
Sedari tadi, rupanya Karin tengah memperhatikan Sean dari kejauhan. Dimulai ketika pria itu berbincang dengan Clarissa hingga pergi meninggalkan ballroom hotel menuju toilet, semua tak luput dari pandangan nyonya muda Anderson. Namun, saat ia hendak menyusul tiba-tiba saja ....
"Karin, kamu mau ke mana, Sayang. Sini, jangan bepergian jauh. Mama mau kenalkan kamu sama sahabat Mama yang tinggal di London." Suara Anita menghentikan langkah kaki istri kedua Sean. Mertuanya itu menarik lengan sang menantu, membawanya menuju meja yang diisi oleh sepasang suami istri berusia sekitar lima puluh tahun.
Karin gelagapan saat jemari lembut Anita menarik paksa lengannya. "Eh ... Ma. A-aku mau--"
"Mau apa, hem? Kalau kamu mau makan, tunggu setelah bertemu teman lama Mama. Setelah itu, kamu boleh habiskan semua hidangan di pesta ini," sergah Anita sebelum Karin menyelesaikan kalimatnya. "Selagi dia di Indonesia, kamu wajib bertemu dengannya. Kamu pasti suka berbincang dengan teman Mama."
"Ma, tapi ...." Akan tetapi, Anita tak mengindahkan ucapan menantunya. Ia terus menarik lengan ibu tiri Xena menuju sebuah meja di depan sana.
Di saat seperti ini kenapa harus bertemu Mama Anita sih! Bagaimana kalau ternyata obat perangsang itu telah bereaksi dan Sean tengah membutuhkan pelampiasan? Lalu, siapa yang akan menemani pria itu jika bukan aku? batin Karin dalam hati. Sedikit kesal, ketika ia tengah menjalankan misi ada seorang pengganggu yang menghalangi langkahnya.
Ingin menolak tetapi tak enak, sebab hanya Anita yang dapat membantu Karin mempertahankan statusnya sebagai nyonya muda di kediaman Anderson. Bila hubungannya dengan sang mertua renggang maka posisi wanita muda itu sebagai istri, ibu tiri serta menantu Anderson terancam. Pada akhirnya, ia hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan Anita.
***
Sean berjalan mengikuti langkah kaki Ibrahim. Tubuh pria itu dipapah oleh asisten pribadinya menuju ruangan ballroom. Mereka berbelok ke sisi kanan, kemudian melangkah hingga suara hiruk pikuk para pengunjung hotel mulai terdengar. Beberapa langkah lagi mereka akan melewati lobi hotel, tetapi langkah kaki terhenti ketika melihat Clarissa berjalan ke arah dua pria itu.
"Tuan Ibrahim, ada apa dengan Tuan Sean?" tanya Clarissa cemas. Ia berhambur mendekati dua sosok lelaki tampan dalam balutan jas warna hitam.
"Tampaknya ada seseorang yang sedang bermain-main dengan Tuan Sean, Nona. Orang itu telah mencampurkan sesuatu di minuman Bos kita," sahut Ibrahim.
Sepasang bola mata almond bergerak, memperhatikan wajah Sean. Penampilan berantakan, wajah memerah disertai sorot mata kesakitan akibat menahan hasrat yang terus meronta meminta untuk segera dilampiaskan.
__ADS_1
Melihat keadaan Sean, ia teringat akan kejadian beberapa tahun silam saat dirinya dijebak oleh wanita iblis yang berniat menghancurkan kebahagiaannya. Miris dan tak tega terlukis jelas di sorot mata Clarissa.
"Lalu, kamu mau bawa Tuan Sean ke mana?" Clarissa kembali mengajukan pertanyaan. Pandangan mata masih menatap ke arah Sean.
"Tentu saja pergi menemui Nyonya Karina. Hanya dia satu-satunya yang dapat menolong Tuan Sean dari penderitaan ini."
Sean menggeleng cepat dan menjawab dengan lirih. "No! No! Jangan bawa aku menemui wanita itu! Lebih baik kalian bawa aku ke kamar hotel sekarang. Aku ingin berendam air dingin saja."
"Tapi, Tuan. Jika saya membiarkan Anda berendam semalaman, bisa dipastikan esok hari tubuh Tuan demam dan kemungkinan besar agenda kegiatan berantakan." Ibrahim mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Persetan dengan itu semua! Aku cuma mau terbebas dari obat terkutuk ini, Ibrahim!" sembur Sean dengan nada tinggi.
Tampak Clarissa sedang berpikir, mencari jalan keluar terbaik agar masalah ini segera selesai. Jujur, ia pun sebenarnya tidak mau jikalau Sean menghabiskan malam bersama Karin, sebab tahu betul apa yang akan terjadi selanjutnya kalau sampai itu terjadi. Bisa saja Karin mengaku tengah berbadan dua dan posisinya semakin kuat hingga Clarissa tak bisa menyingkirkan iblis berwujud manusia dari keluarga Anderson selamanya.
