
Waktu menunjukan pukul tujuh kurang lima belas menit. Seorang wanita cantik bermata almond tengah duduk manis di kursi belakang. Hari ini ia sengaja memesan taxi online yang akan mengantarkannya ke kediaman Anderson.
Sesuai rencana, Clarissa bersama Sean serta Ibrahim akan pergi meninjau proyek pembangunan rumah sakit di kota M. Wanita itu diminta datang terlebih dulu ke mansion, mengambil berkas penting yang tertinggal. Sementara Ibrahim menunggu pasangan pria dan wanita itu di landasan pacu jet pribadi.
"Kita sudah sampai di tujuan, Nona. Mau diturunkan di depan sini atau tepat di depan pintu masuk mansion?" tanya sang sopir taxi ketika kendaraan roda empat miliknya berhenti tepat di depan sebuah gerbang yang menjulang tinggi dengan sepuhan warna keemasan.
Clarissa yang tengah asyik memainkan telepon selular mendongakan kepala, menatap bangunan mewah nan megah di depan sana. Delapan buah pilar besar menopang bangunan megah dua lantai bergaya Mediterania.
Sudut bibir sebelah kanan wanita itu tertarik ke atas. Dadanya bergerak kembang kempis, tangan kanan mengepal sempurna hingga memperlihatkan buku putih kuku. Tampak jelas kilatan emosi terpancar di sorot matanya yang indah, tetapi tidak ada satu orang pun melihatnya.
Clarissa tersenyum, namun bukan mengulum senyuman ramah melainkan seulas senyum yang mengandung sebuah arti. Dalam hati merasa bahagia karena setelah lima tahun lamanya, akhirnya dia dapat berjumpa dengan seseorang di masa lalunya.
Wanita cantik yang duduk di kursi belakang mengangkat dagunya ke atas sambil menghela napas panjang. "Turunkan saya tepat di depan pintu masuk mansion saja, Pak. Sang empunya mansion sudah memberikan titah pada saya agar segera masuk ke dalam setelah kita sampai."
"Baiklah kalau Nona mau begitu, saya akan mengantarkan Anda sampai tujuan." Lantas, sopir taxi online itu kembali menancap gas mendekati pintu gerbang.
Saat mobil telah berhenti tepat di depan pintu gerbang, salah satu pengawal memeriksa identitas Clarissa beserta sopirnya meskipun ada bukti real yang menunjukan bahwa kedatangan wanita itu atas suruhan Sean, tetapi kedua penjaga itu tetap menjalankan tugas yang diberikan oleh sang tuan besar.
"Aman!" seru salah satu petugas keamanan yang bertugas memeriksa isi bagasi menggunakan metal detector. Satu orang memeriksa identitas pengemudi dan penumpang, satu lagi memeriksa bagasi mobil untuk memastikan bahwa tidak ada barang berbahaya yang disembunyikan oleh penyusup.
__ADS_1
Sebagai pebisnis sukses, tentu saja David Anderson banyak mempunyai pesaing hingga tidak menutup kemungkinan salah satu dari mereka dendam dan berniat melakukan tindakan kejahatan kepada anggota keluarga Anderson sehingga keamanan begitu penting bagi mereka.
"Silakan masuk, Nona Clarissa. Maaf sudah menyita waktu Anda," ucap salah satu petugas keamanan. Pria berseragam hitam mengetahui nama Clarissa setelah membaca kartu identitas wanita itu.
Alih-alih merasa tersinggung atas sikap berlebihan yang ditunjukan kepadanya, Clarissa tersenyum hangat dan berkata, "Tidak masalah, Pak. Kalian hanya mengerjakan tugas saja. Jadi, saya bisa memakluminya."
Kedua petugas keamanan membungkuk kepala, memberi hormat kepada Clarissa. Mereka memperlakukan tamu sang majikan dengan baik, sebagaimana majikannyan sendiri.
