Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Sumpah Clarissa


__ADS_3

Usai mendengar penjelasan dari Clarissa, Sean bergegas pulang ke rumah. Sementara waktu, urusan pekerjaan ia serahkan kepada Ibrahim--sang asisten. Pikiran pria itu kacau setelah mendengar laporan bahwa selama ini Karin telah memperlakukan Xena dengan semena-mena. Terselip rasa bersalah karena tidak terlalu memedulikan anak tercinta dan lebih menyibukkan diri dengan pekerjaan.


Melangkah dengan langkah panjang sambil sesekali memperhatikan istri tercinta yang sedang berjalan di sebelahnya. Sengaja mengajak wanita itu sebagai saksi atas pengakuan yang disampaikan oleh Imelda.


"Sayang, kamu harus berjanji kepadaku akan melindungi keselamatan Imelda dan para pelayanmu di rumah itu. Jangan biarkan Karin mencelakai mereka!" Clarissa mengingatkan kembali Sean atas janji yang ia berikan kepada Imelda setelah baby sitter Xena memberitahu kelakukan jahat Karin di belakang suami dan mertuanya.


Sean mengangkat sebelah tangan kiri, kemudian mengusap puncak kepala Clarissa dengan lembut. "Tenang saja, aku tidak mungkin melupakan janji yang pernah kuucapkan kepadamu. Imelda dan para pelayan itu pasti aman."


"Sudah, jangan dipikirkan lagi! Lebih baik sekarang kamu istirahat. Tubuhmu pasti masih lemas akibat pingsan tadi. Ingat, saat ini ada kehidupan baru di dalam perutmu . Jangan sampai dia ikutan stress gara-gara Mommy-nya banyak pikiran," sambung Sean.


Tangan Clarissa terangkat dan mengusap perutnya yang masih datar dengan sikap seakan sedang melindungi. Ia termangu beberapa saat sambil terus memegangi perut. Pikiran menerawang, seakan jiwanya terperangkap pada suatu waktu di masa lampau. Sekelebat kejadian lima tahun lalu melintas dalam benaknya.


Lima tahun yang lalu, seorang wanita muda berusia delapan belas tahun berlari dari kejaran dua orang yang berniat membunuhnya. Tidak ingin terjadi hal buruk menimpa dia dan janin dalam kandungan, wanita itu terus berlari hingga berhenti di tepian sungai.


"Kamu sudah tidak bisa menghindar lagi dari kami, Nona. Sebentar lagi, kamu akan menyusul pria tua bangka itu ke neraka! Salamkan pesanku untuk Sugar Daddy kesayanganku di neraka." Senyum menyeringai terlukis di wajah wanita berambut sebahu. Lantas, ia melangkah maju ke depan mendekati Clarissa.


Tubuh Clarissa muda gemetar. Napas memburu disertai degup jantung yang memompa tak beraturan. Wajah memucat disertai keringat dingin mulai bermunculan. Embusan angin semakin membuat telapak tangan wanita itu semakin dingin.


"Kamu benar-benar biadab, Karin! Demi harta kamu rela membunuh Papa-ku dengan membuat skenario seolah-olah beliau meninggal akibat serangan jantun. Lalu hari ini, kamu pun berencana membunuhku demi merampas semua harta warisan Papa. Benar-benar Iblis! Tidak punya hati nurani!" hardik Clarissa sambil perlahan mundur seiring dengan langkah kaki Karin yang semakin maju.


"Hinalah aku sesuka hatimu, Nona Jeni, karena sebentar lagi kamu akan mati di tanganku!" Karin menatap tajam. Tanpa banyak membuang waktu, wanita yang tak lain merupakan kekasih dari Calvin--papa kandung Clarissa dan selingkuhan suami Clarissa mengulurkan tangan ke depan kemudian mendorong wanita di depannya tanpa belas kasih sama sekali. "Pergilah kamu ke neraka!"

__ADS_1


"Aah!" teriak Clarissa ketika merasakan tubuhnya melayang di udara akibat didorong oleh seseorang.


Di saat tubuh Clarissa terjun ke sungai, ia berkata dengan lirih. "Tuhan, bila Engkau memberikan kesempatan kedua kepadaku, izinkan aku membalas dendam atas semua kejahatan yang mereka perbuat kepadaku, Papa dan janin di dalam kandunganku." Perkataan wanita itu terhenti kala tubuhnya menyentuh air sungai yang mengalir deras.


