Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Aroma Parfum Seseorang


__ADS_3

"Mommy," panggil Xena lirih. Saat ini, ia sedang duduk bersama Clarissa, menunggu Sean yang tengah menerima telepon penting dari salah satu klien.


"Iya, Sayang, kenapa?" tanya Clarissa lembut.


Tinggi badan yang terpaut jauh membuat Xena harus mendongakkan kepala ketika berbicara dengan Clarissa. "Mommy, aku lapar ingin makan di sana." Jari telunjuk mengarah pada salah satu restoran cepat saji yang terkenal akan kelezatan dari setiap gigitan ayam goreng crispy.


Jemari tangan membenarkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Xena. "Kamu mau makan siang di sana?" Xena menganggukan kepala sebagai jawaban. "Ya sudah kalau begitu, ayo jalan. Nanti Mommy minta Daddy menyusul."


"Imelda, kalau Tuan Sean sudah selesai menelepon, tolong sampaikan kepadanya kami makan di sana. Lalu, minta dia menyusul," pesan Clarissa kepada baby sitter Xena.


Clarissa dan Xena melangkah bersama menuju restoran, meninggalkan tempatnya semula. Sengaja tak menunggu Sean, sebab tak mau membuat Xena menahan lapar terlalu lama. Kalau sampai terjadi, dia khawatir anak suaminya itu mengalami mengamuk dan menangis kencang di tempat umum.


"Makannya pelan-pelan, Sayang. Tidak akan ada yang merebut paha goreng kesukaanmu." Clarissa mencoba mengingatkan Xena agar tak tergesa-gesa saat menyantap semua hidangan yang tersedia di meja.


Xena tersenyum lebar saat ditegur oleh Clarissa. Gadis bermata hazel itu tak bisa mengontrol diri apabila sudah menyantap ayam goreng kesukaannya. Dunia terasa gelap, suasana sepi saat di hadapannya ada satu ember kecil berisi beberapa potongan paha ayam. Kecintaannya terhadap ayam goreng membuat nona muda Anderson melupakan segalanya.


Sementara itu, Sean baru saja selesai berbincang dengan klien lewat sambungan telepon. Ibrahim, sebagai asisten pribadi dengan setia berdiri di samping sang CEO.


Tuan muda Anderson celingukan karena tak mendapati istri serta anak tercinta di bangku tunggu. Di sana hanya ada Imelda yang sedang sibuk memainkan telepon genggam.


"Di mana istri dan anakku?" tanya Sean dingin. Kendati begitu, setiap kalimat yang terucap mengandung unsur kecemasan.


Tubuh Imelda terlonjak akibat terkejut dan secara tidak sengaja menjatuhkan benda pipi berukuran 6.5 inci dari genggaman tangan. Beruntungnya benda tersebut terjatuh di pangkuan sehingga tak membuat wanita muda itu membeli yang baru.


"T-tuan Sean?" ucap Imelda terbata.


"Di mana Clarissa dan Xena? Kenapa mereka tidak ada di sini?" Kembali menanyakan hal yang sama kepada baby sitter Xena. Terlihat air muka kecemasan terpancar di wajahnya yang rupawan.


"Nyonya Clarissa dan Nona muda ada di restoran itu. Sebelum pergi meninggalkan saya, Nyonya meminta Tuan menyusul. Me--" Belum selesai Imelda menyelesaikan kalimatnya, Sean sudah lebih dulu meninggalkan dirinya yang masih cukup terkejut atas kejadian beberapa detik yang lalu.


Sean berlari kencang sehingga membuat beberapa pengunjung mall menatap keheranan ke arahnya. Namun, ia tidak memedulikan tatapan aneh yang ditujukan kepadanya. Ia tak punya waktu mengurusi itu semua. Terpenting baginya saat ini adalah menyusul istri dan anaknya serta memastikan keselamatan mereka berdua.


