Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Peluang Emas


__ADS_3

Sean dan Ibrahim melangkah bersama memasuki bangunan megah menjulang tinggi ke atas awang. Hari ini, wajah sang CEO tampak lebih berseri dari biasanya. Ia mengulum senyum tipis bahkan nyaris tak terlihat oleh siapa pun. Butuh keahlian khusus untuk dapat melihat senyuman manis yang membuat pria itu semakin terlihat mempesona.


Pemimpin baru perusahaan Anderson Grup memasuki lift dengan asisten serta beberapa karyawan perusahaan. Ia dipersilakan berdiri di barisan terdepan oleh para bawahannya.


Ketika pintu lift itu hendak tertutup, dari depan sana seseorang berseru, "Tunggu!" Maka secara refleks, Sean mengulurkan tangan ke depan, menekan tombol agar benda berbentuk persegi terbuat dari besi terus terbuka lebar. "Terima kasih, Tuan Sean!" ucapnya lembut. Tidak lupa, senyuman manis ia berikan kepada atasannya.


Mengambil posisi tepat di samping Sean, aroma parfum sandalwood menggelitik indera penciuman lelaki itu. Clarissa terus mengulum senyum sambil kembali berkata, "Terlalu tergesa-gesa hingga nyaris membuat saya melupakan adab dan sopan santun terhadap atasan. Maka dari itu, biarkan saya menyapa Anda. Ehm ... selamat pagi, Tuan Sean."


Suara lembut wanita itu seakan menghipnotis Sean. Tuan muda Anderson, ayah dari seorang gadis bermata hazel mendongakan kepala menatap mata almond sang sekretaris.


Deg!


Degup jantung Sean naik beberapa ketukan. Udara di sekitar membuatnya terasa begitu sesak. Ranumnya bibir itu serta wajah cantik Clarissa mengingatkan pria itu akan peristiwa tadi malam. Peristiwa yang masih membekas sempurna di dalam ingatannya.


Dia tidak menyangka jika semalam menjadikan Clarissa sebagai objek fantasinya. Ini semua gara-gara Karin, hingga dirinya harus menuntaskan sesuatu yang bangkit dan membuat kepala pria itu terasa pening apabila tidak segera dituntaskan.


Bejat. Berengsek. Itulah yang dirasakan oleh Sean. Rasa bersalah serta penyesalan menelusup ke relung hati yang terdalam. Tidak seharusnya pria itu menjadikan Clarissa sebagai objek, sedangkan dirinya telah menikah lagi dengan wanita pilihan Anita. Namun, perasaan cinta terhadap istri keduanya itu tidak ada.


Lalu, apakah dia harus menjamah istrinya hanya karena hawa napsu? Tidak. Sean tidak mau itu semua terjadi. Dia ingin melakukan hubungan intim dengan wanita yang dicintai dan atas dasar suka sama suka bukan hanya karena keinginan sesaat.


Lantas, ia memalingkan wajah ke arah lain tak sanggup bila terlalu lama menatap mata indah itu. "Ya ... selamat pagi," ucapnya dingin. Menunjukan sikap tak ramah kepada sekretarisnya. Tampak jelas pria itu bersikap aneh di hadapan Clarissa.


'Tumben sekali sikap Tuan Sean dingin terhadap Clarissa. Biasanya hangat meski dengan wajah datar tanpa sebuah senyuman,' batin Ibrahim. Ia turut memperhatikan sikap Bos-nya. Mencuri pandang secara diam-diam hanya ingin mencari tahu penyebab perubahan sikap atasannya.

__ADS_1


Clarissa memicingkan mata ke arah Sean. Alis saling tertaut satu sama lain. Otak berpikir keras, mencari tahu kenapa pria di sampingnya merubah sikapnya hanya dalam hitungan detik.


'Tuan Sean kenapa berubah begini sih! Tidak biasanya bersikap dingin!' gerutu Clarissa dalam hati. 'Kalau bukan karena ingin membalas dendam, aku pasti sudah pergi dari perusahaan ini! Untuk apa bekerja dengan Bos yang super dingin dan jutek seperti dia!' batinnya.


***


Saat ini, Clarissa tengah bergelut dengan tumpukan berkas di atas meja kerjanya. Jemari tangan terus menari indah di atas keyboard, pandangan mata menatap lurus ke arah monitor. Terdengar alunan musik penyemangat pagi yang biasa diputar oleh wanita itu dengan volume sedang. Tidak terlalu kencang, tidak pula kecil. Yang penting cukup terdengar oleh indera pendengarannya.


