Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Senjata Baru untuk Menyerang Clarissa


__ADS_3

Sean menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk. Waktu menunjukan pukul tujuh malam. Sang surya sudah kembali ke peraduannya. Sinar mentari telah berganti dengan cahaya rembulan ditemani gemerlap bintang di atas sana. Hari ini dia merasa bahagia sekali sebab Tuhan melimpahkan banyak hadiah kepadanya.


Mengulum senyum lebar ketika sepasang mata hazel menatap tubuh istri tercinta menggeliat di bawah selimut tebal berwarna putih. Sean melangkah mendekati ranjang, kemudian duduk di tepian ranjang seraya menaikkan selimut yang sempat turun.


"Terima kasih, Sayang, karena kamu telah membelaku di hadapan semua orang. Aku merasa bersyukur sebab Tuhan telah mengirimkanmu dalam hidupku. Meskipun pernikahan kita diawali oleh suatu kejadian yang tak mengenakan tetapi aku berharap semoga ikatan cinta kita kekal abadi selamanya." Sean menundukan wajah, mencium bibir ranum yang sedikit terbuka. "I love you so much, Cla."


Setelah puas mencium manisnya bibir Clarissa, Sean bangkit dari posisinya saat ini menuju lemari pakaian. Setelah itu barulah dia kembali menyibukan diri, mengurusi pekerjaan penting yang sempat terhenti beberapa saat lalu.


Kelopak mata Clarissa bergerak ketika mendengar suara dering ponsel miliknya di atas nakas. Tangan terulur ke samping, meraih benda pipih berukuran 6.5 inci kemudian menggeser tombol hijau di layar.


"Mommy di mana? Kenapa belum pulang? Apakah Mommy tidak akan menginap di rumah Nenek Anita?" cecar gadis kecil bermata hazel saat sambungan telepon telah tersambung.


Mendengar suara merdu seorang gadis kecil berusia lima tahun, nyawa Clarissa langsung kumpul seketika. Bulu mata lentik bergerak, kemudian kelopak mata Clarissa terbuka sempurna. "Halo, Sayang. Mommy masih ada di kantor bersama Daddy-mu mungkin sebentar lagi kami pulang," jawab wanita itu dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Di seberang sana, Xena manggut-manggut mendengar jawaban Clarissa. Mood gadis kecil itu kembali seperti sedia kala setelah mendapat panggilan telepon dari Audrey, teman sekelasnya. Audrey meminta maaf lewat sambungan telepon karena sempat menjauhi Xena akibat gadis kecil itu mempunyai ibu tiri yang tak lain adalah seorang pelakor.


"Xena, kamu kenapa, Nak? Apakah ada orang yang menyakitimu lagi? Jika iya, katakan pada Mommy, siapa orangnya biar Mommy beri dia pelajaran agar tak menyakitimu lagi," kata Clarissa bersungguh-sungguh. Dia bahkan bangkit dari tidur kemudian duduk di sandaran tempat tidur.


"No, Mommy! Tidak ada yang berani menyakitiku lagi setelah Mama Karin pergi dari rumah ini. Aku hanya merindukan Mommy. Aku ingin memeluk Mommy dan dedek bayi," jawab Xena lugu. Gadis kecil berusia lima tahun bersungguh-sungguh saat dia mengatakan rindu akan sosok ibu tirinya itu. Terlebih beberapa hari ini hubungan mereka sedikit renggang akibat isu miring yang beredar. Nona muda Anderson menyalahkan Clarissa atas semua masalah yang menimpanya di sekolah.


Clarissa tersenyum lebar kala mendengar Xena yang mengatakan bahwa saat ini gadis itu tengah merindukannya. "Iya, Sayang. Mommy juga merindukanmu. Sabar ya, sebentar Mommy akan pulang bersama Daddy. Setelah itu, kita bisa bermain bersama dedek bayi."


Di seberang sana Xena memekik kegirangan. Gadis itu melompat tinggi hingga membuat poninya yang menutupi kening ikut bergerak ke sana kemari. "Yeah! Hore! Aku akan bermain dengan dedek bayi!" Terus berteriak sambil terus memegang telepon genggam milik Anita.


"Hati-hati, Sayang!" seru Anita karena khawatir cucu tersayang terjatuh akibat terlalu bersemangat.

__ADS_1


Dengan patuh Xena menuruti perintah sang nenek. Kembali duduk manis di sofa.


"Ya sudah, Mommy tutup dulu teleponnya. Sampai ketemu di rumah, Sayang," ucap Clarissa sebelum mengakhiri sambungan telepon.


"Oke, Mommy! See you!"


