
Hari yang dinanti tiba. Sean telah bersiap menghadapi sidang perceraian yang akan diputuskan oleh hakim. Berkat bantuan seorang pengacara kondang tanah air, semuanya dapat berjalan lancar tanpa hambatan. Terlebih saat sidang mediasi, tuan muda Anderson tak menghadiri salah satu bagian penting dari sebuah perceraian sebelum hakim mengetuk palu. Oleh karena itu, tahapan menuju putusan pengadilan bisa lebih cepat dari biasanya.
Anita duduk dengan gelisah menunggu anak tercinta yang kini masih di dalam ruang sidang. Sean ditemani David serta Rio--pengacara keluarga Anderson sudah satu jam lebih belum menunjukan tanda-tanda akan keluar.
"Mama tenang saja, semua pasti berjalan lancar sesuai harapan kita semua," ujar Clarissa seraya menggenggam telapak tangan Anita yang mulai berkeringat. Dia mencoba menenangkan mama mertua yang sedari tadi tampak gelisah.
"Bagaimana kalau Iblis itu berkilah dan malah menyudutkan kalian berdua? Kita semua tahu perangai Karin seperti apa. Dia itu licik dan selalu punya akal untuk menyerang balik lawannya. Mama takut gugatan cerai Sean ditolak hakim." Raut wajah Anita semakin frustasi membayangkan Karin tetap menjadi bagian dari keluarga Anderson. Dia akan semakin merasa bersalah kepada Sean dan Xena karena telah salah memilih wanita salah sebagai pengganti Sabrina.
"Pasti dikabulkan kok, Ma. Kita punya bukti rekaman, foto kekerasan yang Karin lakukan terhadap Xena serta penuturan para saksi. Aku yakin dengan bukti itu hakim langsung menggabulkan gugatan cerai Sean. Bahkan bisa jadi, Karin ditahan karena telah melakukan penganiayaan terhadap anak meskipun Xena hanya anak tiri tetap saja ada undang-undangnya," pungkas Clarissa. Wanita itu mengusap pundak Anita dengan lembut. "Kita berdo'a saja, semoga segala urusan dipermudah Tuhan."
Tak berselang lama, Sean didampingi kuasa hukum dan David keluar dari ruang sidang. Air muka penuh kepuasan tergambar jelas di wajah.
Anita bangkit dari kursi, lalu mendekati Sean. "Nak, bagaimana? Apakah gugatan ceraimu dikabulkan hakim?" tanya wanita paruh baya dengan harap-harap cemas.
Sean menganggukan kepala. "Tentu saja dikabulkan. Mama tidak lihat betapa bahagianya aku hari ini? Setelah sekian lama, akhirnya hari yang dinantikan pun tiba. Hari di mana aku bebas dari belenggu mantan istriku."
Mendengar ucapan Sean, Anita bisa bernapas lega sekarang karena Karin telah pergi dari kehidupan mereka selamanya. Ada senyum kebahagiaan terlihat jelas di wajah. Begitu pun dengan David, Clarissa dan Rio. Semua orang bahagia, sebab dapat memenangkat gugatan perceraian.
David mengulurkan tangan ke depan seraya berkata, "Terima kasih, Pak Rio. Berkat bantuan Anda, semua urusan akhirnya berjalan lancar sesuai dengan harapan kami."
__ADS_1
Rio menerima uluran tangan itu dan menjabat tangan pria keturunan Amerika. Seulas senyum manis dia berikan kepada sang klien. "Ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang pengacara, membantu klien yang membutuhkan."
Ketika semua orang tengah larut dalam suasana bahagia, sekelompok wartawan datang mendekat. Mereka berbondong-bondong menghampiri Sean yang sedang berdiri di samping Clarissa.
"Tuan Sean Anderson, apa benar perceraian Anda dikarenakan kehadiran orang ketiga?"
"Tuan Sean, apakah tidak ada kemungkinan bagi Anda dan Nyonya Karin bersatu? Setahu saya, mantan istri Tuan adalah menantu kesayangan keluarga Anderson."
"Gosip yang beredar mengatakan bahwa orang ketida dalam rumah Anda adalah sekretaris di Anderson Grup. Lalu, apakah wanita di sebelah Anda adalah pelakor tersebut?" tanya salah satu wartawan sembari menatap tajam ke arah Clarissa.