Napas terengah-engah saat Sean tiba di restoran cepat saji. Jantung pria itu seakan mau meledak saking terlalu mencemaskan kedua orang begitu berarti dalam hidupnya. Akan tetapi, ketika menyaksikan keakraban yang terjalin antara Clarissa dan Xena, rasa cemas berbalut kekhawatiran dalam diri sirna begitu saja.

__ADS_1


Pemandangan di depan sana semakin membulatkan tekad Sean untuk memberitahu semua orang bahwa wanita cantik yang sedang bersama anak tercinta adalah istrinya.


Selepas menikmati semua hidangan yang dipesan, Sean mengajak anak serta istrinya berkeliling mall, keluar masuk toko walau sekadar cuci mata. Bukannya tuan muda Anderson tak mampu memenuhi semua kebutuhan Clarissa, tetapi wanita itu memang sedang tidak ingin membeli apa pun. Sang sekretaris hanya ingin berjalan bersama anak tiri tercinta.


"Mommy, I want to pee!" ucap Xena saat melintas di depan papan penunjuk arah menuju ke toilet dan tempat peribadatan bagi umat Islam.


"Nona Xena, Mbak Imelda saja yang antar yuk, biar Mommy dan Daddy menunggu di sini." Imelda bergegas menawarkan diri menemani anak majikannya pergi ke toilet. Tidak mau dibilang pengasuh yang hanya ingin menikmati gaji buta, ia segera melakukan tugasnya dengan baik. Walaupun tahu kalau keluarga Anderson tidak mungkin berpikiran begitu, tetapi dia sadar diri akan tugas dan kewajibannya sebagai seorang baby sitter.


Xena menggelengkan kepala cepat seraya berkata, "Tidak mau! Aku cuma mau ditemani Mommy. Mbak Imelda tunggu saja di sini bersama Daddy dan Om Ibrahim. Biarkan aku dan Mommy pergi berdua."


"Tapi, Nona ...."


Clarissa menginterupsi percakapan antara Xena dan Imelda. Mengangkat tangan ke udara, memberikan kode kepada sang baby sitter untuk berhenti berbicara. Bagai disihir oleh sebuah mantra, bibir Imelda bungkam detik itu juga.


"Sayang, aku temani Xena dulu ke toilet. Kamu, Imelda dan juga Ibrahim tunggu saja di sini. Kami cuma pergi sebentar," ucap Clarissa sebelum melangkah menuju toilet.


"Biar aku temani kalian!" sahut Sean seraya mencekal tangan Clarissa.


Sean menghembuskan napas kasar mendengar penolakan Clarissa. Entahlah, kenapa pria itu menjadi tidak tenang membiarkan istrinya pergi sendirian tanpa ditemani oleh siapa pun setelah status wanita itu berubah dari sekretaris menjadi istri sirinya. Terlebih beberapa hari lalu ia sempat terlibat adu mulut dengan Karin yang merasa bahwa saat ini ayah kandung Xena sedang menyembunyikan suatu hal.


Hari itu, Sean sengaja pulang larut malam sekali karena ingin menghabiskan waktu bersama dengan Clarissa. Tapi sayang, ia malah bertemu dengan Karin yang kebetulan saat itu baru juga sampai di rumah.


"Dari mana kamu, Karin, jam segini baru pulang?" sembur Sean kala dirinya berpapasan dengan Karin yang baru saja turun dari mobil.


Menantu kesayangan Anita terlonjak dari tempatnya berdiri ketika suara berat Sean terdengar jelas di sebelah telinganya. Saking terkejutnya, kunci dalam genggaman jatuh ke lantai. Degup jantung memompa lebih kencang dan rasanya mau copot.


Wajah pucat pasi, keringat dingin pun mulai muncul ke permukaan. Khawatir kalau Sean tahu bahwa dia pulang larut karena habis berduaan dengan kekasih gelapnya.


Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Mencoba mengendalikan diri agar tak terlihat gugup di hadapan Sean. Lantas, ia membalikan badan secara perlahan. Mata memicing kala menyaksikan penampilan sang suami yang cukup berantakan. Kendati begitu, aura ketampanan pria itu masih terpancar membuat siapa saja terpikat oleh pesona sang CEO.