***


"Ibu tiri kejam! Jahat! Bermuka dua! Pantas saja diceraikan suaminya, ternyata dia bukanlah ibu sambung yang baik bagi anak tirinya," cibir seseorang ketika melihat Karin masuk ke dalam sebuah restoran. Sengaja meninggikan suara agar didengar oleh mantan istri Sean yang kebetulan saat itu duduk di sebelah kursinya.


"Wajar saja sih menurutku kalau dia didepak dari keluarga Anderson, lah wong kelakuannya mirip iblis yang tak punya hati nurani. Seandainya aku menjadi mertua wanita itu, sudah kubuang ke jalanan saat ketahuan belangnya. Dikasih hati malah minta jantung. Benar-benar tidak tahu diri!" sahut pengunjung yang lain.


Banyak lagi cacian yang diterima oleh Karin saat dia menyagunkan kaki menuju sebuah restoran Itali. Seandainya tidak ada janji temu dengan teman sekolahnya dulu, Karin enggan sekali keluar rumah. Dia lebih baik tinggal di apartemen yang diberikan Sean sebagai mahar pernikahan ketimbang harus berkeliaran di luar rumah. Apalagi saat ini semua orang berbalik menyudutkannya akibat bukti kejahatannya dibongkar oleh Clarissa.


"Hei, melamun apaan sih!" seru seseorang seraya menepuk pundak Karin.


Karin menoleh kepala ke belakang, netra wanita itu menangkap sosok wanita seumuran dengannya tengah tersenyum hangat. "Kamu mengagetkanku saja, Risma!" ucapnya sambil memasang wajah masam.


Risma--teman sekolah Karin yang tinggal di Surabaya duduk di sebelah mantan istri Sean. "Loh, kenapa mukamu di tekuk. Ada apa? Ayo, ceritakan kepadaku."


Karin menarik napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Kamu sudah tahu pemberitaan yang sedang hangat dibicarakan oleh warga +62 akhir-akhir ini? Berita yang mengatakan bahwa aku adalah ibu tiri kejam yang suka menyiksa anak dari suamiku sendiri. Hobi selingkuh di saat berstatuskan istri orang lain."


Risma terkekeh pelan setengah berkelakar. "Tentu saja sudah. Untuk urusan gosip, aku jagonya, Rin." Wanita paruh baya itu meraih buku menu yang diletakkan oleh pelayan saat Karin baru saja tiba di restoran. Memilih menu lezat untuk disantap. "Untuk itulah aku datang menemuimu sebab aku punya informasi penting yang ingin kuberikan padamu."


Karin memicingkan mata. Kedua alis mengerut, mencoba mencari tahu informasi apa yang ingin diberikan oleh Risma. "Informasi apa, Ris?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Informasi yang bisa kamu gunakan untuk membalas dendam kepada istri baru dari mantan suamimu itu," kata Risma. Menggeser buku menu ke samping, kemudian mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas. "Benda di dalam sini bisa kamu jadikan senjata untuk menyerang wanita itu. Aku yakin, hubungan mereka akan hancur dan rasa sakit hatimu terbalaskan."


Karin menerima amplop itu, lalu menatap tajam ke arah Risma. "Memangnya benda apa yang ada di dalam sini, Ris? Kenapa kamu begitu yakin kalau hubungan Sean dan istrinya yang baru akan hancur hanya karena benda ini."


"Lihat saja sendiri. Nanti juga kamu tahu!" sahut Risma santai sambil melanjutkan kembali kegiatannya memilih menu makanan.


Karin membuka amplop tersebut. Detik itu juga bola matanya terbelalak sempurna. Namun, detik berikutnya dia tersenyum sinis. Ada rasa bahagia sebab kini mendapatkan senjata untuk menyerang balik Clarissa.


"Bagaimana, kamu suka 'kan dengan barang yang kuberi?" tanya Risma setelah melihat wajah Karin kembali sumringah.


Karin membalas jawaban Risma dengan senyuman lebar. "Tentu saja, Ris. Memang inilah yang kubutuhkan saat ini. Dengan ini aku pun yakin kalau Sean akan marah besar dan kemungkinan wanita itu bakal diusir dari keluarga Anderson sama sepertiku." Wanita itu melirik ke arah teman sekolahnya dan kembali berkata, "Terima kasih karena kamu tahu apa yang kubutuhkan."


"Hanya bantuan kecil, tidak berarti apa-apa bagiku. Ya sudah, sebaiknya kamu simpan barang itu dengan baik. Tunjukan kepada Sean bagaimana busuknya wanita yang dia nikahi."


Tanpa pikir panjang, Karin segera memasukan amplop tersebut ke dalam tas kemudian mulai sibuk memilih menu makan malam terlezat di restoran tersebut.


.


.


.


Halo semua, otor mau mempromosikan karya terbaru milik temen otor nich. Fresh from oven. Bisa langsung dikepoin di lapak kesayangan kita.


__ADS_1


__ADS_2