Usai memberikan pecahan uang lima puluh ribuan sebanyak tiga lembar, Clarissa turun dari mobil. Tubuh tinggi semampai, badan bak gitar Spanyol berlenggak lenggok bagai seorang pragawati di atas cat walk. Blouse warna peach dipadu rok putih di bawah lutut dan tidak lupa senyuman manis semakin membuat wanita itu tampak mempesona, bagai seorang Bidadari yang turun dari Khayangan.
"Selamat pagi, Nona," sapa sang pelayan sopan. Beberapa orang pelayan membungkukan kepala mereka di hadapan Clarissa.
Para pelayan itu telah diberitahu terlebih dulu jikalau akan ada wanita muda datang ke mansion yang tak lain adalah sekretaris pribadi Sean. Oleh karena itu, mereka menyambut ramah tamu penting tersebut.
"Ada, Nona. Tuan Sean sudah memberitahu saya kalau akan ada sekretarisnya datang ke sini membawa berkas penting perusahaan," ucap kepala pelayan. "Kebetulan, saat ini Tuan masih berolahraga di ruangan sasana kebugaran. Mungkin sepuluh menit lagi selesai. Tadi sempat memberikan pesan kepada saya untuk mengantarkan Nona ke ruang tamu, menunggu Tuan Sean menyelesaikan olahraga rutinnya."
"Ah ... begitu." Clarissa menganggukan kepalanya. "Ya sudah, tidak masalah. Saya bisa menunggunya."
"Mari, Nona. Saya antarkan Anda ke dalam." Kepala pelayan itu menunjukan arah kepada Clarissa dan mempersilakan wanita itu duduk di sofa.
__ADS_1
Mendudukan bokong sintal itu ke atas sofa. Clarissa mengedarkan pandangan ke arah sekitar, memperhatikan setiap hiasan dinding rumah itu. Senyuman mengembang ketika netranya melihat seorang wanita dalam keadaan berbadan dua tengah duduk di tepian danau dengan latar belakang sinar mentari yang hendak kembali ke peraduannya.
Cahaya lembayung senja berwarna orange keemasan saat matahari terbenam menerpa sisi wajah wanita itu dari sebelah kanan. Wajah oval, lesung pipi di kedua sudut bibir serta sorot mata teduh membuat wanita dalam foto tersebut terlihat begitu cantik.
"Pantas saja paras Nona Xena cantik, rupanya sang Mama merupakan wanita tercantik di muka bumi ini," gumam Clarissa, memuji kecantikan alami Sabrina. Walaupun tanpa riasan make up tebal, malah terkesan sangat natural namun aura kecantikan Sabrina tetap terpancar.
Sebagai seorang wanita, Clarissa saja jatuh hati kepada Sabrina pada pandangan pertama apalagi para kaum Adam. Mereka pasti berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang dari wanita itu. Dari sekian banyak lelaki, hanya Sean-lah yang beruntung menjadikan wanita itu sebagai Ratu di hatinya.
Namun sayang, usia Sabrina tidak panjang. Dia meninggal sesaat setelah melahirkan Xena ke dunia ini. Meskipun begitu, nama Sabrina akan terus terpatri indah di hati Sean dan Xena untuk selamanya.
Cukup lama Clarissa menunggu kehadiran Sean di hadapannya, tetapi pria itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Agar tak merasa bosan karena terlalu lama menunggu, wanita itu mengulurkan tangan ke depan meraih majalah fashion di atas meja.
"Ehm ... rupanya merk Kremes telah meluncurkan kembali koleksi tas terbaru. Sepertinya akhir pekan ini aku harus pergi ke mall, membeli tas mahal ini. Jika tidak, aku pasti menyesal karena ini merupakan produk limited edition," ujar Clarissa. Membulatkan tekad pergi berbelanja di akhir pekan. Apa pun yang terjadi, dia harus mendapatkan barang tersebut meski dirinya masih berada di kota M.
Perhatian Clarissa teralihkan kala suara seorang wanita berderap menuju ruang tamu. Ia mendongakan kepala, menatap seorang wanita berdiri sambil memandangi dirinya dengan penuh tanda tanya.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Clarissa ramah. Tersenyum lebar dengan sorot mata penuh kebencian.
.
__ADS_1
.
.