
"Bye, Tante Clarissa. Sampai bertemu kembali," ujar Xena seraya melambaikan tangan. Gadis kecil itu ditemani babysitter-nya berada di dalam mobil. Pagi itu, ia berangkat ke sekolah diantar oleh sopir, sebab Seab hendak pergi ke kota M dalam rangka urusan pekerjaan.
Wanita cantik bertubuh semampai mengangkat tangan ke udara. Ia lampaikan tangan kanan ke depan wajah, membalas lambaian tangan Xena. "Sampai juga, Nona Xena. Jangan lupa belajar yang rajin dan patuh terhadap guru ya. Tidak boleh nakal dan harus patuh kepada Mbak Imelda." Clarissa mencoba memberikan sedikit nasihat pada Xena layaknya seorang ibu terhadap sang anak.
Walaupun Clarissa berprofesi sebagai seorang pelakor sebelum bekerja menjadi sekretaris Sean, dan sering menghancurkan rumah tangga orang lain serta menjadikan anak-anak dari korbannya menjadi korban atas perceraian kedua orang tua namun ia begitu menyayangi, mencintai anak kecil. Memang terkesan jahat karena telah menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga orang lain, tetapi dia tidak sembarangan mencari target hanya mengincar pasangan suami istri yang sama-sama tukang selingkuh. Apabila ada pasangan suami istri yang tampak harmonis, tentu saja dia tidak akan merampas kebahagiaan orang tersebut sebab hati nuraninya masih bisa berfungsi dengan baik sehingga tak rela menghancurkan apa yang terlihat baik-baik saja.
Ibu jari mungil Xena terangkat di udara. "Siap, Tante! Aku pasti mengingat nasihat Tante!" jawabnya antusias.
Sean melihat pemandangan di depannya menyunggingkan senyuman tipis hingga nyaris tak terlihat. Hati berbunga-bunga merasa seakan jutaan kupu-kupu keluar dari dalam tubuhnya. Pria itu tampak bahagia karena bisa menyaksikan sendiri bagaimana bibir mungil Xena terus mengulum senyum. Pendar bahagia terlukis jelas di bola matanya yang jernih dan indah.
Melirik ke arah arloji mewah di pergelangan tangan. Waktu menunjukan pukul tujuh lebih tiga puluh menit. "Sayang, kamu segera berangkat ke sekolah. Bila tidak maka terjebak macet dan kamu akan telat sampai sana," ucap Sean sembari mengusap lembut pucak kepala sang anak.
"Oke, Daddy. Bye!" sahut Xena patuh. Lantas, ia kecup kedua pipi Sean penuh cinta.
Karin yang berdiri tak jauh dari Sean sudah mengarahkan pipinya kepada Xena, berharap agar gadis kecil itu pun memberikan kecupan kepadanya. Akan tetapi, gadis kecil pemilik mata hazel bergeming. Nona muda Anderson hanya berkata, "Good bye, Mama Karin!" Setelah itu, ia duduk manis di kursi penumpang tanpa mencium pipi mama tirinya.
Kelopak mata terpejam hingga membuat Karin tak mengetahui jikalau anak tirinya telah kembali ke tempat semula. Hingga suara berat Sean membuat bola matanya membuka secara perlahan.
__ADS_1
"Jika kamu masih ingin hidup, bergeserlah beberapa langkah ke samping! Mobil akan segera melaju, mengantarkan Xena pergi ke sekolah."
Karin yang masih dilingkupi keterkejutan bergegas menuruti perintah Sean. Menggeser tubuhnya hingga berjarak sepuluh langkah dari kendaraan roda empat yang siap mengantarkan Xena ke sekolah.
Sang sopir segera menjalankan tugasnya. Dia menyalakan mesin kendaraan, kemudian menginjak pedal gas hingga mobil itu bergerak perlahan meninggalkan kediaman Anderson.
Mobil mewah itu semakin lama semakin menghilang hanya menyisakan kepulan asap knalpot bersumber dari kendaraan dengan harga cukup fantastik.
