
"Wow, kamu tampak cantik sekali, Clarissa. Aku jadi pangling loh melihat penampilanmu malam ini," puji Nani. Teman kerja satu ruangan Clarissa sengaja datang menjemput sang sekretaris di apartemen.
Nani tahu akan banyak pasang mata memandang ke arah Clarissa dengan tatapan berbeda. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, ia mengirimkan pesan kepada teman kerjanya mengatakan bahwa akan menjemput sekretaris Sean di apartemen yang saat ini ditinggali oleh Clarissa.
Clarissa mengembuskan napas kasar. "Seharusnya pujian itu kamu tujukan kepada Tuan Sean bukan malah ditujukan kepadaku."
Mengernyitkan kedua alis sambil menatap bingung ke arah Clarissa. "Apa hubungannya antara kecantikanmu dengan Bos kita? Memangnya apa yang telah dilakukan oleh Tuan Sean kepadamu hingga aku harus memuji dia?"
Sepasang mata Nani memindai wajah Clarissa tanpa ada sedikit pun yang terlewatkan. "Atau ... jangan-jangan ... kamu dan Tuan Sean ada affair, ya? Hayo ngaku!" godanya sambil menaik turunkan kedua alis. Wajah sumringah karena berhasil menggoda rekan kerjanya.
Sekretaris Sean mencebikkan bibir ke depan. "Jangan ngaco deh, kamu! Aku dan Tuan Sean tidak mempunya hubungan apa pun. Hubungan kami murni hanya sebatas atasan dan bawahan saja, tidak lebih."
Nani terkekeh pelan. "Kalaupun memang ada something special antara kalian, aku tak keberatan kok Terlebih melihat hubunganmu dengan Nona Xena begitu dekat, aku yakin kamu memang cocok menjadi Nyonya muda Anderson dibanding istri Tuan Sean yang sekarang."
"Maksudmu apa, Nan?" tanya Clarissa penasaran. Tiba-tiba benak wanita itu dipenuhi oleh sejuta pertanyaan yang datang menghampiri. Memicingkan mata ke samping, mencari tahu apa yang diketahui oleh rekan kerjanya itu. Dalam hati bertanya, mungkinkah Nani pun tahu jikalau ternyata Karin bukanlah wanita baik-baik?
Nani melirik sekilas ke samping, kemudian ia mengulum senyum di bibir. "Bukan maksud apa-apa. Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Saranku, kalau kamu memang mencintai Tuan Sean, cintai dia dan sayangi Bos kita dengan tulus. Aku mendukungmu 100%. Kukawal sampai menuju pelaminan." Lantas, ia mengepalkan telapak tangan ke dada kemudian berkata, "Jia you!"
***
Sementara itu, di sebuah hotel bintang lima seorang pria tampan tampak tengah gelisah menanti kedatangan seseorang. Lelaki berparas rupawan yang tak lain adalah putra tunggal dari pasangan David dan Anita sedang duduk di kursi, sepasang mata hazel menatap ke arah pintu masuk ballroom hotel.
Kenapa wanita itu belum juga datang! Apakah dia memang sedang menguji kesabaranku? batin Sean. Pria itu kesal karena sudah hampir dua puluh menit menunggu tetapi Clarissa tak juga menampakkan batang hidungnya.
__ADS_1
Karin, istri kedua Sean duduk di sebelah sang suami. Deru napas wanita itu terus memburu. Berulang kali menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara kasar. Rasa kesal bersemayam dalam diri wanita itu ketika melihat gerak gerik lelaki yang menikahinya lima tahun lalu.
Dasar pria bodoh! Dia pasti sedang menunggu Wanita murahan itu! Karin berdecak kesal di dalam hati. Apa hebatnya wanita itu dibanding aku? Dari segi fisik serta penampilan, aku lebih unggul daripadanya. Namun, entah kenapa Sean tak pernah melirik aku sekalipun. Pria itu malah menyukai wanita murahan seperti Clarissa. Aku yakin, netra Sean sudah buta hingga tak dapat membedakan antara permata dan batu kali!
Tak berselang lama, dua orang wanita melangkah masuk ke dalam ballroom. Suasana ruangan yang mampu menampung kurang lebih tujuh ratus orang telah dipadati para tamu undangan baik karyawan Anderson Grup sendiri maupun klien, rekan bisnis serta pemegang saham turut hadir memberikan ucapan selama kepada pasangan suami istri yang tengah berbahagia hari ini. Penampilan anggun serta kecantikan luar biasa membuat orang-orang di dalam sana berdecak kagum pada Clarissa dan juga Nani. Namun, perhatian semua orang lebih tertuju kepada sang sekretaris.
Tubuh ramping Clarissa terbalut gaun berwarna merah maroon model off shoulder, menampakkan kulit mulus tubuhnya. Bagian ujung gaun terbelah hingga mencapai batas paha. Rambut panjang wanita itu ditata dengan model rambut updo ditambah headpiece floral warna silver memberikan kesan glamor.
