Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Bukit Panorama, Kota M


__ADS_3

"Pemandangannya betul-betul indah," gumam Clarissa saat kendaraan roda empat yang dikendarai Sean telah tiba di tujuan. Gemerlap cahaya lampu kota M dapat terlihat dari atas bukit. Terlihat kecil tetapi juga sangat menakjubkan.


Beberapa kedai kecil berderet di sisi bukit, menjajakan aneka ragam makanan dan minuman. Suasana pun tampak sangat ramai. Banyak kendaraan roda dua dan roda empat terparkir di area parkiran. Maklum, malam ini bertepatan dengan malam minggu sehingga banyak para kawula muda-mudi datang berkunjung bersama orang tercinta.


"Ayo, turun! Kita nikmati pemandangan di bawah sana sambil duduk di bawah pohon itu!" ucap Sean sambil menunjuk bangku kayu yang diletakan di bawah pohon. Rasa kesal di dalam diri pria itu sirna kala seulas senyum manis tak terlihat lagi di wajah Clarissa.


Sean tak mengerti kenapa sekujur tubuhnya terasa panas seperti dibakar api hidup-hidup saat melihat Clarissa tersenyum, tetapi bukan ditujukan kepadanya. Dasi yang melilit di leher terasa mencekik meski dia sudah melonggarkannya. Namun, ternyata tak mampu memberikan rasa nyaman kepada pria itu malah semakin membuat tuan muda Anderson kebakaran jenggot.


Beruntungnya dering ponsel milik Clarissa segera berhenti. Entah memang sengaja dimatikan oleh sang sekretaris ataukah memang seseorang di seberang sana terlalu lama menunggu hingga sambungan telepon terputus. Sean tak mau tahu, yang penting malam ini ia dapat menghabiskan waktu bersama wanita cantik di sebelahnya.


"Baik, Tuan!" sahut Clarissa. Wanita itu hendak membuka pintu mobil, tetapi suara serak Sean menghentikan kegiatannya.


"Tunggu! Biar saya saja yang membukakan pintu untukmu." Tanpa ingin dibantah, Sean segera melepas seat belt yang melingkari di tubuh, lalu turun dari mobil. Ia ulurkan tangan ke depan, seakan meminta Clarissa menggenggam jemarinya.


"Terima kasih, Tuan. Malam ini Anda begitu baik kepada saya. Saya ... jadi tersanjung."


Kedua insan manusia itu turun dari mobil. Akan tetapi, Sean kembali melakukan tindakan yang terduga. Ia melepas jas yang sedang dipakai. Memutar tubuh hingga posisi Sean berada di hadapan Clarissa.


"Udara di sini terlalu dingin dan gaun yang kamu kenakan pun tanpa lengan. Saya cuma tidak mau kamu jatuh sakit dan membuat pekerjaan kantor terbengkalai." Jas mahal berwarna navy telah menutupi lengan putih Clarissa.


Sean masih berada di posisi yang sama. Rasanya, ia enggan sekali berlalu dari hadapan Clarissa. Jarak ia dan wanita itu begitu dekat hingga embusan napas dapat dirasakan oleh satu sama lain menerpa pipi masing-masing. Dua pasang mata indah saling bertatapan.


Semakin lama menatap mata almond Clarissa maka degup jantung Sean semakin kencang. Meskipun ini bukan kali pertama sang CEO berada dalam posisi intim bersama seorang wanita, tetapi entah kenapa debaran halus terus hadir hingga membuat pria itu tanpa sadar mengulurkan tangannya ke depan, menyentuh pipi sekretarisnya. Permukaan kulit wanita itu terasa lembut dan kenyal seperti marshmallow. Lantas, tangan kekar itu menarik wajah wanita itu untuk mendekat ke arahnya.


Clarissa terpaku, ketika merasakan embusan napas pria itu menerpa wajah. Ia menggigit bibir bawah, menahan degupan kencang di dada. Tak ada jarak satu jengkal pun di antara keduanya. Saat wajah Sean terus mendekat dan semakin mendekat tanpa sadar, wanita itu memejamkan mata berharap akan terjadi suatu hal indah malam ini.

__ADS_1


Akan tetapi, suara dering ponsel milik wanita itu kembali berbunyi membuyarkan moment langkah yang entah kapan akan terjadi lagi menghampir kedua insan manusia itu.


Refleks, Sean mundur beberapa langkah ke belakang. Ia berdehem berusaha mengendalikan debaran di dadanya, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. 'Kenapa aku jadi hilang kendali saat di dekat Clarissa? Tadi ... aku dan dia ... kami ...." Pria itu tak sanggup lagi menyelesaikan ucapannya. Semuanya terasa begitu tak masuk akal.


Tangan Clarissa meraih benda pipih miliknya dari dalam hand bag. Nama seorang pria kembali tertera di layar ponsel. "Tuan, saya permisi angkat telepon dulu." Ia meminta izin pada Sean agar diperbolehkan menerima sambungan telepon.


Tanpa membuang waktu terlalu lama, Clarissa segera menggeser layar warna hijau. "Halo, apakah ada informasi terbaru tentang wanita itu?" tanyanya saat sambungan telepon terhubung.


"Sesuai prediksi kita, Nona. Saat ini dia sedang asyik memadu kasih bersama seorang pria di sebuah hotel bintang lima," sahut Jack, sahabat sekaligus orang kepercayaan Clarissa. Pria itu merupakan partner nona muda Smith ketika menjalankan misi balas dendam.


