Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Pengantin Baru


__ADS_3

Clarissa menyingkap selimut tebal yang membungkus tubuhnya yang polos. Tadi malam, Sean kembali menanam benih ke dalam rahim sang istri. Tampaknya, pria berdarah setengah Amerika sedang berencana memberikan adik bayi untuk Xena sehingga ia terus menjamah istri tercinta tanpa mengenal lelah.


Istri muda dari Sean Anderson mengguyur tubuhnya di bawah air shower yang mengalir. Memejamkan mata sambil meresapi setiap tetes air yang jatuh menimpa tubuh. Permainan tadi malam terasa begitu panas sampai membuat tubuh wanita itu pegal-pegal. Akan tetapi, ia tidak ingin menunjukan kelemahannya di hadapan siapa pun termasuk Sean.


Setelah mengganti pakaian, Clarissa memutuskan turun ke lantai satu. Ia berniat membuatkan sarapan khusus untuk sang suami.


"Selamat pagi, Nyonya muda. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Salah satu pelayan menyapa Clarissa dengan ramah.


Clarissa mengulum senyum di bibir saat bertemu dengan kepala pelayan, bernama Iis. "Selamat pagi, Bu Iis. Saya hanya ingin membuatkan sarapan untuk Mas Sean," jawabnya singkat.


"Biar saya saja yang membuatkan sarapan untuk Tuan. Nyonya tinggal sebutkan ingin membuat apa nanti saya siapkan."


"Tidak perlu, Bu. Lagipula, ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya sebagai seorang istri untuk menyiapkan segala kebutuhan suami. Walaupun ada Bu Iis dan para pelayan yang lain, tetapi tetap saja saya harus turun tangan. Tidak bisa berpangku tangan begitu saja, menyaksikan kalian sibuk mempersiapkan segala keperluan Mas Sean."

__ADS_1


"Tapi 'kan, Nyonya Clarissa adalah nyonya rumah di sini. Tugas kami melayani Anda dan Tuan Sean. Jadi sangat wajar bila kami sibuk mengerjakan segala sesuatu untuk Tuan dan Nyonya." Iis memberikan penjelasan kepada Clarissa akan tugasnya sebagai pelayan di rumah itu.


"Benar, Nyonya. Selain itu, kalau sampai Tuan Sean melihat Anda berada di dapur, kami takut kena marah. Tuan Sean, kalau sudah marah sangat menyeramkan Nyonya," timpal pelayan lain bernama Elsa.


Mendengar sahutan rekan kerjanya, membuat Anne, pelayan yang berdiri di samping Elsa menyenggol siku temannya sambil menghunuskan tatapan tajam.


Sadar akan kesalahannya, pelayan wanita berusia dua puluh lima tahun menundukan pandangan. Jemari tangan saling meremas satu sama lain, kemudian dia berkata, "Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak bermaksud mengadu domba Anda dan Tuan Sean."


Alih-alih marah ketika ada seseorang menjelekan sang suami, Clarissa malah terkekeh pelan. Ia sama sekali tak merasa tersinggung. "Kalian tenang saja. Dia tidak mungkin marah bila tahu aku berada di dapur bersama kalian. Lagipula, aku hanya ingin membuatkan sandwich dan segelas susu saja kok. Kalau membuat makanan berat aku pasti meminta Bu Iis ataupun pelayan lain untuk membuatnya."


"Aku akan membawa sarapan ini ke kamar. Kalian, tolong selesaikan semuanya." Jemari tangan lentik wanita itu membawa nampan warna coklat dan ia melangkah menuju lantai dua.


Mata almond Clarissa melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Suara gemericik air menandakan bahwa Sean tengah membersihkan diri dari sisa pergulatan tadi malam.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, daun pintu berwarna coklat terbuka dan menampakkan sesosok pria tampan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian intim. Senyum mengembang di kedua sudut bibir kala melihat istri tercinta duduk di tepian ranjang.


"Sayang, kamu dari mana saja, hem? Kenapa kamu pergi tanpa memberitahuku terlebih dulu," ucap Sean sambil berjongkok di hadapan Clarissa. Menyentuh tangan lembut milik sang istri. Mengecup punggung tangan wanita itu dengan penuh cinta. "Kupikir, kamu pergi meninggalkanku dan tak kan kembali lagi."


Clarissa mengalungkan tangan ke leher Sean sambil memandangi wajah tampan pria yang kini menjadi suaminya. "Kamu adalah suami terbaik yang Tuhan kirimkan kepadaku. Jadi, tidak alasan bagiku untuk pergi dari sisimu."


"Tadi aku pergi ke dapur sebentar, menyiapkan sarapan untukmu. Maaf ya, hanya bisa membuatkan sandwich dan segelas susu, sebab aku tak begitu pandai memasak." Tersenyum simpul kala mengucapkan kalimat terakhir. Ia mengakui jika dirinya bukanlah seorang istri yang mahir mengolah aneka ragam makanan mentah menjadi makanan lezat di lidah. Namun, untuk sekadar menyiapkan pakaian, memasangkan dasi serta membersihkan rumah ia masih bisa melakukannya.


"Aku menikahimu untuk dijadikan seorang istri bukan menjadikanmu sebagai asisten rumah tangga. Jadi, jangan merasa bersalah karena tak bisa membuatkan makanan spesial untukku. Aku cuma mau kamu duduk manis di rumah ini, menyambutku dengan senyuman dan mengandung anakku. Selebihnya, biarkan para pelayan yang mengerjakan."


Clarissa menganggukan kepala sebagai jawaban. "Iya, Sayang. Kamu tenang saja. Cepat atau lambat akan ada adiknya Xena di dalam sini. Buah cinta kamu dan aku." Jemari tangan wanita itu membawa tangan kekar Sean ke perut. Membantu pria itu mengusap pelan perutnya yang masih rata.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2