"Clarissa, masuk sebentar ke dalam. Kamu bantu saya mengecek kembali berkas yang akan dibawa ke kota M," titah Sean pada sang sekretaris. Tanpa pikir panjang, Clarissa menuruti perintah atasannya. Ia dan lelaki itu melangkah beriringan masuk ke dalam mansion.
"Awas kamu ya! Jika Sean sudah bertekuk lutut di hadapanku maka bersiaplah angkat kaki dari mansion ini. Akan aku minta Daddy-mu mengusir dirimu dari kehidupan kami selamanya." Karin menghentakkan kakinya di atas paving block, kemudian berjalan dengan wajah memerah menahan amarah. Merasa kesal karena telah dipermalukan oleh Xena di hadapan Clarissa, yang menurutnya merupakan saingan terberat dalam hidupnya.
Saat ini Sean dan Clarissa telah duduk di sofa. Jemari tangan sang sekretaris membuka setiap lembaran kertas putih yang diberikan oleh atasannya. Di saat wanita itu tengah sibuk dengan kegiatannya, Sean mencuri pandang ke arah nona muda Smith. Pria itu begitu kagum akan sosok wanita muda, enerjik dan periang seperti Clarissa.
"Kalau menurut arahan dari Anda, seharusnya semua berkas sudah terkumpul, Tuan. Jadi, kapan kita akan berangkat?" tanya Clarissa. Wanita itu merapikan berkas tersebut, kemudian memasukannya ke dalam tas dokumen transparan berwarna hijau. Ia dongakan kepala ke arah Sean, namun iris coklatnya tanpa sengaja bersitatap dengan mata hazel indah milik sang CEO.
Kedua insan manusia itu saling menatap satu sama lain dengan tatapan lekat. Semakin lama, tatapan itu semakin dalam hingga membuat tuan muda Anderson merasa kalau saat ini keadaan sekitar menjadi sunyi tanda ada satu orang pun di dunia ini selain dia dan Clarissa.
__ADS_1
Mendapat tatapan maut dari Sean serta senyuman langka bagai hewan badak bercula satu yang tengah dilestarikan oleh badan perlindungan hewan langka, Clarissa mengerahkan pesona yang dimiliki olehnya di hadapan sang bos berharap Sean semakin klepek-klepek sebelum akhirnya dia merebut suami Karin dan meminta pria itu mengusir wanita jahat itu dari kehidupan keluarga Anderson selamanya.
Belum hilang rasa kesal dalam diri Karin, ia kembali dibuat kesal atas sikap yang ditunjukan oleh lelaki yang menikahinya lima tahun lalu. Bagaimana tidak kesal, di depan matanya sendiri menyaksikan suaminya menatap wanita lain dengan tatapan mendamba. Sungguh, ia ingin sekali berhambur ke depan melayangkan sebuah tamparan keras kepada sang suami. Namun, logikanya masih berfungsi dengan baik hingga membuat wanita itu hanya dapat mengepalkan tangan guna mengurai emosi dalam diri.
Ehem!
Suara deheman Karin mengembalikan kesadaran Sean. Pria itu mengalihkan perhatian ke arah lain, sedangkan Clarissa tersenyum penuh kemenangan karena lagi dan lagi berhasil membuat Karin merasa jengkel.
Sang sekretaris menyelipkan sebagian rambut ke daun telinga, berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa antara dirinya dengan Sean. 'Ini baru permulaan saja Nyonya Karin. Kita lihat apa yang akan terjadi bila sampai Tuan Sean jatuh cinta kepadaku. Apakah kamu masih bisa bersikap angkuh di hadapan orang lain.'
'Tampaknya wanita ini ada niat terselubung hingga dia berani sekali menggoda Sean. Jika itu sampai terjadi maka aku harus bersiap menghadapi wanita j*l*ng ini!' batin Karin seraya memperhatikan Clarissa dari atas kepala hingga ke ujung kaki. Menghunuskan tatapan tajam ke arah wanita. 'Baiklah. Kita lihat siapa yang akan memenangkan pertarungan ini.'
.
.
.
__ADS_1