabung di perusahaan tersebut bukan hanya modal tampang cantik tetapi juga skill dan kepintaran sangat dibutuhkan agar dapat bersanding dengan Sean.


Hari senin telah tiba, hari di mana sebagian orang tidak menyukainya. Akan tetapi, tidak bagi Clarissa, wanita cantik itu selalu bersemangat setiap kali menjalankan rutinitasnya sebagai seorang sekretaris. Sejak kecil, memang inilah cita-cita yang diimpikannya. Namun, impian wanita itu harus kandas saat sebuah kecelakaan merengut masa depannya dan ia harus menjadi ibu di usianya yang masih delapan belas tahun.


Flash back on


Malam itu, Clarissa remaja datang ke kediaman teman sekelasnya yang bernama Karmila. Ia diundang untuk menghadiri sebuah acara pesta ulang tahun Karmila yang ke-17 tahun. Tanpa ada rasa curiga, gadis kutu buku berpenampilan mirip Betty La Fea melangkah masuk ke sebuah mansion mewah di kawasan Puncak, Bogor.


Kacamata tebal, poni yang menutupi seluruh bagian kening serta bagian gigi dikawat adalah penampilan Clarissa zaman dulu. Lebih tepatnya, lima tahun yang lalu. Ya ... Clarissa yang dulu tidaklah secantik yang sekarang ini. Dia adalah gadis cupu, berpenampilan tidak menarik dan mempunyai kepribadian introvert sehingga sulit bergaul dengan orang lain. Pun tak ada lelaki yang ingin menjadikannya sebagai seorang kekasih.


"Selamat ulang tahun, Karmila. Semoga panjang umur dan segala impian yang kamu cita-citakan dapat terkabul," ujar Clarissa sambil menyerahkan sebuah kado ke depan teman sekelasnya. Gadis itu tersenyum ramah hingga memperlihatkan deretan gigi yang dikawat.


Ingin rasanya Karmila tertawa terbahak kala melihat deretan gigi Clarissa seperti rumah yang dipagari. Meskipun teman sekelasnya itu mengenakan pakaian branded tetap saja terlihat norak dan menarik sedikit pun.


"Terima kasih, Jeni, karena kamu sudah mau meluangkan sedikit waktumu untuk hadir dalam pesta ulang tahunku," ucap Karmila sambil menggigit bibir bagian bawah. Perut terasa geli seperti digelitik oleh tangan tak kasat, tetapi ia mencoba bersikap ramah di hadapan para tamu undangan.


Saudara sepupu Karmila menginterupsi pembicaraan. "Ayo, Jeni, silakan dinikmati pestanya. Kamu boleh menikmati semua minuman serta kue yang ada di sini sampai puas. Jangan sungkan untuk meminta tambah kepada pelayan."


Clarissa atau yang biasa dipanggil Jeni saat masih remaja tersenyum lebar dengan wajah sumringah. Ia memang sangat menyukai makanan manis sehingga ketika saudara sepupu Karina mempersilakannya menikmati semua hidangan yang ada, bola mata gadis berbinar bahagia bagaikan gemerlap bintang di atas awan.


Dengan antusias Clarissa menjawab, "Tentu, Kak! Aku tidak akan sungkan." Ia berikan senyuman termanis yang dimiliki kepada saudara sepupu Karmila.


Pesta berlangsung sangat meriah. Para tamu undangan yang kebanyakan merupakan teman sekolah Karmila larut dalam suasana pesta. Malam itu, mansion mewah milik orang tua Karmila begitu ramai akan suara gelak tawa para anak remaja.


Tepat pukul delapan malam, acara inti pun dimulai. Seluruh tamu undangan beserta kedua orang tua serta sepupu Karmila diminta berkumpul di depan meja bundar. Di atas meja kayu tersebut terdapat kue ulang tahun berbentuk silinder dengan tinggi sekitar 10 cm dan diameter 15 cm. Kue itu dilapisi krim strawberi berwarna merah menyala, tampak begitu menggiurkan.


Mama Karmila menyalakan dua buah lilin berbentuk angka satu dan tujuh, yang melambangkan usia sang anak. "Ayo, kita nyanyikan lagu 'Happy Birthday to You' untuk Karmila!" ucap wanita cantik bergaun violet, meminta para tamu undangan menyanyikan lagu khusus untuk sang empunya hajat. Kemudian riuh tepuk tangan para tamu undangan terdengar diiringi nyanyian selamat ulang tahun dalam bahasa Inggris.


"Sebelum ditiup, make a wish dulu, Sayang!" seru papa Karmila.

__ADS_1


Pandangan mata Karmila menatap wajah beberapa tamu undangan termasuk Clarissa remaja yang berada di hadapannya. Ia tersenyum bahagia karena genap usia tujuh belas tahun, papa, mama serta kakak sepupunya bisa hadir dalam pesta ulang tahun yang ke-17 atau sweet seventeen.


Gadis itu memejamkan mata, mengucap doa di dalam hati. Berharap semoga Tuhan dapat mengabulkan keinginannya yaitu, selalu menjadi primadona di mana pun berada.


