
"Kamu sengaja membuat saya menunggu terlalu lama, iya?" dengkus Sean kesal saat ia mempunyai kesempatan berdekatan dengan sekretarisnya. Pria itu sedang berdiri di depan stand minuman dingin.
Clarissa meraih segelas blue lagoon mocktail bebas alkohol dari atas meja, lalu menyesapnya secara perlahan. Setelah dirasa cukup menghilangkan dahaga, barulah dia berkata, "Sengaja bagaimana, Tuan? Jika ini ada kaitannya dengan keterlambatan saya, itu murni sebuah kesalahan. Kendaraan yang saya tumpangi memang terjebak beberapa kali lampu merah saat dalam perjalanan menuju ballroom hotel. Jika tidak percaya, Anda bisa tanyakan pada Nani. Tadi, dia datang ke apartemen menjemput saya dan kami datang bersama ke sini."
Sean mengernyitkan kedua alis sambil menatap penuh tanya pada wanita di sebelahnya.
Clarissa menghela napas kasar, lalu meletakkan gelas minumannya ke atas meja. "Mungkin Nani punya firasat bahwa saya akan menjadi primadona malam ini, jadi dia dengan suka rela datang menjemput ke apartemen."
"Ck! Terlalu percaya diri!" Sean mengejek sambil menatap sinis ke arah Clarissa. Selain suka menggoda, rupanya sekretarisnya itu mempunyai sifat narsis level dewa.
Alih-alih merasa jengkel disindir oleh sang CEO, Clarissa terkekeh setengah berkelakar. "Kalau tidak percaya diri, mana mungkin dapat mendampingi Tuan Sean yang terkenal perfectionis dan menginginkan segala sesuatu berjalan dengan cepat. Benar, tidak?" tanyanya sambil menaik turunkan kedua alis.
"Terserah apa katamu saja!" ketus Sean.
Tidak ingin berdebat di acara pesta ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya, pria itu memilih menyesap minuman dingin yang disodorkan oleh seorang pelayan. Ia meraih segelas mojito yang terbuat dari bahan alami seperti daun lemon dan pappermint, lalu menegaknya sambil mencuri pandang ke arah Clarissa yang tampil sangat cantik malam itu.
Sementara itu di sisi ruangan lain, ada seorang wanita yang tengah memperhatikan dua insan manusia di depannya. Berjarak sekitar tiga meter dari posisinya berdiri. Senyuman menyeringai terlukis di sudut bibir ketika menyaksikan bagaimana minuman dingin yang telah dicampur obat perangsang habis tak bersisa ditegak oleh sang suami.
"Kita lihat, apakah kamu masih bertahan dengan pendirianmu setelah obat tersebut mulai beraksi! Sekuat apa pun imanmu, aku sangat yakin jikalau kamu pada akhirnya akan menyentuhku." Karin tersenyum smirk. Terus menatap tajam pada sepasang pria dan wanita di depannya. "Jika itu terjadi maka jangan harap kamu lepas dari genggamanku!"
__ADS_1
Karin tak punya pilihan lain selain menggunakan cara licik untuk mendapatkan Sean seutuhnya. Jika tidak bertindak sekarang, selamanya ia akan menjadi patung di kediaman Anderson dan cepat atau lambat semua kebusukannya terbongkar. Sebelum terlambat maka ia harus bertindak agar semua pengorbanan yang dilakukan tidaklah sia-sia.
Acara puncak telah dimulai. David dan Anita meniup kue ulang tahun berbentuk hati dengan bagian pinggirannya dibentuk kelopak bunga serta di atas kue tersebut bertuliskan nama sepasang suami istri yang tengah berbahagia.
Dua puluh tujuh tahun membina rumah tangga bukanlah waktu sebentar bagi tuan dan nyonya Anderson. Banyak asam manis kehidupan yang telah dirasakan oleh mereka. Jatuh bangun, peluh dan tangis menjadi saksi bagaimana kedua orang tua Sean bisa berada di titik tertinggi saat ini. Oleh karena itu, sebagai bentuk ucapan syukur atas nikmat yang Tuhan berikan, mereka turut mengundang anak-anak dari yayasan panti asuhan di bawah naungan Anderson Grup dalam pesta tersebut sehingga acara semakin meriah.
