Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Persiapan Menyerang Karin


__ADS_3

"Jack, segera kirimkan semua bukti perselingkuhan Karin dengan pria misterius itu. Aku sudah tidak bisa menunggu terlalu lama. Semakin lama dia membuatku semakin muak terlebih mendengar penuturan Imelda yang mengatakan bahwa Xena tak luput dari kebiadaban wanita itu," ucap Clarissa kepada Jack melalui sambungan telepon.


Orang kepercayaan sekaligus sahabat Clarissa tampak memicingkan mata di seberang sana. "Memangnya apa yang diperbuat oleh wanita itu kepada Nona Xena?" Ia penasaran hal apa yang telah diperbuat Karin sehingga membuat Clarissa mempercepat rencana mereka. Padahal, mereka berniat membongkar kebusukan Karin saat ulang tahun wanita itu yang berlangsung dua bulan lagi. Anggap saja semua bukti itu sebagai kado terindah yang pernah diberikan oleh Clarissa.


"Wanita sinting itu mengancam dan sering mengurung Xena di gudang tanpa memberinya makan dan minum. Kejadian itu berlangsung sejak Xena masih berusia dua tahun," jawab Clarissa kesal sambil mencengkeram stir mobil miliknya.


Refleks, Jack berkata, "Perempuan sinting! Bagaimana bisa dia memperlakukan anak sekecil itu dengan kejam? Di mata hati nurani wanita itu saat melakukan perbuatan keji tersebut?"


Clarissa berdecak kesal. "Wanita jahat seperti dia tidak mempunyai hati nurani, Jack. Kalau punya, dia tak kan mungkin menghalalkan segala macam cara demi hidup sejahtera."


Tampak Jack menganggukan kepala sebagai tanda bahwa dia setuju atas perkataan Clarissa. "Lalu, apa yang ingin kamu perbuat sekarang? Membongkar kebusukan Karin saat ini juga tanpa menunggu dua bulan lagi. Begitu?"


Clarissa mengapit benda pipih tersebut di antara pipi dan pundak, lalu mengeluarkan uang lembaran sepuluh ribu dari dalam dompet dan memberikannya kepada pengamen yang mengenakan kostum Doraemon--salah satu tokoh kartun kesayangannya.


Pengamen berkostum Doraemon membungkukan badan, seakan ingin mengucapkan terima kasih kepada Clarissa atas kebaikannya memberikan sedikit rezeki bagi orang yang membutuhkan.

__ADS_1


"Ya, aku terpaksa melakukan itu demi kebaikan Xena, Jack. Aku tidak mau terjadi hal buruk menimpa anak itu," jawab Clarissa sambil memasukan menutup kembali jendela mobil. "Meminta Xena tinggal bersamaku di rumah pemberian Sean, lebih tidak masuk akal lagi. Tuan dan Nyonya besar pasti curiga. Jadi kupikir, inilah saatnya aku beraksi dan memberitahu mereka semua tentang jati diri Karin yang sebenarnya."


Jack menarik napas. Ia hanya bisa menerima keputusan Clarissa bila wanita itu bersikeras dengan pendiriannya. "Baiklah kalau begitu. Aku akan mengirim semua bukti dalam satu file dan mengirimkannya kepadamu."


"Oke, aku tunggu!" Clarissa mematikan ponsel, kemudian membaca pesan yang dikirimkan oleh Sean via WhatsApp. Banyak sekali pesan masuk dan panggilan telepon berasal dari pria itu. Akan tetapi, tak ada satu pesan pun yang dibalas olehnya.


Setelah menyelesaikan semua urusan di luar kantor, Clarissa memutuskan kembali ke perusahaan. Melajukan kendaraan roda empat dengan kecepatan sedang menuju gedung milik keluarga Anderson.


"Tuan Ibrahim, apakah Tuan Sean ada di dalam ruangan?" tanya Clarissa ketika berpapasan dengan Ibrahim yang baru saja keluar dari ruang CEO.


"Ada, Nona." Ibrahim memandangi wajah Clarissa yang semakin hari semakin pucat. "Masuk saja! Tuan pasti senang melihatmu."


"Tuan Sean?" ucap Clarissa sambil berdiri di ambang pintu.


"Sayang, kamu dari mana saja? Kenapa pesan dan panggilan telepon dariku tidak kamu jawab?" cecar Sean seraya memeluk erat tubuh Clarissa. Pelukan itu begitu erat seakan Sean takut sang istri pergi dan tak kan kembali lagi.

__ADS_1


Clarissa mengusap punggung Sean dengan lembut. "Aku habis menemui seseorang. Maaf tidak bisa membalas pesanmu ataupun mengangkat panggilan darimu. Tadi aku benar-benar sibuk sekali hingga tak sempat memberitahumu."


Sean mengurai pelukan, lalu menatap bola mata almond milik Clarissa. Mata memicing, mencari tahu siapa orang yang ditemui sekretaris sekaligus istrinya itu.


Merasa tengah ditatap dengan tatapan mengintimidasi, Clarissa menarik napas panjang dan dalam kemudian berkata, "Aku bertemu dengan Imelda dan Xena. Ada hal penting yang ingin kutanyakan kepadanya."


Semakin dibuat penasaran Sean setelah mendengar jawaban Clarissa. "Hal penting apa yang kamu bahas dengannya? Apakah ... ini berkaitan dengan Xena, anakku?"


Clarissa menganggukan kepala sebagai jawaban. "Benar. Hal ini juga berkaitan dengan istri keduamu, Sayang."


"Karin?"


Lagi dan lagi Clarissa menganggukan kepala. "Istrimu itu--"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2