Rentetan pertanyaan dari wartawan terus ditujukan kepada Anderson hingga membuat napas Clarissa sesak. Jepretan kamera tersorot pada sosok Clarissa yang berdiri di samping Sean. Tampaknya para wartawan itu berusaha mengorek informasi sedalam-dalamnya tentang berita yang sedang hangat beredar di tanah air.
Alih-alih membungkam mulut, para wartawan itu terus mencecar Sean dengan berbagai pertanyaan yang semakin membuat pria itu emosi. Mereka terus menyudutkan Clarissa, seakan wanita itu berperan antagonis dalam kisah rumah tangga antara tuan muda dan nyonya muda Anderson.
Melihat Sean serta Clarissa menjadi santapan empuk para pemburu berita, David tidak tega. Terlebih saat ini ada calon cucunya di kandungan sang sekretaris. Dia mengayunkan kaki menerobos kerumunan. Pria paruh baya itu berusaha membawa tubuh sang menantu pergi dari tempat semula.
"Papa?" pekik Sean tertahan kala melihat pria berambut keperakan berada di sebelah Clarissa.
"Alihkan perhatian mereka. Papa akan membawa Clarissa pulang ke rumah," bisik David. Berpikir inilah satu-satunya cara agar Clarissa bisa terlepas dari para wartawan itu.
__ADS_1
Sean melirik sekilas ke arah Clarissa. Hati terkoyak seakan ditikam oleh sebilas pisau tajam. Terselip rasa penyesalan karena mengizinkan istri tercinta ikut mengantarkannya menuju ruang persidangan. Andai dia tahu akan ada kejadian ini, sudah pasti meminta sang istri tetap berada di mansion bersama Anita.
Tanpa pikir panjang, Sean melangkah beberapa langkah ke depan mencoba memancing wartawan itu mengikutinya. Dengan begitu, dia berharap konsentrasi mereka pecah dan David bisa membawa Clarissa masuk ke dalam mobil.
Terjadi keheningan beberapa saat di dalam mobil. Terlihat Clarissa masih cukup terkejut akan kejadian tadi. Wanita itu masih terdiam meski sudah beberapa menit lalu meninggalkan pengadilan agama. Baik Anita ataupun David tak mau mengganggu. Mereka memberikan ruang bagi wanita itu untuk menenangkan diri.
"Mulai besok Papa akan meminta Antonio mencarikan pengawal untuk Clarissa. Papa tidak mau kejadian tadi terulang lagi." Perkataan David memecah keheningan.
Anita yang duduk di sebelah Clarissa menatap suaminya dari kaca spion. "Mama sih setuju saja, Pa. Tapi ... kalau bisa carikan pengawal perempuan agar Sean tidak emosi ketika melihat Clarissa pergi diantar pria lain. Papa tahu sendiri bagaimana kalau Sean sedang marah," ucap wanita paruh baya itu. "Lebih baik mencegah sebelum terjadi sesuatu hal yang tak diharapkan."
David membalas tatapan Anita dari kaca spion yang sama. Dengan suara lantang pria itu menjawab, "Baik. Papa akan mencarikan satu orang pengawal perempuan dari tiga pengawal laki-laki. Selama berada di luar rumah, Clarissa wajib dikawal oleh pengawal. Papa yakin, para wartawan itu tidak akan berhenti sampai mendapatkam apa yang diinginkan."
"Kamu, Ma, harus berhati-hati dalam bertutur kata. Jangan sampai ucapanmu menjadi boomerang kita semua," tegas David menjelaskan. Selama hampir tiga puluh tahun hidup berumah tangga, dia tahu betul bagaimana karakter Anita yang tak mampu mengontrol diri. Terkadang mengatakan sesuatu yang tak seharusnya dikatakan.
Anita mendesaah pelan. Perkataan yang diucapkan David bukan hanya sebuah peringatan melainkan juga sebuah titah yang harus dituruti. "Iya, Pa. Aku akan lebih berhati-hati lagi dalam bertindak." Sementara Clarissa lebih memilih diam daripada terlibat dalam percakapan antara kedua mertuanya.
.
.
__ADS_1
.