
Hari ini, untuk pertama kalinya Sean dan Clarissa berada dalam mobil yang sama setelah menyandang status sebagai suami dan istri. Sepanjang jalan, pria itu terus menggenggam erat jemari tangan Clarissa. Kecupan penuh cinta selalu ia berikan di pipi, puncak kepala serta punggung tangan sang istri.
Setelah sekian lama hidup dalam kehampaan akibat ditinggal pergi istri tercinta untuk selamanya, akhirnya Sean kembali menemukan kebahagiaan itu. Ia dipertemukan lagi dengan seorang wanita yang bukan cuma cantik fisik tetapi juga hati serta kepribadiannya.
Berawal dari hubungan atasan dan bawahan berakhir dengan status suami istri. Sean tak mengira kalau wanita yang pernah menjadi obyek fantasinya kini resmi menjadi istrinya.
"Saat jam istirahat nanti, aku ajak kamu makan di luar. Untuk restorannya sendiri, kamu bebas memilih." Sean mengusap puncak kepala Clarissa yang saat ini sedang menyenderkan kepala di dada bidang sang suami.
Posisi kepala berada di dada bidang Sean membuat Clarissa bisa merasakan irama jantung yang berdetak beraturan. Irama tersebut bagaikan alunan instrumen pengantar tidur di saat dia tengah mengalami insomnia. Membuatnya damai dan terasa begitu menenangkan.
Masih berada dalam posisi semula, Clarissa mendongakan kepala memandangi wajah tampan pria yang baru dua hari menjadi suaminya. "Kalau misalkan makan siang di restoran Jepang, boleh tidak? Aku ingin makan ramen. Sudah lama sekali lidah ini tak mencicipi olahan makanan khas negeri Sakura yang terbuat dari bahan dasar mie yang berkuah. Ehm ... pasti rasanya lezat sekali." Air liur serasa menetes ketika membayangkan ia sedang menyantap kuah segar pedas dari mie ramen yang dipesan olehnya.
Mata almond berbinar penuh pengharapan, wajah terlihat imut dan menggemaskan membuat Sean ingin mencubit ujung hidup istri tercinta. "Apa pun yang kamu mau, aku pasti mengabulkannya. Pilihlah restoran Jepang yang menurutmu paling enak, nanti Ibrahim akan melakukan reservasi atas namamu."
Ibrahim yang kebetulan sedang memperhatikan sepasang suami istri lewat kaca spion menyunggingkan sudut bibir dan berkata, "Saya siap menerima titah dari Tuan dan Nyonya. Nyonya Clarissa tinggal menyebutkan saja nama restoran serta alamatnya di mana. Dalam waktu lima menit saya pastikan satu meja VIP sudah direservasi atas nama Anda."
"Tolong carikan satu meja dengan empat kursi. Aku ingin mengajak Xena serta Imelda makan bersama," ucap Clarissa. Kemudian, wanita itu kembali memandangi Sean seraya berkata, "Sayang, kamu tidak marah 'kan kalau kita ajak Xena makan siang bersama? Semenjak malam itu, aku belum bertemu dengannya. Aku ... kangen sama dia."
Sean kembali mencubit hidung Clarissa dengan gemas. "Mana mungkin marah. Aku malah senang karena di saat kita sedang menikmati moment kebersamaan selepas pernikahan, kamu menyempatkan diri mengingat putri pertamaku bersama mendiang Sabrina. Jarang sekali ada wanita yang ingin melibatkan anak tirinya di saat dia sedang ingin berduaan dengan sang suami. Tetapi, kamu berbeda dari yang lain. Aku sungguh beruntung mempunyai istri sepertimu."
Perkataan Sean membuat tubuh Clarissa melayang selama beberapa saat. Wajah merah merona bagai buah tomat segar yang siap dipetik di perkebunan. Ia tersipu malu karena untuk pertama kalinya mendapat pujian dari sang suami.
__ADS_1
Dulu, saat menikah dengan suami pertamanya, Clarissa jarang sekali dipuji bahkan untuk makan di luar pun bisa dihitung menggunakan jari. Sibuk bekerja menjadi alasan utama kenapa pria yang telah merampas kehormatannya tak pernah mengajak dia jalan-jalan. Rupanya, itu hanya kedok belaka agar tak ada orang lain tahu kalau itik buruk rupa dengan kacamata tebal dan poni di depan adalah istri dari seorang Hans, sosok lelaki yang derajatnya langsung naik setelah menikahi Clarissa remaja.
Clarissa mencubit perut Sean dengan pelan dan berucap, "Dasar gombal! Sudah berapa kali menggombal seperti tadi di hadapan Nyonya Karin? Pasti lebih dari satu kali 'kan, makanya lidahmu begitu fasih memuji seorang wanita." Wanita itu mencebikkan bibir sambil memalingkan wajah ke luar jendela sambil melipat kedua tangan di depan dada. Berpura-pura kesal untuk menutupi raut merah muda di wajah. Akan tetapi, netra Sean berhasil menangkap perubahan wajah wanita itu sebelum dia memalingkan wajah.