Alih-alih menjawab pertanyaan Sean, Karin malah mengelilingi tubuh suaminya sambil terus memperhatikan penampilan pria itu. Embusan angin bertiup membuat sekilas aroma parfum khas perempuan menggelitik indera penciumannya.


"Loh, kamu sendiri dari mana, jam segini baru pulang kantor. Lalu, ada apa dengan penampilanmu, kenapa berantakan sekali," sindir Karin sambil memandang sinis ke arah Sean. Terus memandangi sosok pria itu tanpa mengalihkan pandangan ke arah lain.

__ADS_1


Merasa tengah dicurigai, membuat Sean ketakutan setengah mati. Ia takut kalau Karin sampai tahu bahwa saat ini sang CEO telah menikah tanpa sepengetahuan wanita itu. Merasa saat ini belum waktunya memberitahu kepada siapa pun perihal pernikahan ketiganya.


Akan tetapi, bukan Sean namanya kalau dia tidak pandai bersilat lidah. Ia menggunakan kemampuannya untuk menutupi kenyataan bahwa ada wanita lain menjadi kandidat nyonya muda baru di keluarga Anderson.


"Memangnya ada yang salah dengan penampilanku?" Sean menundukan pandangan, memperhatikan penampilannya. Tidak ada yang salah, semuanya normal. Walaupun rambut berantakan serta kemeja kusut akibat terlalu bersemangat bercinta hingga lupa melepaskan kemeja yang dikenakan. "Kurasa, penampilanku baik-baik saja tidak ada yang salah."


Karin mendengkus kesal. Menghunuskan tatapan tajam pada sosok pria di hadapannya. "Lantas, bisakah kamu memberikan penjelasan kepadaku, aroma parfum ini milik siapa? Setahuku, aroma parfum milikmu bukan ini. Aku yakin, kamu pasti ada main di belakangku. Iya, 'kan?"


"Jangan sembarang menuduh!" sembur Sean.


"Kenapa harus marah jika kamu tidak melakukannya. Kalau marah berarti benar, kamu main serong di belakangku. Katakan, siapa wanita itu! Biar aku labrak karena berani-beraninya merebut suami orang!" teriak Karin. "Atau ... jangan-jangan, kamu ada affair dengan sekretarismu itu. Benar, 'kan tebakanku!"


"Ngawur kamu! Kamu pasti mabuk hingga berbicara sembarangan," kilah Sean. "Sudahlah, aku mau ke kamar. Tubuhku capek, ingin istirahat." Tanpa menunggu jawaban Karin, pria itu berlalu begitu saja.


Tangan terulur ke depan, hendak membuka daun pintu. Namun, suara Karin menghentikan sejenak langkahnya.


"Aku berjanji akan mencari tahu siapa wanita yang telah menjadi selingkuhanmu, Sean. Bila saatnya tiba, akan kubuat dia menyesal karena berani-beraninya mencoba merebutmu dari sisiku."


Sejak saat itu, Sean menjadi khawatir atas keselamatan Clarissa. Setiap waktu tidak tenang membiarkan istri tercinta pergi tanpa ditemani siapa pun.


"Mommy tunggu saja di sini. Aku bisa masuk sendiri," ucap Xena. Gadis kecil itu tak membiarkan Clarissa masuk ke dalam bilik, membantunya membersihkan diri dari sisa hajat.


Ingin hati membantah, tetapi Clarissa sadar bahwa Xena memang harus belajar mandiri sedari kecil. Lantas, ia menuruti permintaan anak tirinya itu.


"Baiklah. Mommy akan menunggumu di sini. Kalau butuh sesuatu, panggil Mommy, ya?"


Sambil menunggu Xena, Clarissa memandangi pantulan diri di depan cermin. Wajahnya memang terlihat lebih pucat tetapi tak sepucat tadi pagi. Menghela napas kasar kemudian membasuh wajah yang terasa letih. Namun, saat hendak meraih tisu yang menempel di dinding, ia cukup terkejut akan penampakan seseorang di belakangnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2