Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Mengubur Masa Lalu dan Memulai Lembaran Baru


__ADS_3

"Nyonya Clarissa, yang tadi itu siapa? Sepertinya saya baru pertama kali melihatnya," tanya Lori saat ia dan Clarissa keluar dari toko roti. Empat kantong belanja ada di tangan wanita itu dengan masing-masing tangan membawa dua kantong belanjaan berisi cake untuk pengawal, sopir dan pelayan di mansion Anderson.


Clarissa melirik sekilas, kemudian ekor matanya menatap lurus ke depan. "Bukan siapa-siapa. Hanya lelaki iseng yang ingin berkenalan. Namun, sayangnya aku sudah ada yang memiliki."


"Aah ... kasihan sekali. Pantas saja wajahnya memerah seperti tingah menahan kemarahan saat dia keluar dari toko kue. Rupanya dia baru saja mendapat penolakan dari Nyonya." Lori terkekeh setengah berkelakar.


"Kamu harus ingat, apa pun yang kamu lihat dan kamu dengar jangan sampai diketahui oleh siapa pun. Aku tidak mau suami serta kedua mertuaku khawatir. Selagi aku bisa menangani maka jangan pernah sekalipun memberitahu mereka." Clarissa kembali mengingatkan Lori untuk selalu menutup rapat mulutnya selama bekerja.


Lori mengangguk. "Baik, Nyonya! Saya selalu mengingat perkataan Anda."


Sementara itu, sesosok pria bermata sipit tampak sedang termenung sambil menatap keluar jendela. Tatapan pria itu menerawang jauh mengingat kembali kejadian beberapa waktu lalu tatkala ia bertemu dengan Clarissa. Niat hati merayu wanita itu agar bersedia meninggalkan Sean dan hidup bersamaannya tetapi sesuatu hal tanpa terduga terjadi.


Flash back on


"Aku tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seseorang yang dicintai terlebih dia meninggalkan kita untuk selamanya. Namun, bila kamu berniat membalas dendam pada seseorang yang sama sekali tidak bersalah itu sama saja seperti cari penyakit sendiri. Penolakan Sabrina tidak ada sangkut pautnya dengan Sean, juga bukan kesalahan mendiang sahabatmu. Itu semua cuma masalah perasaan yang tidak dipaksakan," tutur Clarissa sebelum percakapan antara dia dan Mister White atau Akeno berakhir.


"Kamu tahu sejak dulu, Sabrina hanya menganggapmu sebagai sahabat seharusnya kamu menerima kenyataan itu bukan malah memaksakan kehendakmu agar dia merubah rasa sayangnya dari seorang sahabat menjadi seorang kekasih. Jika kamu terus memaksa, itu artinya kamu egois, tidak mau memikirkan perasaan orang lain. Lalu, setelah dia meninggal kamu ingin balas dendam padahal kematian Sabrina merupakan takdir dari Tuhan."

__ADS_1


"Kamu berniat merebut kebahagiaan Sean agar dia merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh orang yang kita cintai." Clarissa menggelengkan kepala sambil tersenyum smirk. "Kamu cuma buang waktu dan tenaga. Coba kamu pikir, berapa banyak waktu yang terbuang hanya untuk balas dendam kepada orang yang salah. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mencari kebahagiaanmu sendiri malah digunakan untuk suatu hal tak berfaedah. Ada-ada saja."


Clarissa mengatakan itu karena tidak mau mister White terus memupuk rasa benci dan dendamnya kepada seseorang. Ia ingin pria itu hidup bahagia tanpa memikirkan cara bagaimana membalas dendam kepada orang lain.


Lelah, itulah yang dirasakan selama lima tahun belakangan ini oleh Clarissa. Hidup tidak tenang dan tidur selalu gelisah. Ia tidak mau jika ada orang lain mengalami apa yang dialami olehnya selama ini.


Clarissa menyenderkan punggungnya ke belakang kursi sambil terus menatap mister White. "Aku yakin kalau Sabrina masih hidup, dia pasti sedih melihat satu-satunya sahabat terbaik dalam hidupnya malah sibuk mencari cara untuk menghancurkan kehidupan dari seorang lelaki yang tak lain adalah suaminya sendiri. Dia akan menangis di atas sana karena melihatmu berubah menjadi sosok pria jahat padahal dulu kamu adalah pria baik hati yang selalu bersikap lembut kepada siapa pun. Bahkan, untuk membunuh semut pun kamu tidak tega." Terkekeh pelan agar suasana tidak semakin tegang.


"Tapi kini, setelah kepergian Sabrina, kamu malah berubah menjadi sosok yang menyebalkan. Hanya karena ditolak membuatmu sikap welas asih dalam dirimu sirna begitu saja. Sungguh sangat disayangkan."


Mister White terdiam mendengar semua perkataan Clarissa. Kalimat itu bagaikan sebuah tamparan keras yang mampu membungkam mulutnya detik itu juga.


Flash back off


"Tuan, apa yang akan kita lakukan sekarang? Ingin saya menculik Nona Clarissa dan membawanya pergi dari negara ini, lalu menutup semua akses hingga keluarga Anderson tak dapat menemukan jejak kita?" Asisten pribadi mister White memperhatikan sang bos yang sedari tadi membeku di tempat.


Perkataan asisten pribadinya mengembalikan kesadaran mister White. Ia berdehem untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering dan perih seakan ada segerombolan kaktus menancap di sana.

__ADS_1


"Biarkan wanita itu hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya. Aku ... tidak mau merusak kebahagiaan orang lain," jawab Mister White pada akhirnya. "Perintahkan anak buah kita untuk tidak membuntuti wanita itu lagi. Aku sudah tak berniat membalas dendam kepada Sean ataupun keluarganya. Aku mau memulai lembaran baru hidupku tanpa ada rasa dendam sedikit pun."


Sebagai seorang asisten, tentu saja Pratama harus menuruti semua perintah dari atasannya. Menganggukan kepala cepat seraya berkata, "Baik, Tuan. Saya akan memerintahkan mereka untuk mundur saat ini juga." Tanpa diperintah kedua kali, bodyguard sekaligus asisten pribadi mister White segera menjalankan tugasnya.


Terima kasih Clarissa, karena kamu telah membuka mata hatiku. Kudo'akan, semoga kamu dan Sean hidup bahagia selamanya.


Sabrina, sahabatku. Maafkan aku karena pernah berniat menghancurkan kebahagiaan suamimu. Namun, kini aku sadar jika yang kuperbuat selama ini merupakan suatu kesalahan besar. Oleh karena itu, aku akan mengikhlaskan semua yang terjadi kepadaku juga kepadamu. Beristirahatlah dengan tenang di alam sana, Sabrina, sahabat sekaligus cinta pertamaku.


.


.


.


Halo semua, author update lagi nih. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya.


Oh iya, author juga mau mempromosikan karya terbaruku yang diikutsertakan dalam lomba. Mohon dukungannya.

__ADS_1



__ADS_2