Kring!


Suara telepon berbunyi, membuat Clarissa menghentikan sejenak pekerjaannya. Ia mengulurkan tangan ke depan, menekan tombol dial lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Halo, Tuan Sean, ada yang bisa saya bantu?" sahut Clarissa.


"Baik, Tuan! Saya segera ke sana!" jawab Clarissa tegas. Walaupun tadi pagi sempat kesal atas perubahan sikap Sean terhadapnya, tetapi dia tetap menjalankan tugas dengan baik tanpa ingin melakukan kesalahan sedikit pun.


"Duduklah!" seru Sean kala Clarissa telah berada di dalam ruangan. Mempersilakan wanita itu duduk di kursi empuk di hadapannya. Tanpa diminta dua kali, Clarissa menuruti perintah atasannya.


"Selama tiga hari, kita akan mengunjungi proyek pembangunan rumah sakit yang ada di Kota M. Kamu, saya dan Ibrahim berangkat bersama. Namun, sebelum berangkat, kamu datang ke rumah saya membawa beberapa berkas penting terkait proyek tersebut yang tertinggal di rumah," tutur Sean panjang lebar. Memberitahu kepada Clarissa kenapa dirinya meminta wanita itu datang ke kediaman Anderson.


Clarissa cukup terlonjak kaget ketika Sean meminta dirinya datang ke mansion Anderson hanya sekadar mengambil beberapa berkas penting. Sejuta pertanyaan datang menghampiri, menuntut jawaban dengan segera. Salah satunya adalah ... kenapa Sean memerintahkan dia mengambil sendiri berkas penting itu.


Jika memang penting, lalu kenapa tidak meminta Ibrahim sendiri yang mengambilnya. Bukankah pria itu adalah asisten pribadi Sean? Lantas, kenapa malah Sean meminta dirinya yang datang? Mungkinkah ada udang di balik batu?

__ADS_1


Di saat Clarissa tengah asyik bertanya-tanya pada diri sendiri, sebuah kesadaran menghantam kepalanya.


Ia tersenyum smirk sambil berkata, 'Bukankah ini merupakan kesempatan emas bagiku untuk bisa lebih dekat dengan Sean dan bertemu lagi dengan orang itu,' batinnya. 'Bodoh! Kenapa tidak terpikirkan olehku sebelumnya,' merutuki kebodohannya karena tidak peka atas peluang yang ada di depan mata.


Lantas, Clarissa mengangkatkan kepala, menatap mata hazel Sean dengan lekat. "Baik, Tuan. Besok pagi, saat jarum panjang menunjuk ke angka dua belas serta jarum pendek ke angka tujuh, saya sudah ada di depan pintu gerbang Anda. "


"Oke, saya tunggu di rumah. Jangan lupa, bawa pakaian lebih sebab kita tidak pernah tahu apakah segala urusan di sana bisa selesai selama tiga hari atau tidak."


Clarissa menganggukan kepala sebagai jawabannya. "Anda tenang saja, Tuan. Tanpa diminta pun, saya pasti membawa pakaian lebih. Bila perlu, saya juga bisa menyiapkan segala kebutuhan Anda selama kita pergi. Bagaimana?" tawarnya. Sengaja berkata begitu, karena ia ingin tahu reaksi pria itu. Apakah pesona serta kemampuannya saat menyelesaikan masalah pekerjaan telah berkesan bagi atasannya. Jika sudah, berarti tahap awal rencana balas dendam sudah terlaksanakan. Tinggal melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu menimbulkan perselisihan antara Sean dengan Karin.


'Sial! Kenapa suara Clarissa terdengar begitu menggoda. Aargh! Sepertinya otakku benar-benar sudah gila karena terus memikirkan peristiwa tadi malam!' batin Sean.


Menarik napas dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan seraya memejamkan mata sejenak. Mencoba fokus dalam pekerjaan. "Tidak. Terima kasih! Urusan sudah selesai. Kamu bisa kembali ke ruangan."


"Baik. Kalau begitu, saya undur diri. Selamat pagi." Clarissa menundukan kepala, pamit undur diri dari hadapan Sean.


'Rasanya aku tidak sabar ingin segera bertemu denganmu.' Clarissa bermonolog sendiri sambil mengayunkan kaki jenjangnya ke arah daun pintu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2