Tangan Sean terulur ke depan, menyentuh pundak Clarissa. Membalikan badan wanita itu hingga posisi mereka saling berhadapan. "Semenjak kepergian Sabrina, aku tak pernah memuji siapa pun. Bibir ini, aku gunakan untuk berbicara membahas soal pekerjaan dan selebihnya tertutup rapat. Dan kamu adalah wanita kedua yang aku puji. Walaupun kamu bukan yang pertama mendapat pujian dariku, tetapi aku berjanji esok dan seterusnya cuma kamu yang akan mendapatkan pujian dari bibirku ini. Please, trust me!"
Clarissa tersenyum dan melingkarkan tangan di pinggang Sean. "Aku akan mempercayaimu. Tapi kamu janji, jangan pernah sekalipun membohongiku. Kalau tidak, aku tak 'kan memberikan jatah selama satu bulan."
Tubuh Sean bergerak turun dan naik. Tawanya pecah setelah mendengar ancaman dari Clarissa.
Oh astaga, bagaimana mungkin Sean ingkar janji sedangkan di dunia ini tidak ada wanita lain yang dicintainya setelah kepergian Sabrina dari muka bumi ini. Dia mencintai Clarissa, jatuh sedalam-dalamnya pada pesona sang sekretaris. Jadi, tidak ada alasan bagi pria itu berpaling dan memilih Karin sementara hati tuan muda Anderson telah dimiliki oleh Clarissa.
Sesuai rencana, Sean mengajak serta Xena dan Imelda makan siang bersama di restoran Jepang. Ibrahim secara khusus menjemput nona muda Anderson di sekolah atas perintah Clarissa.
Clarissa membalikan badan, sebuah senyuman mengembang di sudut bibir. Lantas, dia bangkit dari kursi dan melangkah mendekati Xena.
"Nona Xena, Tante kangen sekali sama kamu, Sayang." Clarissa berlutut dan membawa tubuh mungil Xena dalam pelukan.
"Aku juga kangen banget sama Tante," balas Xena tanpa melepaskan pelukan. Ia merasakan kenyamanan dan ketenangan setiap kali dipeluk oleh Clarissa.
Melihat interaksi antara anak dan istri sirinya membuat bola mata Sean berkaca-kaca. Seumur hidup baru kali ini melihat binar kebahagiaan terlukis jelas di wajah cantik anak tercinta.
__ADS_1
Berlutut di sebelah Clarissa dan mengusap lembut puncak kepala Xena dengan lembut. "Xena, Sayang. Mulai hari ini kamu panggil Tante Clarissa dengan sebutan Mama, ya."
"Mama?" Xena kembali mengulangi kalimat yang diucapkan oleh Sean.
"Benar, Nak. Daddy telah menikah dengan Tante Clarissa. Itu artinya, kamu harus merubah panggilanmu dari Tante menjadi Mama. Kamu ... mau 'kan memanggil Tante Clarissa dengan sebutan Mama?"
"Menikah itu seperti Daddy dan Mama Karin, iya?" tanya Xena polos.
Sean hanya menganggukan kepala sebagai jawaban sedangkan Clarissa menatap penuh harapan bercampur rasa cemas. Khawatir kalau sampai Xena tak sudi memiliki dua ibu tiri.
Akan tetapi, kekhawatiran itu musnah seketika kala suara nyaring bocah kecil menggema memenuhi ruangan. "Hore, Tante Clarissa menjadi Mama-ku. Yeah, hore! Meloncat kegirangan hingga membuat poni bergoyang.
Setelah puas meluapkan kebahagian yang menyelimuti diri, Xena berhenti melompat. Dia bergegas memeluk Clarissa dan Sean dalam waktu bersamaan. "Aku sayang sama Daddy dan Mommy Clarissa," ucapnya lirih.
Suasana bahagia berubah mengharu biru. Sepasang mata almond berkaca-kaca. Debaran halus terasa ketika kalimat terakhir diucapkan oleh gadis kecil berusia lima tahun. Merasa terharu atas sambutan tak terduga yang diberikan oleh anak tirinya. Ia pikir, Xena akan marah karena sang daddy kembali menikah tetapi ternyata gadis kecil itu begitu antusias menyambut kehadiran anggota baru di keluarganya.
"Kami juga sayang sama kamu, Nak," ucap Sean dan Clarissa hampir bersamaan. Kemudian, dua insan manusia beda jenis kelamin memberikan ciuman di pipi sebelah kanan kiri dalam waktu bersamaan.
.
.
__ADS_1
.