Clarissa berdecak kesal kala mendengar jawaban Jack. "Cih! Dasar, Wanita murahan! Sudah bersuami masih saja pergi bersama lelaki lain." Sebelah tangan wanita itu mengepal sempurna. "Rupanya perangai dia tidak pernah berubah. Masih sama seperti lima tahun lalu."


"Lantas, apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Nona? Membongkar kedok wanita itu di hadapan suami serta mertuanya atau menunggu hingga pria itu jatuh dalam genggaman Anda?" tanya Jack kepada Clarissa. Dia selalu setia menanti perintah selanjutnya dari sang majikan.


Kepala si cantik Clarissa menggeleng. "No! Terlalu dini untuk membongkar kebusukan wanita itu saat ini. Aku masih ingin bermain-main dengannya sama seperti dulu ketika dia secara perlahan membuat hidupku menderita. Dia merampas semua kebahagiaanku. Aku mau dia pun merasakan apa yang kurasakan saat itu, Jack." Tanpa sadar air matanya jatuh berderai. Butiran kristal itu membasahi wajah cantik sang sekretaris.


Setiap kali membayangkan kejadian di masa lalu membuat emosi dalam diri Clarissa membuncah. Kepingan kejadian itu membuat dadanya terasa sesak bagai ditimpa oleh bongkahan batu berukuran sangat besar. Sudah lima tahun berlalu, tetapi bayangan itu terus menghantui. Setiap menutup mata, hanya peristiwa menakutkan itu yang terbayang.


"Anda tenang saja, Nona Clarissa. Cepat atau lambat, kita pasti menghancurkan wanita jahat itu," ucap Jack di seberang sana. Berusaha menenangkan Clarissa agar wanita itu tak menangis lagi. "Terpenting saat ini, kita jalankan misi sesuai dengan rencana yang telah disusun rapi."


Clarissa mengusut sisa air mata menggunakan sapu tangan kesayangannya. Lalu, ia menarik napas dalam dan mengembuskan secara perlahan.


Terdiam sejenak, mencoba menjernihkan pikiran yang sempat kacau akibat membayangkan kenangan pahit di masa lalu. "Kamu benar, Jack. Untuk sementara waktu biarkan dia menikmati keindahan dunia ini sebelum akhirnya seluruh kemewahan dalam genggaman menjadi boomerang bagi wanita itu. Bila waktunya tiba, maka akulah orang pertama yang akan menjadi saksi bagaimana hancurnya dia."


"Lalu, apa perintah Anda selanjutnya, Nona?" tanya Jack sebelum mengakhiri sambungan telepon.

__ADS_1


"Kumpulkan saja bukti-bukti untuk menyerang Wanita itu! Ke mana pun dia pergi, apa pun yang dia kerjakan, terus pantau dan berikan kabar kepadaku. Kamu harus selalu waspada, jangan sampai dia curiga. Mengerti?"


Jack mengangguk-anggukan kepala. "Mengerti, Nona."


"Baiklah, kalau begitu aku tutup dulu. Aku tidak mau Sean menunggu terlalu lama."


Pria di seberang sana tersenyum samar. "Oke! Maafkan saya karena telah mengganggu suasana romantis Anda, Nona."


Clarissa terkekeh pelan sambil berdecak kesal. "Ya ... ya .... Untuk kali ini aku maafkan. Lain kali, jangan menghubungiku di saat mangsa nyaris terjerat dalam jebakan kita."


"Siap, Bos! Kalau begitu, selama malam, Nona Clarissa."


Cepat mematikan komunikasi dengan Jack, langsung memasukan benda pipih berukuran 6.5 inci ke dalam hand bag. Sebelum menemui Sean, Clarissa memastikan kembali penampilannya. Wanita itu tidak mau bos-nya tahu bahwa dia baru saja menangis.


Ketika Clarissa melangkah ke arahnya, Sean memperhatikan wanita cantik dalam balutan gaun warna violet dengan layer di bagian depan dan pundak, menyamping hingga bagian dada. Gaun itu terbuat dari gaun sutra terbaik, dirancang oleh desainer terkenal di tanah air. Ia baru sadar bahwa malam ini sekretarisnya itu tampak begitu seksi dan elegan.


Pantas saja saat Clarissa tengah mengangkat telepon, hampir seluruh kaum Adam mencuri pandang ke arah wanita itu. Rupanya sang sekretaris memang menjelma menjadi Bidadari tak bersayap.


"Siapa yang menghubungimu malam-malam begini?" tanya Sean penuh selidik.


Clarissa menjawab singkat. "Oh ... barusan yang telepon adalah teman saya, Tuan. Kenapa? Apakah saya membuat Anda menunggu terlalu lama?"


"Tidak juga!" Sean melirik ke sekitar tampak jelas beberapa pria masih menatap kagum ke arah Clarissa. Lantas, pria itu menarik lengan sekretarisnya dan menyentuh pundak wanita itu. "Sebaiknya kita duduk di sana sebelum seluruh kursi terisi penuh." Tanpa memberikan kesempatan pada Clarissa membuka suara, pria itu sudah membawa nona muda Smith menuju bangku kosong di bawah pohon besar di dekat tebing.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2