Sean merasa gelisah. Tubuhnya terasa panas dengan wajah yang sudah memerah. Mengibaskan telapak tangan ke wajah, berharap mengurangi rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Akan tetapi, usaha pria itu sia-sia.
'Sial! Apa yang terjadi kepadaku? Kenapa rasanya panas sekali?' batin Sean.
Sean mulai menyadari ada yang tak beres dengan minuman yang diberikan oleh pelayan tadi. Ia bergerak gelisah kemudian bergegas meninggalkan ballroom menuju toilet sedangkan David, Anita, Ibrahim serta Clarissa tengah berbincang hangat dengan tamu undangan yang lain.
"Berengsek! Siapa yang berani bermain-main denganku! Aku bersumpah jika tahu siapa dalang di balik ini semua akan kuberi pelajaran hingga orang itu tak kan berani mendongakan wajahnya lagi di hadapanku!" sungut Sean sambil menampar wajahnya di depan cermin.
"Aargh! Andai saja Sabrina masih hidup, sudah kuajak dia ke kamar hotel saat ini juga. Namun, kini dia telah tenang di atas sana. Lantas, aku harus bagaimana sekarang?" Wajah pria itu sudah semakin memerah bagaikan kepiting rebus. "Tidak mungkin aku melampiaskan hasratku seorang diri. Apabila relasi serta rekan kerjaku mendengar suara nakalku maka citra perusahaan buruk di mata mereka."
"Tuhan, apa yang harus kulakukan? Bantulah aku keluar dari masalah ini." Pria itu berharap ia dapat segera mendapat jalan keluar.
Ketika Sean dirundung keinginan untuk bercinta, tiba-tiba saja bayangan Clarissa melintas dalam benaknya. Terbesit meminta bantuan wanita itu menuntaskan keinginannya.
__ADS_1
"Jangan bodoh, Sean! Dia itu sekretarismu bukan budak yang bisa kamu perintah sesuka hati." Otak pria itu masih dapat berpikir jernih meski gejolak hasrat telah mencapai ubun-ubun.
Tak berselang lama, seorang pria melangkah masuk ke dalam toilet. Ia cukup terkejut melihat penampilan sang bos yang terkapar di sudut toilet dengan wajah memerah.
"Tuan Sean, apa yang terjadi kepada Anda?" Ibrahim segera berhambur mendekati atasannya.
Usai berbincang dengan sesama karyawan perusahaan, Ibrahim mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan, mencari keberadaan Sean, tetapi jua menemukan sang atasan. Ia berpikir mungkin saja Sean sedang terlibat perbincangan seru hingga terpaksa meninggalkan ruangan. Akan tetapi, ia kepikiran sama sekali jikalau bosnya berada di toilet dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.
"Ibrahim, tampaknya ada seseorang yang tengah bermain-main denganku. Dia berniat menjebakku, memasukan obat perangsang ke dalam minumanku," ucap Sean lirih.
"Shiit! Kenapa aku bisa kecolongan!" maki Ibrahim, merasa gagal menjaga bosnya dari kejahatan orang-orang yang berniat menghancurkan keluarga Anderson.
Sejujurnya Ibrahim bingung harus melakukan apa agar Sean terlepas dari penderitaan yang tengah dirasakan oleh bosnya. Membawa wanita penghibur ke hadapan Sean? Tidak! Kalau sampai awak media tahu Sean bermain dengan wanita malam maka reputasi perusahaan buruk di mata semua orang. Namun, bila terus membiarkan Sean menderita, ia pun tidak tega. Maka, cara satu-satunya adalah ... membawa Sean menemui nyonya muda Anderson.
Ibrahim meletakkan telapak tangan di bawah ketiak Sean. Ia membantu pria itu bangkit dan memapahnya secara perlahan, keluar dari toilet. Menyusuri lorong sepi, mencari keberadaan Karin.
.
.
__ADS_1
.