
Sean menelan saliva susah payah ketika melihat pemandangan indah di depan sana. Walaupun tubuh sintal Clarissa dibungkus oleh jubah mandi berwarna putih tetapi mampu membuat otaknya travelling ke mana-mana. Bagaimana tidak, penampilan Clarissa malam itu terlihat sangat ... sangat ... menggoda. Meskipun tanpa riasan make up tebal, gincu merah menyala seperti vampir yang habis menghisap darah sang korban serta alis cetar membahana tetapi aura kecantikan wanita itu tetap terpancar dari dalam dirinya.
Tatapan Sean menerawang jauh, seolah dirinya tengah terperangkap pada suatu tempat nun jauh di sana. Lagi dan lagi, peristiwa beberapa hari lalu kembali menari indah di pelupuk matanya. Ah ... tampaknya otak tuan muda Anderson memang sudah terkontaminasi oleh hal-hal berbau m*s*m.
Tanpa sadar bibir Clarissa menyunggingkan senyum tipis. Tak menduga jikalau Sean kembali masuk dalam perangkap yang dibuat olehnya sendiri.
"Tuan Sean, apakah Anda membutuhkan sesuatu hingga repot-repot datang menemui saya di kamar?" tanya Clarissa. Ia kembali membuka suara setelah sapaan hangat yang ditujukan kepada Bos-nya tak mendapatkan respon.
Namun, Sean tetap membisu seribu bahasa. Lantas, Clarissa melambaikan tangan di hadapan pria itu sambil berkata, "Tuan, apakah Anda dapat mendengar suara saya?" Sengaja meninggikan satu oktaf suara agar bos-nya dapat mendengar ucapan wanita itu.
Sean tersadar dari lamunanya. Wajah pria itu berubah jadi pucat pasi dengan butiran peluh yang mulai muncul di permukaan kulit. Ia cemas jikalau Clarissa sadar bahwa wanita itu tengah diperhatikan olehnya.
Berdehem sambil memalingkan wajah ke sembarang arah. "Tidak ada hal penting. Hanya saja saya mencarimu untuk ... ehm ... untuk ... mengajakmu makan malam. Ibrahim masih belum kembali dan Saya tidak suka kalau harus makan sendiri."
Sontak Clarissa tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih dan tersusun rapi. "Oh ... jadi karena Tuan Sean enggap makan malam sendiri lalu menemui saya secara langsung, begitu?" tanyanya untuk memastikan kembali ucapan pria itu.
Akan tetapi, Sean tak menjawab. Pria itu hanya memberikan tatapan tajam bagaikan ujung pisau yang baru saja diasah.
Alih-alih merasa gemetar, Clarissa semakin menyunggingkan senyuman. "Jika memang benar seperti itu, kenapa tidak Tuan hubungi saya saja lewat sambungan telepon? Bukankah nomor telepon saya sudah tersimpan rapi di phone book Tuan? Atau ... jangan-jangan ... Tuan Sean memang sengaja ingin bertemu dengan saya secara langsung? Tuan ... rindu pada saya, ya?" Mengerlingkan sebelah mata, mencoba menggoda pria itu.
Bola mata terbelalak sempurna kala mendengar penuturan Clarissa. Mata hazel itu nyaris copot dari tempatnya karena tak menduga jika sang sekretaris mengetahui niat terselubung di balik kedatangannya ke kamar itu. Namun, tentu saja dia gengsi untuk mengakui itu semua. Kalau sampai ketahuan, mau ditaruh di mana muka sang CEO!
"Jangan sembarangan bicara! Saya ... datang ke sini karena merindukanmu?" Sean menunjuk dirinya menggunakan jari telunjuk. "Omong kosong! Mana mungkin saya merindukan wanita seperti kamu, Nona Clarissa! Jangan mimpi!" sergah pria itu.
Walaupun kenyataannya dia memang sedikit merindukan Clarissa, tetapi pria itu tak mau jika sang sekretaris berpikir kalau dirinya adalah lelaki berengsek yang jatuh cinta pada wanita lain sementara salah satu di antara mereka sudah terikat tali pernikahan.
__ADS_1
Detik itu juga tawa Clarissa pecah. Wajah merah merona bagai tomat segar yang siap dipetik dari sebuah perkebunan, air muka kecemasan terlukis jelas di wajah bos-nya. Wanita itu tidak tahan melihat bagaimana perubahan raut wajah sang CEO.
"Oh my ghos! Tuan ... Tuan .... Anda pikir saya serius dengan ucapan barusan?" ucap wanita itu seraya menyentuh perutnya yang terasa sakit akibat terlalu kencang tertawa. "Tuan, tadi saya cuma bercanda loh, tidak ada maksud menggoda Anda. Sungguh!"
Tampak Sean mengepalkan kedua tangan di samping tubuh hingga memperlihatkan otot-otot menonjol di sekitar. Rahang mengeras, sorot mata tajam setajam elang yang siap mencabik-cabik mangsanya. Ia kesal karena merasa dijaili oleh sekretarisnya itu.
