Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Pentas Seni Kasih Ibu Kindergarden School


__ADS_3

Hari ini, bertepatan dengan tanggal 21 April, seluruh murid sekolah di Kasih Ibu Kindergarden School sedang mempersiapkan diri di belakang panggung. Terhitung sejak dua bulan yang lalu setiap guru pendamping di kelas masing-masing melatih anak muridnya agar tampil memukau saat acara pentas berlangsung begitu pun dengan Xena. Gadis bermata hazel itu diminta berpartisipasi meski dia baru satu bulan belajar di sana.


Namun, bedanya nona muda Anderson diminta membawakan pidato bahasa Inggris, sebab ia sangat fasih berbicara menggunakan bahasa asing bila dibanding teman-teman seusianya. Maklum saja, kakek gadis kecil itu adalah asli orang Amerika dan sudah lima tahun lamanya dia menetap di luar negeri sehingga bahasa sehari-hari yang digunakan pun bukanlah bahasa Ibu (bahasa Indonesia). Jadi tidak heran jikalau pihak sekolah mengutus Xena mewakili teman-teman sekolahnya untuk berpidato di hadapan seluruh tamu undangan.


"Xena, apakah Daddy-mu datang hari ini?" tanya salah satu teman sekelas Xena, bernama Audrey.


Xena yang sedang menyibak tirai panggung mengedarkan pandangan ke arah kursi penonton, mencari keberadaan daddy tercinta. Tanpa menoleh ke samping dia menjawab, "Seharusnya datang. Aku sudah memberitahu Daddy kalau hari ini akan pentas."


Lalu, tiba-tiba datang tiga orang gadis seusia Xena berdiri angkuh di belakang nona muda Anderson dan Audrey. Salah satu gadis kecil itu melipat tangan di depan dada dan menatap sinis ke arah gadis bermata hazel.


"Ucapan Xena jangan terlalu dipercaya. Dia itu pembohong! Lagipula, dia anak nakal jadi tidak mungkin Mommy dan Daddy-nya datang ke sekolah. Aku yakin, itu hanya omong kosong Xena saja untuk membuatmu percaya kepadanya dan mau berteman dengannya." Gadis kecil bernama Charlotte merasa iri, sebab perhatian guru serta teman sekolah mulai tertuju ke Xena, bukan lagi kepadanya. Sehingga ia ingin menjatuhkan nama baik Xena di hadapan semua orang.


Dituduh pembohong, lantas Xena melepaskan tirai yang digenggam oleh jemari tangannya. Ia membalikan badan dan menatap tajam ke arah Clarlotte. "Aku tidak berbohong! Daddy sendiri berjanji akan datang ke sekolah hari ini," elak nona muda Anderson. Walaupun netra gadis kecil itu belum menemukan di mana Sean berada tetapi ia sangat yakin kalau super hero-nya itu pasti datang dan menyaksikan kehebatannya saat berada di atas panggung.


"Mana mungkin! Bisa saja Daddy-mu itu bohong agar kamu tidak mengamuk. Iya 'kan, teman-teman?" ujar Charlotte meminta dukungan kepada dua orang temannya.


"Benar itu! Xena adalah anak cengeng, sering mengamuk tidak jelas seperti orang gila. Aku yakin, pasti Daddy-nya Xena terpaksa berkata begitu hanya untuk membuat dia bahagia," sahut gadis berkebaya merah marun.

__ADS_1


"Iya, benar sekali! Pasti, Mommy dan Daddy-nya Xena malu punya anak gila seperti dia!" sindir gadis berkebaya coklat ikut menimpali kedua temannya.


Kemudian, Charlotte dan kedua temannya secara serempak berseru, "Xena gila! Xena gila!" Kalimat itu terus diucapkan di hadapan nona muda Anderson.


Wajah memerah dengan kedua tangan mengepal sempurna. Xena merasa tersinggung karena dihina oleh teman sekelasnya.


Xena maju beberapa langkah ke depan. Ia berdiri tepat di hadapan Charlotte, ketua geng tersebut. "Enak saja kalian menghinaku. Rasa pembalasanku ini!" Lalu, ia dorong tubuh Charlotte hingga terdengar suara rintihan kesakitan bersumber dari keturunan Australia Indonesia.


"Aduh. Sakit!" keluh Charlotte ketika bagian bokongnya mengenai lantai. Akibat dorongan itu membuat gadis itu merintih kesakitan.


Xena telah lebih dulu melangkah maju ke depan. Akan tetapi, Audery masih membeku di tempat. Ia menatap Charlotte yang masih tampak kesal atas sikap nona muda Anderson, kemudian beralih menatap punggung teman sekelasnya yang nyaris menghilang di antara puluhan murid kelas nol besar.


Tidak ingin dijadikan sasaran kemarahan Charlotte, Audrey berlari sambil berseru, "Xena, tunggu! Aku ikut denganmu!"


Kini, hanya menyisakan Charlotte dan kedua temannya. Rahang gadis kecil itu mengeras, gigi gemelutuk disertai tangan yang mengepal sempurna. "Awas kamu, Xena! Suatu saat akan kubalas!"


***

__ADS_1


Acara pentas seni pun dimulai. Untuk pembukaan, pembawa acara atau yang lebih sering disebut MC (Master Of Ceremony) meminta murid dari kelas nol kecil untuk maju ke atas panggung, menyanyikan lagu 'Ibu Kita Kartini' ciptaan WR Supratman. Walaupun usia masih terbilang masih cukup kecil tetapi penampilan mereka tampak begitu memukau bahkan banyak mendapatkan standing ovation dari para penonton. Suara fals bersumber dari anak-anak tak membuat para orang tua wali murid menutup telinga, mereka malah bangga, sebab masih usia dini tetapi murid kelas nol kecil di atas panggung sana berani tampil di depan umum dan itu membuat takjub seluruh penonton.


Dari sekian banyaknya penonton, satu di antaranya adalah Clarissa. Ia duduk di kursi kedua dari depan. Bola mata wanita itu mulai berkaca-kaca ketika menyaksikan murid kelas nol kecil tampil penuh percaya diri di atas panggung. Setiap kali melihat anak kecil, ia jadi teringat akan bayi yang dulu pernah dikandungnya.


Sean yang kebetulan sedang menoleh ke arah Clarissa sedikit terpana melihat wanita itu tengah memandang ke depan dengan mata yang mulai berkata-kata. Entah kenapa, hati pria itu jadi teriris bagai disayat sebilah pisau tajam ketika menyaksikan sang sekretaris tengah memendam perasaan yang ia sendiri tak tahu penyebabnya apa.


Tuan muda Anderson mencondongkan tubuh ke samping dan berbisik, "Kalau kamu ingin menangis, menangislah. Jangan ditahan. Saya berjanji, tidak akan menceritakan kejadian ini kepada siapa pun. Cukup saya saja yang tahu jika mata almond-mu itu meneteskan air mata."


Suara bariton di sebelah Clarissa membuat bulir air mata mengalir di antara kedua pipi. Ia tak kuasa menahan gejolak di dalam dada. Memori ingatan di masa lalu terus menari hingga suara isak tangis menyayat kalbu terdengar di indera pendengaran sang CEO.


Tanpa sadar, tangan kekar Sean membawa kepala Clarissa mendekati pundaknya. Ia gunakan pundak itu sebagai sandaran wanita asing yang akhir-akhir ini membuat hari-harinya lebih bermakna. "Menangislah hingga kamu puas. Setelah itu, aku harap kamu tersenyum lagi seperti dulu."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2