Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Sudah Terbongkar


__ADS_3

Yakin bahwa seseorang yang berdiri di ambang pintu adalah Karin, Sean bergegas bangkit dari tempatnya duduk. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia berhambur menghampiri wanita itu dan mendaratkan sebuah tamparan keras di wajah hingga suara pertemuan dua permukaan kulit menggema memenuhi ruangan.


"Sean, apa-apaan kamu, Nak!" seru Anita kala mendengar suara rintihan kesakitan bersumber dari bibir menantu kesayangan.


"Wanita iblis ini memang pantas mendapatkannya, Ma! Malah, tamparan barusan tidak sebanding atas apa yang dia perbuat selama ini!" sahut Sean sembari menatap tajam ke arah Karin seolah ingin melahapnya hidup-hidup. Bola mata memerah, rahang mengeras dan dada kembang kempis menahan semua amarah dalam diri.


Wajah Karin sudah memucat saat mendengar perkataan Sean barusan. Entah kenapa hati kecil wanita itu mengatakan kalau sang CEO telah mengetahui kejahatan yang dilakukannya selama ini kepada Xena. Namun, ia tak mau menduga-duga.


Menggelengkan kepala lemah dan berkata dalam hati. 'Aku tidak boleh berpikiran negatif dulu. Bisa saja Sean marah akibat masalah lain. Lagipula, bukankah aku sudah mengancam Imelda, Xena dan para pelayan sehingga mereka tidak akan membocorkan rahasia yang selama ini kusimpan rapat. Jadi, kalaupun ada laporan yang mengatakan aku sering berbuat jahat kepada Xena selama tidak ada bukti maka akan aman.'


Karin memberanikan diri dalam hati. Mendongakan kepala membalas tatapan tajam si pemilik mata hazel. "Memangnya, perbuatan apa yang telah aku lakukan selama ini, Sean hingga kamu tega menamparku di hadapan sekretarismu itu," lirih Karin. Sebelah tangan kanan menyentuh pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras yang mendarat di pipi. Saking kerasnya hingga meninggalkan jejak telapak tangan di sana.


Sean menyeringai, lalu melangkah mendekati Karin. "Jangan kamu pikir aku bodoh sehingga tertipu oleh air mata buaya yang mengalir di sudut matamu!" Lantas, ia melirik Anita yang tampak begitu mencemaskan menantu kesayangan. "Aku bukanlah Mama Anita yang mudah luluh hanya karena melihat menantu kesayangan berderai air mata."


Anita semakin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Sean. Alis mengerut, otak berpikir keras mencari benang merah atas keributan yang terjadi di mansionnya. Semakin berusaha berpikir keras, otak wanita itu malah semakin kosong tidak dapat berpikir jernih.


Anita pasrah dan memilih bertanya langsung kepada Sean. "Sean, katakan kepada Mama, apa yang sebenarnya terjadi. Mama benar-benar tidak mengerti apa yang tengah kalian bahas."


"Apa Mama tahu, apa yang dia lakukan terhadap Xena selama kita tidak ada di rumah?" Sean menekankan setiap kalimat yang terucap sambil menatap Anita dengan kilatan emosi. "Mama pasti tidak tahu, 'kan, kalau ternyata dia selalu menganiaya Xena di saat semua orang pergi. Menantu Mama itu tega membentak, mengancam bahkan mengurung putriku di gudang tanpa memberinya makan dan minum!"

__ADS_1


Karin semakin gemetar. Kepala menggeleng ke kanan dan kiri sambil telapak tangan menyentuh permukaan pipi. Sementara Anita masih membeku di tempat. Tidak percaya kalau menantu pilihannya tega berbuat kejam terhadap cucu tercinta.


"Maaf, jika saya lancang," sela Clarissa ikut bersuara, membuat kesadaran Anita kembali. "Tapi, apa yang dikatakan oleh Tuan Sean semuanya benar. Selama tiga tahun ini, Nyonya Karin telah memperlakukan Nona Xena dengan semena-mena. Bahkan tak jarang, dia melakukan kekerasan di saat kalian semua tidak ada di rumah."