Sepasang netra Ibrahim terbelalak sempurna kala mendengar permintaan Clarissa. Tak mengerti apa yang ada dalam isi kepala wanita itu. Namun, ia tetap menuruti permintaan kedua orang tersebut.
"Baiklah, saya akan membawa Tuan Sean ke kamar sekarang." Ibrahim melirik ke arah Bosnya. "Anda masih kuat berjalan hingga ke lantai atas, 'kan, Tuan?" Ayah kandung Xena hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
Tak membutuhkan waktu lama, Sean sudah berada di sebuah kamar yang telah dipesan David selama mereka berada di hotel tersebut. Malam ini, pebisnis sukses berdarah Amerika ingin seluruh anggota keluarga menikmati akhir pekan bersama dengan suasana berbeda. Ia mengajak serta seluruh pelayan di kediaman Anderson berlibur bersama sambil menikmati kemeriahan pesta.
"Ibrahim, tolong nyalakan kran air dan isi sampai penuh bath tub di kamar mandi," titah Sean kepada Ibrahim. Pria bertubuh jangkung melangkah meninggalkan bos serta rekan kerjanya menuju kamar mandi.
Kini hanya ada Sean dan Clarissa di ruangan tersebut. Pria itu melemparkan jas yang membalut tubuh kekarnya ke sembarang arah, kemudian melonggarkan ikatan dasi yang melilit di leher. Tanpa sengaja, pandangan mata pria itu terarah pada dua bongkahan kenyal yang bersembunyi di balik gaun berwarna marun.
__ADS_1
Deru napas semakin memburu, seiring detak jantung yang terus memompa lebih cepat dari biasanya. Hawa panas terus menjalar ke seluruh permukaan kulit hingga membuat kulit putih pria itu berubah seperti buah ceri.
Sebenarnya ia ingin sekali mengajak Clarissa naik ke atas ranjang saat ini juga. Menghabiskan malam bersama, memadu kasih hingga ia dan sang sekretaris meneguk manisnya surga dunia yang belum pernah dirasakan. Akan tetapi, nalar pria itu masih berpikir jernih untuk tidak melakukan perbuatan yang tak seharusnya dilakukan oleh seorang pria dan wanita tanpa adanya ikatan pernikahan di antara keduanya. Meskipun Sean merasa ada sesuatu hal menarik dalam diri Clarissa yang membuat pria itu kagum, tetapi ia tidak mau memanfaatkan wanita itu hanya untuk dijadikan pemuas napsu belaka.
"Nona Clarissa, sebaiknya kamu kembali ke pesta. Tinggalkan saya seorang diri. Saya tidak mau kamu terus berada di sini," ucap Sean sambil menahan gejolak hasrat dalam diri. Keinginan untuk bercinta dengan Clarissa semakin menjadi-jadi ketika kepingan kejadian saat ia melampiaskan keinginannya akibat ulah Karin yang memancing sisi lain dari seorang Sean Anderson.
Clarissa menoleh, menatap lekat iris hazel pria di seberangnya. "Memangnya kenapa kalau saya berada di dekat Anda, Tuan? Apakah Tuan takut di antara kita terjadi sesuatu?"
Sean berdecak kesal sambil melemparkan dasi ke atas meja bundar di sudut kamar. "Seharusnya pertanyaan itu kamu jawab sendiri, sebab kamulah yang akan menjadi korban bukan saya."
Clarissa terkekeh sambil mengayunkan kaki menuju sofa di dekat jendela kamar. Menumpangkan kaki kanan ke atas kaki kiri. Ia menatap tajam ke arah Sean sambil berkata, "Kalau saya sih, tidak takut. Hanya sekadar bercinta satu malam dengan Tuan, saya rasa tak masalah. Kapan lagi saya dapat menikmati malam panjang berdua dengan pria tampan seperti Anda."
Sean cukup terkejut mendengar jawaban Clarissa. Meskipun begitu, tak bisa dipungkiri jika hati pria itu berbunga-bunga, merasa tersanjung karena dipuji oleh seorang wanita yang sepertinya disukai olehnya. Benar, tampaknya virus merah jambu telah bersemayam dalam diri tuan muda Anderson. Tidak tahu pasti kapan panas asmara itu menancap di hati ayah kandung Xena Humairah Anderson. Namun, yang pasti saat ini ia telah mencintai sang sekretaris.
Untuk memastikan jika saat ini ia sedang tak berhalusinasi, pria berhidung mancung dan berambut pirang kecoklatan kembali berkata, "Kamu serius dengan ucapanmu? Saya tidak mau disebut pria berengsek karena meniduri sekretarisnya."
Dengan mantap Clarissa menjawab, "Serius! Kalau Tuan mau, saya pun bersedia menjadi partner ranjang Anda."
Sean tersenyum smirk, menatap penuh arti pada sosok wanita cantik jelita di seberang sana. "Berikan pelayanan terbaikmu malam ini. Jangan kecewakan saya!"
.
.
__ADS_1
.