
"Bagaimana mungkin dia membatalkan kontrak? Bukankah sudah ada kesepakatan antara kedua perusahaan lalu kenapa bisa dibatalkan secara sepihak!"
"Maafkan saya, Tuan. Saya juga tidak tahu pasti kenapa Mr. Tamada memutuskan kontrak secara tiba-tiba padahal kedua belah pihak tinggal menandatangani surat perjanjian saja. Namun, jika melihat situasi saat ini kemungkinan besar Mr. Tamada terpengaruh akan berita tak sedap tentang isu perselingkuhan antara Tuan dan Nyonya Clarissa," tutur Ibrahim melalui sambungan telepon.
"Ck! Kenapa malah menyangkutpautkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Benar-benar tidak profesional!" Sean mendengkus kesal mendengar jawaban Ibrahim. "Lalu, apa ada laporan lain yang ingin kamu sampaikan kepadaku?"
Di seberang saja, Ibrahim tampak sedang berpikir sejenak mencari kata-kata yang pas untuk disampaikan kepada Sean. Baru menyampaikan kabar pemutusan kontrak secara sepihak oleh Sunshine Corp sudah membuat sang bos marah besar apalagi kalau dia memberitahu hal lain. Bisa jadi esok atau lusa sepucuk surat berisi pemecatan untuk dirinya diberikan langsung oleh tuan muda Anderson.
Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada tanggapan apa pun dari pria di seberang sana. Sean menanti beberapa detik lagi sampai Ibrahim mengucapkan sesuatu. Akan tetapi, tidak ada suara sama sekali. Sang sekretaris membisu seribu kata.
Kasabaran Sean sudah habis. Lantas, dia kembali berkata, "Cepat katakan, apa ada hal lain yang belum kamu sampaikan kepada saya! Katakan dengan jujur jangan ada yang ditutup-tutupi!"
__ADS_1
Menarik napas panjang. Ketakutan akan menjadi pengangguran kembali hadir dalam benak Ibrahim. Dia merasa mungkin hari ini jabatannya sebagai asisten pribadi sang CEO akan berakhir.
"Tuan ... s-saham Anderson Grup semakin hari semakin menurun. Saya takut ini berpengaruh terhadap perusahaan. Jika tidak dicarikan solusi nasib perusahaan berada di ujung tanduk dan tak menutup kemungkinan posisi Anda sebagai CEO terancam. Para pemegang saham pasti mendesak Tuan besar untuk menurunkan jabatan Anda dari posisi sekarang guna meredam berita yang semakin memanas," pungkas Ibrahim.
"*****ng je*k! Mereka tidak punya hak untuk memintaku mundur dari jabatan itu, Ibrahim! Perusahaan itu adalah milik Papa dan aku sebagai pewaris tunggal berhak atas seluruh saham milik Anderson Grup," seru Sean mengepalkan telapak tangan kemudian menghantamnya ke atas meja. Dada pria itu kembang kempis disertai wajah memerah, menahan amarah yang tengah dirasakan olehnya.
"B-benar, Tuan. Namun, para pemegang saham pun berhak menyuarakan isi hati mereka di depan Tuan David. Jadi, tak menutup kemungkinan akan ada rapat internal, membahas langkah yang akan diambil guna menekan berita miring tersebut. Salah satunya adalah ... meminta Anda mundur dari jabatan CEO." Ibrahim semakin lemas dan pasrah. Sudahlah, mungkin ini memang saatnya dia meninggalkan perusahaan yang sudah sepuluh tahun menjadi tempatnya mengais rezeki.
"Tapi, itu semua hanya prediksi saya saja, Tuan. Semoga para pemegang saham tidak terhasut oleh kabar burung tersebut," lirih Ibrahim seraya memejamkan mata.
Suasana kembali menjadi hening. Hanya suara embusan napas Sean yang tersengal. Sebelah tangan masih mengepal di atas meja. Semua berita ini mampu membangkitkan seekor singa yang sedang tertidur.
__ADS_1
"Sudahlah, untuk sementara waktu percakapan kita berakhir sampai sini saja. Terima kasih atas informasi yang kamu berikan kepadaku." Sean mengakhiri percakapan mereka. Dia mematikan sambungan telepon kemudian melempar telepon genggam itu ke sebuah sofa yang ada di ruang keluarga.
"Sialan! Benar-benar sial! Bagaimana kalau prediksi Ibrahim benar dan mereka memaksa Papa memintaku mundur dari jabatan? Aku tidak mau perusahaan yang dibangun oleh Papa hancur bila digantikan orang lain. Namun, aku pun tidak mau bila saham perusahaan terus turun akibat gosip tersebut." Sean mengusap wajah menggunakan telapan tangan dengan kasar. Dia tampak frustasi akan berita miring yang terus menyudutkan Clarissa.
Oh Tuhan, semoga ada jalan keluar dari semua masalah yang tengah kuhadapi saat ini. Berdo'a dalam hati, meminta Tuhan memberikan secercah cahaya agar masalah ini bisa terselesaikan.
.
.
.
__ADS_1