Ia nyaris mati berdiri karena menyangka Clarissa tahu jikalau dia sangat merindukan wanita itu. Namun, ternyata sekretarisnya hanya sedang mempermainkannya saja. Benar-benar menjengkelkan!
Sean mendengkus kesal. "Ck! Sudahlah, lupakan saja apa yang terjadi barusan! Saya lapar dan ingin makan!" ketus pria itu. "Saya tunggu sepuluh menit untuk berganti pakaian. Setelah itu, kita ke restoran bersama. Ingat, jangan membuat saya menunggu terlalu lama!"
"Siap, Bos! Tunggu saya di sini. Jangan ke mana-mana, ya!" sahut Clarissa sambil menutup pintu begitu saja tanpa mempersilakan Sean masuk ke dalam kamar.
Sean masih tercengang di depan pintu kamar Clarissa. "Apa-apa sih dia, main tutup pintu begitu saja tanpa mempersilakan aku masuk! Dasar sekretaris kurang ajar!" sembur pria itu.
***
Clarissa menyuapkan potongan steak ke mulutnya dan mengunyahnya. Malam itu, ia dan Sean pergi mencari restoran yang menyajikan olahan daging sapi yang dipanggang dengan berbagai tingkat kematangan berbeda. Namun, kali ini kedua insan manusia itu meminta pelayan menyajikan daging tersebut dengan tingkat kematangan medium rare (hanya matang bagian luarnya dan bagian dalamnya masih segar).
Ketika sedang menikmati hidangan di atas meja, Sean melirik sekilas ke arah Clarissa yang tampak begitu asyik mengiris tiap potongan daging di atas piring.
"Saya memang cantik, Tuan. Namun, apakah Anda harus menatap saya seperti itu hingga nyaris bola mata Tuan meloncat dari tempatnya," ceplos Clarissa tanpa beban yang nyaris membuat sang CEO tersedak.
Lantas, Sean mengulurkan tangan ke depan meraih gelas bening berisi air mineral dan menegaknya hingga tersisa sebagian. Entah kenapa malam ini Clarissa begitu menyebalkan. Berkali-kali membuat jantungnya berdegup tak beraturan dan ia pun harus merasakan bagaimana rasanya tersedak makanan saat tengah memandangi wanita cantik di hadapannya.
Sean mengakui jika Clarissa semakin hari semakin sedap dipandang. Penampilan wanita itu tidak terkesan berlebihan meski dari atas kepala hingga ke ujung kaki semua barang yang menempel di badannya adalah produk branded semua tetapi dia pandai memadupadankan hingga tak terlihat norak malah terkesan elegan dan memukau. Tampak berkelas dan anggun.
__ADS_1
Setelah merasa lebih baik, Sean mulai membuka suara. "Jangan terlalu percaya diri, kamu! Tadi saya cuma ingin memastikan tidak ada sisa makanan tertinggal di sudut bibirmu."
"Oh begitu. Saya pikir Tuan terpesona oleh kecantikan saya. Eh ... ternyata dugaan saya salah," sahut Clarissa sembari mendongakan kepala, menatap mata hazel di hadapannya. "Hampir saja saya terbang ke atas awang karena ditatap dengan tatapan penuh damba."
Sean kembali mengiris steak menjadi potongan kecil, lalu mengunyahnya. "Makanya, jadi orang jangan terlalu PD! Sekalinya terjatuh membuat seluruh tubuhmu sakit!"
"Jika memang sakit, gampang kok, Tuan. Tinggal pergi ke rumah sakit, diobati oleh dokter. Beres!" sahut Clarissa.
"Semakin hari kamu semakin pandai bicara hingga membuat saya sakit kepala!" Sean mencibir. "Lebih baik kamu diam, nikmati makanan yang ada dengan penuh khidmat."
Clarissa tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. "Jika saya diam, suasana akan hening. Memangnya Tuan mau kita makan malam dalam keadaan sepi seperti di kuburan?"
Melirik ke arah kanannya, Sean berdecak kesal karena untuk kesekian kali Clarissa sukses membuatnya merasa kesal. "Lebih baik begitu daripada saya harus mendengar ocehanmu yang tak berfaedah! Buang-buang energi saja!"
Clarissa menghela napas begitu lirih. "Baiklah, kalau memang Tuan maunya begitu. Saya akan diam. Membungkam mulut ini sampai semua hidangan habis tak bersisa."
Dalam hening, mereka menghabiskan makanan yang telah dipesan beberapa waktu lalu. Sean tak melepaskan tatapannya dari sosok wanita di seberang sana. Segala gerak gerik Clarissa begitu menarik perhatian pria itu.
Sudah lima tahun berlalu, Sean tidak merasakan bagaimana kehangatan akan sebuah hubungan. Namun, tiba-tiba saja dia dipertemukan oleh Clarissa dan wanita itu merubah semuanya hanya dalam hitungan minggu. Mampu memporakporandakan perasaannya, mengacaukan pikirannya bahkan sempat membuat kepala pria itu berkedut kala hasrat menggebu di dalam dada.
.
.
.
__ADS_1