Sejak saat itu, ia bersumpah demi mendiang papa serta calon anaknya yang telah meninggal dunia akan membalas dendam kepada Karin dan suaminya yang berengsek. Namun sayang, pria yang telah merenggut kesuciannya tewas dalam kecelakaan sebelum ia membalas perbuatan keji yang dilakukan kepadanya.


***


"Di mana, Karin?" tanya Sean dengan nada tinggi. Saat ini ia dan Clarissa sudah berada di kediaman Anderson.


"Tadi, Nyonya Karin sedang--"


Kemarahan dalam diri Sean telah berada di ubun-ubun hingga membuat pria itu sudah tidak tahan. Lantas, ia berlalu begitu saja tanpa menunggu kepala pelayan menyelesaikan kalimatnya.


Sean sudah tidak bisa menahan diri lagi dengan apa yang menimpa Xena selama ini. Mendengar buah cintanya bersama mendiang istri tercinta dibentak, dikurung di gudang tanpa memberikan makan dan minum semakin membuat ia geram.


Mendengar suara keributan dari dalam rumah, Anita mendekati sumber suara dan mendapati anak semata wayangnya tengah berteriak kencang memanggil nama menantu kesayangan.


"Sean, ada apa denganmu? Kenapa berteriak seperti orang hilang akal, Nak?" Anita mengusap pundak Sean, mencoba menenangkan kemarahan anak tercinta. Akan tetapi, tangan kekar Sean menepis membuat wanita paruh baya itu membelalakan mata.


"Mama sembunyikan Karin di mana?" tanya Sean singkat. Kilatan emosi terpancar di sepasang mata hazel.

__ADS_1


Anita menggeleng pelan. "Mama tidak menyembunyikan Karin. Istrimu itu sejak semalam tidak ada di rumah dan Mama pun tak mengetahui keberadaannya saat ini. Mama mencoba menghubunginya, tetapi selalu berada di luar jangkauan," jawab wanita itu jujur.


Sean sudah dua hari tidak tinggal di kediaman Anderson. Ia lebih memilih menemani Clarissa di rumah baru mereka. Jadi jangan heran kalau pria itu tidak tahu di mana Karin berada.


Duduk di sebuah sofa panjang sambil mengusap wajah kasar. Sean tampak begitu frustasi karena tak menemukan Karin di rumah itu. "Shiit! Fucking shiit!" pungkasnya sambil menendang meja bundar menggunakan kaki yang dibalut sepatu kulit merk terkenal.


"Mas, sudah!" Clarissa membawa tubuh Sean dalam dekapan. Mengusap punggung pria itu, mencoba meredam emosi agar tak sampai lepas kendali dan akan merugikan semua orang.


Entah setan apa yang merasuki tubuh tuan muda Anderson hingga rasanya ingin sekali melampiaskan kemarahan pria itu kepada Karin. Namun, apa daya wanita iblis itu sedang tidak ada di rumah.


"Tapi dia sudah keterlaluan, Sayang. Aku--" Ingin sekali mengutarakan isi hati yang dirasakan kepada Clarissa, tetapi lidah pria itu sanggup berkata. Sang CEO hanya terdiam dalam pelukan istri tercinta.


Clarissa masih memeluk suaminya ketika derap langkah high heels milik seseorang melangkah masuk ke dalam rumah. Semakin lama, suara itu semakin jelas terdengar hingga seseorang di sana berhenti tepat di ambang pintu penghubung antara ruang tamu dengan ruang keluarga.


Seketika, orang itu tampak membeku di tempat. Tiba-tiba ia merasakan udara sekitar terasa lebih pengap serta panas padahal seluruh ruangan di rumah itu dilengkapi pendingin ruangan.


Menatap wajah mertua serta Sean secara bergantian. Kemudian, netra wanita itu menangkap sosok seseorang di depan tuan muda Anderson. Seketika kelopak mata wanita itu terbuka lebar menyadari siapa yang tengah duduk sambil memeluk sang suami dengan begitu erat.


"Kamu?" ucap Nyonya muda Anderson sembari menunjuk Clarissa menggunakan jari telunjuk.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2