Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Thank You My Wife


__ADS_3

Sejak kecil, Sean Anderson dididik dan dibesarkan oleh kedua orang tuanya agar menjadi pria kuat, tegar dan bertanggung jawab. Jadi jangan heran setelah meniduri Clarissa, ia berniat menikahi sekretarisnya itu secara siri bukan hanya sebagai bentuk pertanggungjawaban belaka, melainkan juga ingin membina rumah tangga samawa (sakinah mawadah warrahmah) bersama orang tercinta.


Tepat pukul sembilan pagi, di kediaman Clarissa telah berlangsung akad nikah yang hanya dihadiri oleh penghulu, saksi serta dua orang pelayan yang bekerja di apartemen sang sekretaris. Walaupun pernikahan tersebut berlangsung secara sederhana tanpa adanya pesta, tetapi Sean memberikan mahar yang cukup mahal. Satu unit rumah mewah di kawasan Jakarta Selatan serta cincin berlian berharga milyaran rupiah telah melingkar di jemari manis wanita itu. Semua itu ia berikan khusus untuk calon istri tercinta.


"Sayang, kamu kenapa melamun?" tanya Sean sambil melingkarkan tangan di pinggang istrinya. Kini, Sean dan Clarissa telah resmi menjadi sepasang suami istri sehingga mereka bebas melakukan apa pun tanpa takut digerebek warga.


Clarissa mengusap punggung tangan Sean yang melingkar di pinggang tanpa mengalihkan pandangan dari jendela besar menghadap pemandangan sebuah taman kota.


"Aku hanya sedang berpikir, bagaimana reaksi Nyonya Karin bila tahu kamu telah mempersuntingku? Dia pasti marah dan kecewa karena aku telah merebutmu dari sisinya," jawab Clarissa. "Lalu, jawaban apa yang kamu beri jika kabar pernikahan ini sampai di telinga istrimu? Seandainya dia memintamu berpisah denganku, apakah kamu bersedia menceraikanku detik itu juga?"


Sean cukup terkejut mendapat pertanyaan tersebut karena tidak menduga Clarissa akan membahas soal perceraian padahal mereka baru dua jam lalu resmi menjadi sepasang suami istri.


Tangan kekar yang memperlihatkan sedikit urat menonjol keluar membalikan badan istrinya secara perlahan hingga posisi mereka saling berhadapan. "Mungkin saja dia kecewa dan marah. Namun, aku tak peduli, sebab dari dulu memang tidak pernah mencintai wanita itu. Aku menikahinya hanya untuk balas budi saja, bukan karena tulus mencintai dia seperti aku mencintai mendiang Sabrina dan kamu." Pria itu menjeda sejenak kalimatnya, lalu kembali berucap, "Apa pun yang terjadi di kemudian hari, aku tidak akan pernah menceraikanmu. Selamanya, kamu tetap menjadi istriku. Ibu bagi Xena dan anak-anak kita. Jadi, aku mohon, buang jauh prasangka burukmu itu. Aku tak mau rumah tangga kita hancur hanya karena masalah ini."


"Lebih baik, kamu cepat berkemas kita bergegas pindah ke rumah baru. Di sana tempatnya lebih luas dari apartemenmu ini. Segala fasilitas tersedia dan jaraknya pun tidak terlalu jauh dari kantor sehingga kamu tak perlu terjebak macet saat hendak pergi dan pulang bekerja." Sean tersenyum dan mencium puncak kepala Clarissa dengan lembut. Setelah itu, mereka berpelukan sambil menatap langit yang sama.


***


"Loh Karin, Sean ke mana, kenapa dia tidak terlihat sejak sarapan tadi?" tanya Anita sambil celingukan mencari keberadaan anak tercinta. Saat ini, ia beserta suami dan menantu sedang duduk di lobi hotel menunggu asisten David melakukan proses check out sedangkan Xena tampak asyik bermain bersama Imelda di taman bermain yang ada di sudut lobi. Spot tersebut secara khusus dibuat bagi anak-anak balita agar mereka tak merasa jenuh saat menunggu.

__ADS_1


Karin cemberut hingga bibir yang dipoles gincu warna merah menyala maju beberapa centi ke depan. "Entahlah, Ma, aku tidak tahu ke mana perginya suamiku. Semalam, saat aku hendak menemuinya di kamar, ada orang yang mempersulitku." Meninggikan nada suara, berharap David mendengar ucapannya. Dia kesal karena semalam papa mertuanya bekerjasama dengan Ibrahim untuk mencegahnya menemui sang suami.


Alis Anita mengerut, ia mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi tadi malam. Terlalu asyik berbincang dengan teman-teman hingga membuat wanita paruh baya itu tidak mengetahui kalau menantu kesayangannya mengalami kesulitan. Seandainya saja ia tahu sudah pasti membantu Karin agar dapat bertemu dengan Sean.


