
"Tuan, baru saja Nyonya Clarissa menelepon dan memberitahu bahwa dia akan menemui seorang teman di sebuah café yang lokasinya tidak begitu jauh dari mansion," ucap Ibrahim yang berjalan di sebelah kanan. Hari ini Sean menghadiri sebuah rapat penting hingga tak sempat membuka pesan apalagi menerima panggilan telepon dari siapa pun termasuk istri tercinta.
Ucapan Ibrahim membuat langkah kaki Sean terhenti. Menatap tajam seakan ingin menghabisi pria itu saat ini juga. "Kenapa baru memberitahuku sekarang? Bagaimana kalau ada hal penting lagi yang ingin disampaikan istriku?" sembur pria itu sambil menghunuskan tatapan tajam.
"Maafkan saya, Tuan. Hanya saja tadi saya pikir rapat Anda begitu penting hingga tak dapat menerima pesan maupun sambungan telepon dari Nyonya Clarissa," tukas Ibrahim mencoba membela diri.
Mendesaah pelan sambil meresapi setiap kalimat yang diucapkan oleh Ibrahim. Tidak bisa menyalahkan 100% sang asisten sebab dirinya sendiri yang mengatakan tidak ingin diganggu saat sedang meeting dengan para pemegang saham.
"Lain kali, kalau istriku ataupun Mama menelepon sedangkan aku sedang meeting, beritahu langsung sebab khawatir ada hal penting yang ingin disampaikan kepada. Mengerti?"
Ibrahim menganggukan kepala cepat. "Baik, Tuan."
Sean dan Ibrahim kembali melanjutkan langkah menuju ruangan CEO. Akan tetapi, langkah kaki itu harus terhenti saat dia tanpa sengaja berpapasan dengan sesosok wanita cantik yang tak lain adalah Karin--mantan istri Sean.
"Halo, Sean. Apa kabar? Tampaknya kamu bahagia setelah perceraian kita." Karin menyeringai jahat seperti Medusa saat bertemu kembali dengan mantan suaminya. Ini merupakan pertemuan pertama bagi mereka usai hakim mengabulkan gugatan cerai sang CEO kepadanya.
Ayah kandung Xena dan Ibrahim sama-sama terkejut ketika seorang wanita berpenampilan menarik dengan high heels setinggi lima centi meter berdiri anggun di seberang sana. Terus mengulum senyum mengandung penuh arti.
"Sedang apa kamu di sini? Lalu, siapa yang memberikan izin kepadamu untuk datang menemuiku?" sentak Sean sesaat setelah dia kembali dari keterkejutannya.
__ADS_1
Karin melangkah dengan langkah anggun bagai seorang pramugari yang memperagakan rancangan busana milik desainer terkenal, kemudian berhenti persis di depan mantan suaminya. "Tentu saja bertemu dengan mantan suamiku. Memangnya ada aturan yang menyatakan bahwa sepasang mantan suami istri tidak boleh bertegur sapa, hem? Aku itu menemuimu karena ada hal penting yang ingin disampaikan."
Bola mata hazel memicing mencoba mencari tahu maksud dan tujuan mantan istrinya datang ke perusahaan. Namun, saat netra keduanya saling beradu pandang, Sean bisa memastikan bahwa Karin memang sedang menyimpan rapat suatu hal penting dari siapa pun.
"Hal penting apa yang ingin kamu sampaikan kepadaku?" tanya Sean pada akhirnya. Tidak punya banyak waktu untuk berbasa basi, berbincang dengan wanita yang pernah menyakiti anak tercinta.
Karin tersenyum sinis seraya melipat kedua tangan di depan dada. "Apakah ini yang diajarkan oleh Papa dan Mama-mu saat membutuhkan bantuan dari orang lain, begitu? Benar-benar tidak sopan!"
Merasa tersindir, telapak tangan mengepal erat di sebelah tubuh bersiap melayangkan sebuah tamparan keras di wajah sang mantan istri. Namun, pria itu masih dapat berpikir jernih untuk tidak gegabah dalam bertindak. Bisa saja semua ini adalah rencana Karin yang ingin dirinya masuk penjara atas tuduhan kekerasan ataupun penganiayaan.