Usai merapalkan doa, Karmila membuka mata, menemukan tatapan mata semua orang tertuju kepadanya. Senyuman manis masih terlukis di wajah cantik wanita itu.


"Kita hitung mundur bersama-sama. Tiga ... dua ... satu ...." Sepupu Karmila memandu semua orang untuk berhitung dan tepat di hitungan ke satu, lilin itu pada padam. Kepulan asap tipis menguar di udara.


"Dik, potongan kue pertama akan kamu berikan kepada siapa?" tanya sepupu Karmila.


Tanpa berpikir terlalu lama, Karmila menjawab, "Tentu saja untuk Papa dan Mama-ku, Kak, karena mereka begitu baik kepadaku."


Karmila menyodorkan satu buah paper plate berisi potongan kue ulang tahun kepada kedua orang tuanya. "Kue ini kuberikan khusus untuk orang tuaku. I love you, Mama dan Papa." Ia kecup sebelah pipi pasangan suami istri di sebelahnya.


Acara inti telah usai dan para tamu dipersilakan kembali menyantap hidangan yang telah disediakan. Dari sekian banyaknya tamu, Karmila beserta sepupunya begitu tertarik kepada Clarissa, gadis cupu yang tengah duduk sendirian sambil menikmati cake.


Pelayan pria itu menganggukan kepala. "Sudah, Nona. Sesuai rencana Anda."


"Ya sudah, kamu boleh kembali bekerja! Ingat, jangan sampai rahasia ini bocor dan diketahui orang lain!" ancam Karmila. Ikut menimpali.


Karmila dan sepupunya melangkah mendekati Clarissa. Sepupu Clarissa duduk di sebelah gadis itu sedangkan Karmila berdiri di samping teman sekelasnya.


"Jen, sedari tadi kamu makan terus, apa tidak haus?" celetuk Karmila.


Clarissa lugu yang tengah asyik menyantap cake tersenyum lebar sembari berkata, "Sebetulnya aku kehausan. Hanya saja cake ini terlalu enak hingga membuatku lupa akan dahaga yang menyelimuti diri."


"Kebetulam sekali. Aku membawa minuman dingin. Awalnya hendak kuberikan kepada Karmila, tetapi rupanya dia tidak menyukainya. Kalau kamu mau, ini, ambillah!" Sepupu Karmila menyodorkan gelas minuman ke depan Clarissa.


Tanpa menaruh curiga, Clarissa meraih gelas pemberian sepupu Karmila. "Terima kasih, Kak Rin!" ucapnya. Lantas, ia menyesap minuman itu secara perlahan hingga habis tak bersisa. "Rasanya enak sekali. Memangnya, ini minuman apa?"

__ADS_1


"Oh ... itu hanya minuman dingin biasa yang dijual di super market. Sini, aku bantu kamu menaruh gelas kosong ini di tempatnya." Karmila merebut gelas kosong dari tangan Clarissa.


"Ya sudah, Jen, aku dan Karmila pergi dulu. Selamat menikmati pestanya."


Tak berselang lama, Clarissa merasakan ada yang aneh dalam tubuhnya. Ia merasa gerah disertai kepala pusing dan pandangan mata kabur. Saat ini, putri tunggal pemilik kebun jagung di daerah Jawa Barat tengah mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah karena kepanasan.


Karmila dan sepupunya menatap penuh benci pada Clarissa. Mereka tersenyum jahat kala melihat gadis cupu itu bergerak seperti cacing kepanasan.


"Tampaknya, rencana kita berhasil. Selangkah lagi reputasi teman sekelasmu hancur. Dia akan di DO karena telah mencoreng nama baik sekolah. Setelah itu, kamu tidak punya saingan lagi di sekolah dan aku akan menggunakan kesempatan itu untuk mengeruk harta kekayaan Papa-nya Jeni."


"Kakak benar. Beruntung aku menyetujui usulan Kakak. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampui," jawab Karmila.


Flash back off


"Nona Clarissa, apakah kamu telah menyiapkan dokumen yang diminta oleh Tuan Sean kemarin?" Asisten pribadi Sean duduk di seberang sang sekretaris.


Clarissa melirik sekilas ke arah Ibrahim, tangan wanita itu sibuk menari indah di atas keyboard. "Anda tenang saja, Tuan Ibrahim. Berkas itu sudah saya siapkan di atas meja Tuan Sean. Jadi, beliau bisa segera menandatanganinya setelah tiba di ruangan."


Ibrahim berdecak kagum atas kegesitan rekan kerjanya. "Wuih, Nona Clarissa hebat sekali! Memang tidak salah menjadikan Nona sebagai sekretaris pribadi Tuan Sean. Kamu ... memang pantas berdampingan dengan si Bos! Mantap!" Kedua ibu jari pria itu terangkat ke udara.


Clarissa terkekeh pelan sambil berkata, "Terima kasih atas pujian Tuan. Tapi ... jangan terlalu sering memuji, sebab saya tidak mau besar kepala dan menjadikan diri ini sombong."


Tak ingin bertengkar, Ibrahim menjawab, "Baiklah, kalau itu yang Nona mau maka saya siap mengabulkannya."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2