
"Tuan Sean! Tuan!" seru Ibrahim dengan suara lantang. Asisten pribadi dari pewaris tunggal Anderson Grup menorobos masuk begitu saja ke dalam ruang CEO tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
Pria itu telah melupakan sopan santun saat hendak bertemu dengan atasannya. Dia tidak punya banyak waktu untuk mengetuk pintu sebab ada hal penting yang ingin disampaikan kepada sang bos.
Sean tampak begitu kesal kala mendengar suara Ibrahim menggema memenuhi penjuru ruangan. Perasaan pria itu cemas, menanti keputusan rapat yang sedang membahas perihal saham perusahaan anjlok akibat pemberitaan hangat tentang isu perselingkuhan yang melibatkan antara dirinya dengan sang sekretaris.
"Ibrahim, siapa yang memberimu izin masuk ke ruanganku dengan berteriak-teriak begitu? Kamu pikir ruanganku ini adalah hutan hingga kamu bebas berteriak sesuka hati, begitu!" sembur Sean ketika asisten pribadinya itu telah berdiri tegak di seberang meja kerja.
Ibrahim menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Seulas senyum terlukis di wajah saat melihat sorot mata tajam bagaikan seekor elang yang siap menerkam mangsanya hidup-hidup.
"Maafkan saya, Tuan. Tadi saya terlalu antusias hingga lupa mengetuk pintu ruangan Anda." Tersenyum dipaksakan, mencoba bersikap biasa saja meski dalam hati muncul rasa khawatir kalau Sean akan menghajarnya sebagai balasan karena telah lancang masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu begitu antusias hingga lupa mengetuk pintu ruanganku? Aku bersumpah akan menghajarmu babak belur kalau ternyata tidak ada hal penting yang ingin kamu sampaikan kepadaku!" ancam Sean dingin dengan raut wajah tanpa ekspresi.
Ibrahim meletakkan sebuah iPad ke atas meja, kemudian mendorongnya pelan hingga benda pipih tersebut berada di hadapan Sean. "Saham perusahaan mulai kembali normal meskipun merangkak secara perlahan. Namun, grafik itu menunjukan ke arah semula yang mana bisa dikatakan bahwa saham milik Anderson Grup telah melewati masa kritis."
Sepasang mata hazel terbelalak sempurna kala mendengar penuturan Ibrahim. "B-bagaimana itu terjadi? Bukankah beberapa jam lalu grafik saham nyaris mendekati nilai terendah. Lalu, kenapa sekarang bergerak secara perlahan menuju tempat semula? Benar-benar aneh," kata Sean keheranan.
Ibrahim tidak langsung menjawab pertanyaan Sean. Sang asisten malah mengeluarkan telepon genggam miliknya lalu menyodorkannya ke hadapan pria berdarah campuran Indonesia Amerika. "Itu semua karena ini, Tuan." Ucapan pria itu bersamaan dengan jari tangan yang menekan icon play.
Suasana terang benderang bersumber dari cahaya lampu terlihat di layar ponsel. Seorang wanita cantik yang sangat familiar tengah menjadi sorotan para pemburu berita. Kilatan kamera terus tertuju kepada wanita itu.
Ibrahim menganggukan kepala cepat. "Benar, Tuan. Wanita itu adalah Nyonya Clarissa--istri Anda. Nyonya Clarissa sedang mengadakan jumpa pers dan mengundang para wartawan dalam acara tersebut. Tampaknya, Nyonya muda sedang mencoba menjernihkan masalah yang sedang menjadi perbincangan banyak orang. Usaha beliau tidak sia-sia sebab kini semua orang telah mengetahui alasan di balik perceraian Anda dengan Nyonya Karin."
__ADS_1
"Orang-orang yang awalnya membenci Tuan, kini berbalik mendukung Anda. Netizen yang kebanyakan adalah kaum Hawa, mendukung penuh langkah Tuan demi membebaskan Nona Xena dari kekejaman Nyonya Karin. Mereka mengecam tindakan kekerasan dan pereingkuhan yang dilakukan oleh mantan istri Anda," tutur Ibrahim menjelaskan apa yang dia ketahui. "Itu semua terjadi berkat bantuan Nyonya Clarissa. Istri Anda telah mengembalikan nama baik keluarga Anderson seperti sedia kala."
Kepala menggeleng berkali-kali. Tidak percaya atas apa yang didengar olehnya barusan. Sean tahu jika Clarissa adalah wanita cerdas tetapi tak menduga kalau sekretaris sekaligus istri sirinya sampai mengadakan press conference demi membersihkan nama baik keluarga Anderson yang sempat tercoreng akibat isu persingkuhan. Dia sendiri malah tidak terpikirkan ide itu sebab terlalu banyak masalah hingga membuat otaknya tak bisa berpikir jernih.
"Bukan hanya itu saja. Barusan saya mendapatkan kabar dari Tuan Antonio bahwa para pemegang saham sepakat untuk tetap mempertahankan Tuan sebagai CEO di perusahaan ini. Semua tuduhan yang ditujukan kepada Anda tidak terbukti. Selain itu, saham perusahaan pun mulai kembali normal hingga mereka tidak punya alasan lagi menekan Tuan besar untuk mencopot jabatan Anda sebagai CEO."
Sean tidak mampu lagi berkata-kata. Walaupun sejujurnya dia merasa bahagia karena jabatan tersebut masih dia pertahankan tetap saja semua ini terlalu mengejutkan baginya. Otak pria itu masih mencerna apa yang sebenarnya tengah terjadi. Lalu, bagaimana Clarissa bisa menemukan semua bukti perselingkuhan Karin dengan lelaki lain sedangkan dirinya saja tak mengetahui itu semua.
Dalam hati bertanya-tanya, sebenarnya siapakah wanita yang dinikahi oleh Sean. Kenapa wanita itu bisa mengetahui sesuatu yang orang lain tidak ketahui. Kalaupun memang Clarissa hanya wanita biasa mana mungkin dia mendapatkan bukti perselingkuhan antara Karin dengan pria yang wajahnya di-blur sedangkan mantan istrinya itu selalu main cantik hingga dirinya saja tidak tahu kalau Karin berselingkuh. Sang CEO yakin kalau wanita yang sedang mengandung anaknya bukanlah orang sembarangan.
.
__ADS_1
.
.