"Cantik sekali! Siapa wanita itu?" bisik salah satu rekan bisnis David Anderson kepada teman di sebelahnya.
"Entahlah. Mungkin saja dia salah satu karyawan perusahaan Anderson Grup," sahut pria paruh baya.
Rekan bisnis David menganggukan kepala. "Usai pesta, aku akan menemui wanita itu. Siapa tahu dia mau diajak berkencan satu malam. Jadi, tidak sia-sia aku datang jauh-jauh dari Kalimantan ke Jakarta menghadiri pesta anniversary Tuan David bila berhasil mendekati wanita itu."
"Ya. Asalkan kamu tidak menyinggung Tuan David, apa pun boleh kamu lakukan."
"Nona Clarissa memang sangat cantik. Tidak hanya hari ini, tetapi juga hari-hari sebelumnya, dia selalu cantik mempesona," ucap Sean tanpa sadar. Sepasang mata pria itu tak berkedip sedikit pun. Terus memandangi wanita itu hingga sekretarisnya berbaur dengan para tamu undangan yang lain.
Setiap gerak gerik Sean tak luput dari pandangan David. Pria paruh baya itu tersenyum puas ketika mendengar pujian meluncur dari bibir anak kesayangannya. Semoga ini adalah awal bagi putraku mendapatkan kebahagiaannya kembali. Lalu, menantu pilihan istriku bisa segera pergi dari kehidupan kami selamanya.
Seandainya Anita tak punya hutang budi kepada Karin, sudah sejak lama aku mendepak wanita ini dari kehidupan kami dan aku bisa mencarikan wanita lain untuk dijadikan istri dan ibu bagi Xena. Tanganku rasanya sudah gatal ingin sekali membongkar kebusukan Karin di hadapan istriku. Namun, semua bukti belumlah cukup kuat untuk menyingkirkan dia selamanya dari keluarga Anderson.
Sebuah kado yang telah dibungkus rapi, Clarissa berikan kepada nyonya besar Anderson. Tersenyum hangat sambil mengulurkan tangan ke depan. "Happy wedding anniversary, Nyonya dan Tuan Anderson. Semoga pernikahan kalian langgeng terus hingga maut memisahkan."
__ADS_1
"Ini adalah kado yang sengaja saya beli khusus untuk Nyonya Anita yang tampil begitu cantik dan awet muda," sambung Clarissa. Memuji kecantikan ibu kandung Sean di usianya yang sudah tak lagi muda.
Mendapat pujian dari seseorang, tentu saja membuat Anita besar kepala. Wajah merah merona, hati berbunga-bunga karena perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Perjuangan agar terlihat lebih muda walau usianya telah memasuki kepala lima.
"Aduh, saya jadi merasa tersanjung nih. Terima kasih banyak atas pujiannya loh!" Tersenyum malu dengan kedua pipi memerah bagaikan tomat matang yang sudah siap dipetik dari perkebunan. Sebelah tangan kanan menyentuh pundak Clarissa. "Nona--"
"Namanya Clarissa, Ma. Dia adalah sekretarisku di perusahaan," sambar Sean.
Anita kembali tersenyum hingga memperlihatkan deretan gigi putih dan rapi. "Aah ... rupanya sekretarismu. Pantas saja dia terlihat tegas dan tampil penuh percaya diri. Sangat cocok mendampingi anakku yang super perfectionis." Terkekeh pelan setengah berkelakar. "Ya sudah, silakan dinikmati semua hidangan yang ada. Jangan sungkan."
"Tentu saja, Nyonya. Saya pasti menghabiskan semua hidangan ini tanpa tersisa," kelakar Clarissa. Lalu, ia kembali berkata, "Tapi, sepertinya perut saya bukanlah tercipta dari karet hingga tak mampu menampung seluruh makanan yang ada."
"Jika Nona Clarissa mau, saya bisa meminta pelayan membawakan makanan ini ke kediaman Anda. Kalau perlu, toko beserta pelayannya menjadi milik Nona bila Anda bersedia menjadi pendamping anak saya," celetuk David, ikut terlibat dalam percakapan.
Sontak, seluruh orang di tempat itu memandang aneh ke arah David. Mereka tak mengerti maksud perkataan pria berdarah Amerika.
"Saya hanya bercanda. Lagipula, mana mungkin itu terjadi. Anakku saja telah beristri dan istrinya pun ada di sini." David kembali berucap, meluruskan kesalahpahaman yang sempat terjadi beberapa saat.
Terdengar helaan napas lega bersumber dari Anita, Clarissa dan Sean. Tetapi tidak bagi Karin. Wanita itu mempunyai firasat jikalau David berniat menjodohkan Clarissa dengan sang suami. Terlihat jelas dari sorot mata tajam dan senyuman menyeringai seakan tengah mengejek dirinya.
Dasar tua bangka! Berani-beraninya dia berkata begitu di depanku. Kita lihat saja nanti, apakah kamu akan sesumbar tadi setelah melihat aku memadu kasih dengan anakmu.
.
__ADS_1
.
.