"Jangan sembarangan bicara kamu!" bentak Karin dengan suara lantang. Menatap nyalang akan sosok wanita di hadapannya.


"Saya? Sembarangan bicara?" Clarissa tersenyum mengejek sambil menatap sinis ke arah Karin. "Saya tidak mungkin berani berkata demikian kalau tak mempunyai bukti, Nyonya."


Bola mata Karin semakin melebar sempurna. Wajah semakin pucat disusul degup jantung yang memompa lebih cepat dari biasanya. Peluh semakin deras mengalir, membanjiri wajahnya yang cantik.


"Bukti? Bukti apa yang kamu punya, hem, sampai berani sekali bersikap angkuh di depanku."


"Apa ini?" Anita memasukan tangan ke dalam amplop dan menemukan beberapa lembar foto luka memar di tubuh Xena yang membiru. Detik itu juga mata nyonya besar Anderson terbelalak. Jantung berhenti berdetak selama beberapa detik dan merasakan dirinya sedang didorong dari atas tebing saat memandangi tubuh kebiruan cucu tercinta.


Diselimuti rasa penasaran, membuat Karin merebut lembaran foto tersebut dari tangan Anita. Saat itu juga, ia merasakan bumi tempatnya berpijak tak lagi berputar. Bola mata melebar sempurna. Telapak tangan menutupi mulut sedangkan sebelah lagi memegang beberapa lembar foto.


"Kenapa Nyonya Karin terdiam? Pasti bertanya-tanya ya dari mana saya mendapatkan itu semua." Tersenyum mengejek pada wanita yang pernah menghancurkan kehidupannya dulu. Dalam hati merasa puas karena bisa menyaksikan sendiri awal mula penderitaan Karin.


Merasa dipojokkan dan tidak mau diusir dari kediaman Anderson, memaksa Karin kembali memainkan perannya sebagai istri dari Sean Anderson. Ingin memutar balikkan keadaan agar mendapat dukungan Anita kembali meski wanita sialan itu sudah melihat barang bukti.

__ADS_1


"Tujuanmu memberikan bukti ini apa? Ingin merusak nama baikku di depan Mama Anita? Setelah itu, kamu merebut posisiku sebagai Nyonya muda Anderson, iya?" sinis Karin sambil menghunuskan tatapan tajam. "Cih. Dasar wanita murahan, menghalalkan segala macam cara demi merebut apa yang dimiliki orang lain! Benar-benar menjijikan!"


"Kamu datang ke sini membawa barang bukti yang sudah direkayasa agar Mama Anita membenciku. Hebat sekali, kamu ya!" imbuh Karin kembali. Mencoba bersikap tenang walau dalam hati ada rasa ketakutan kalau usahanya gagal.


Alih-alih merasa tersindir, Clarissa tersenyum samar sambil mengibaskan rambutnya yang panjang hitam tergerai ke belakang.


"Tujuan saya cuma satu ingin membebaskan Nona Xena dari wanita iblis sepertimu, Nyonya!" pekik Clarissa.


Geram akan ucapan Clarissa, Karin mengangkat tangan dan mengarahkannya ke wajah sang sekretaris. Namun, sebuah tangan kekar mencekal pergelangan tangannya.


"Jangan pernah sekalipun menyentuh istriku, Karin!" Suara menggelegar bagaikan gemuruh petir menggema memenuhi penjuru ruangan. Bahkan kaca jendela yang berada di mansion tersebut gemetar seakan mau pecah.


Lantas, Sean menghempaskan tangan Karin yang mengambang di udara sambil berkata, "Aku percaya sepenuhnya kepada Clarissa kalau foto itu bukanlah rekayasa. Selama ini, kamu memang memperlakukan anakku dengan sangat kejam Karin. Kamu hanya berpura-pura baik di depan kami, tetapi di belakang malah menyiksa Xena. Benar-benar keterlaluan!"


"Aku tidak bisa membiarkan Xena hidup dalam penderitaan selamanya. Oleh karena itu, mulai detik ini aku talak kamu!" ucap Sean penuh percaya diri.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2