"Katakan pada Mama, siapa yang berani mempersulit menantu keluarga Anderson. Memangnya dia tidak tahu, kalau kamu itu adalah menantu kesayangan Mama," ucap Anita.


Seandainya saja Anita tahu bahwa Karin adalah wanita berhati iblis masihkah dia membanggakan menantunya itu? Seorang menantu yang diharapkan dapat menjaga, mencintai serta menyayangi cucu tercinta, rupanya malah memperlakukan Xena dengan semena-mena padahal gadis kecil itu adalah calon penerus keluarga Anderson.


Laksana mendapat guyuran air hujan di musim kemarau yang panjang, bola mata Karin berbinar bahagia merasa jalan terbuka lebar baginya untuk mengadu kepada mama mertua maka detik itu juga ia menggunakan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya.


Karin telah membuka mulut, bersiap menceritakan semuanya kepada Anita. Namun, suara bariton seseorang menghentikan sejenak kegiatannya tersebut.


"Ma, ayo kita pergi sekarang! Antonio sudah selesai mengurus segalanya," kata David sambil mengulurkan tangan ke depan. "Selagi masih pagi, jalanan juga belum terlalu macet. Kalau siang sedikit jangan harap bisa sampai rumah tepat waktu."


Sepasang suami istri itu melangkah bersama menuju taman bermain yang ada di sudut lobi, memanggil cucu tercinta. Setelah itu, barulah mereka melangkah menuju pintu masuk hotel. Di sana sudah ada dua unit mobil mewah yang siap mengantar para majikan pulang ke mansion.


"Kali ini aku gagal mengadu dombamu dengan Nenek peot itu, tetapi lihat saja besok atau lusa akan terjadi perang ketiga antara Tuan dan Nyonya besar Anderson," gumam Karin lirih. Meremas jemari tangan menahan amarah yang bergelayut manja di dalam dada.


***

__ADS_1


Satu unit kendaraan mahal berhenti persis di depan pintu masuk sebuah rumah mewah berlantai dua bergaya Eropa klasik dengan empat buah pilar besar menyangga bangunan megah tersebut. Halaman rumah tersebut cukup luas dan juga asri karena ditumbuhi beraneka ragam tumbuh-tumbuhan. Walaupun berada di pusat ibu kota, tetapi udara sekitar cukup segar sehingga membuat siapa saja akan merasa nyaman berada di sana.


Clarissa membeku di tempat sambil memandang kagum pada bangunan megah menjulang tinggi ke awang. Seumur hidup, tak pernah sekalipun berpikir akan mendapatkan mahar dari suami berupa sesuatu yang mewah seperti di depannya saat ini. Dulu, saat ia menikah 'tuk pertama kali sang suami hanya memberikan cincin sepuluh gram sebagai mahar dan itu pun telah ia buang setelah tahu kalau pria yang telah menghamilinya berselingkuh dengan wanita berhati iblis.


"Rumah ini kini resmi menjadi milikmu. Kamu bebas melakukan apa pun sesuka hatimu di dalam sana. Berbagai fasilitas telah kusediakan sehingga kamu tidak perlu repot pergi keluar. Kalaupun terpaksa keluar rumah, akan ada sopir yang mengantar jemputmu tepat waktu jadi keselamatanmu aman." Merangkul pundak Clarissa sambil memandang lurus ke depan.


"Jika ternyata desain interior serta furnitur di dalam rumah tersebut tidak sesuai selera, kamu boleh mengganti semuanya dengan yang baru. Nanti aku berikan black card yang bisa digunakan olehmu sesuka hati," sambung Sean santai.


Tinggi badan antara Clarissa dan Sean tak terlalu jauh. Kendati begitu saat ia hendak menatap wajah rupawan sang suami, tentu saja harus mendongakan kepala.


Dengan suara lembut wanita itu berucap, "Terima kasih banyak, Sayang. Aku tidak tahu harus dengan cara apa membalas semua kebaikanmu. Aku merasa beruntung bisa diperistri olehmu."


Dua sudut bibir tertarik ke atas hingga membentuk garis lengkung bagai busur panah. "Jangan mengucapkan terima kasih, ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang suami. Kedepannya, aku harap kita bisa bekerjasama dalam membina rumah tangga yang harmonis. Aku pun ingin meminta kepadamu, tolong sayangi dan cintai Xena dengan sepenuh hati."


Jemari lentik Clarissa menangkup wajah Sean, memainkan bulu-bulu halus di area sekitar rahang. "Tanpa kamu minta, aku pasti menyayangi dan mencintai Xena dengan segenap jiwa dan ragaku. Menganggap dia seperti anak kandungku sendiri."


"Thank you, My Wife!" ucap Sean yang diakhiri sebuah kecupan di bibir ranum istrinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2