Sean menghela napas kasar, lalu memgembuskan secara perlahan. "Masuklah, kita bisa berbicara di ruanganku!" Pria itu melirik sekilas ke arah Ibrahim kemudian berkata, "Tolong cancel semua pertemuanku hari ini dan minta rapat diganti besok siang. Saya masih punya urusan penting dengan Nyonya Karin."
Tanpa membantah sedikit pun, Ibrahim menganggukan kepala bergegas menuruti titah dari sang CEO perusahaa. Bagi pria itu, titah Sean bagaikan mandat penting yang harus dituruti.
"Katakan kepadaku, hal penting apa yang ingin kamu sampaikan kepadaku. Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu melayani wanita jahat dan tukang selingkuh sepertimu," cibir Sean sambil menghujam tatapan tajam ke arah Karin.
Alih-alih merasa tersindir, Karin malah terkekeh pelan kala mendengar perkataan Sean. Wanita itu memajukan badannya ke depan kemudian menopang dagu menggunakan tangan. "Duh ... duh .... Kamu merasa bahwa dirimu dan keluargamu adalah paling sempurna tanpa ada cela sedikit pun, begitu? Ck ... ck .... Sombong sekali!"
"Asal kamu tahu, Sean, bahwa istrimu tidaklah sesempurnya yang kamu bayangkan. Dia ... sama seperti diriku, wanita tidak bermoral yang hobi sekali bersingkuh," kata Karin dengan sengaja menekankan kalimat terakhir.
__ADS_1
"Jaga bicaramu, Karin! Jangan pernah sekali-kali kamu menghina istriku!" sembur Sean seraya menggebrak meja kerjanya hingga terdengar suara nyaring menggema memenuhi penjuru ruangan.
Karin menggelengkan kepala melihat sikap Sean yang tak pernah berubah sedikit pun, selalu mudah tersulut emosi dan tempramental. "Sean ... Sean ... Sean .... Tampaknya kamu benar-benar tidak mengetahui siapa sebenarnya wanita yang kamu nikahi itu." Melirik sinis ke arah mantan suaminya dan kembali berkata, "Makanya, jangan mudah jatuh cinta sebelum tahu asal usul wanita itu."
"Wanita sialan! Sudah kukatakan, jangan pernah menghina Clarissa, istriku!" seru Sean dengan suara menggelegar.
Karin mencibir dan memutar bola mata dengan malas. Merasa muak kala mendengar Sean terus memanggil Clarissa dengan sebutan istri. "Ya, terserah kamu saja, Sean, mau berkata apa tentangku. Namun, kamu harus tahu bahwa Clarissa tidak sebaik dan sesuci yang kamu pikirkan. Dia .... Ah ... sudahlah sebaiknya kamu lihat sendiri bagaimana kelakuan istrimu itu."
Jemari tangan Karin mengeluarkan sebuah amplop dari dalam sling bag merk Kremes, kemudian menyodorkannya ke hadapan Sean. "Bukalah, maka kamu akan tahu alasannya kenapa aku berkata buruk tentang istrimu."
"A-apa ini?" tanya Sean terbata ketika melihat sebuah amplop warna coklat tergeletak di atas meja kerjanya.
"Buka saja. Nanti kamu akan tahu jawabannya," jawab Karin santai sambil memperhatikan perubahan raut wajah Sean.
Sean memasukan tangan ke dalam amplop dan menemukan sesuatu yang cukup membuat pria itu terkejut. Dalam sekejap emosi dalam diri pria itu bangkit laksana api yang siap membakar seisi ruangan. Deru napas memburu, tangan mengepal sempurna hingga memperlihatkan guratan otot halus di punggung tangan.
"Fu*king ****!" teriak Sean seraya menggebrak meja. Dada kembang kempis, rahang mengeras dan mata memerah bagaikan seekor banteng.
.
__ADS_1
.
.