
Malam ini, untuk pertama kalinya setelah lima tahun lamanya, Clarissa kembali tinggal bersama seorang pria dalam satu kamar. Ibrahim sudah beberapa menit lalu pergi meninggalkan kamar. Pria itu pun diminta tutup mulut, tak menceritakan kepada siapa pun bahwa saat ini tuan muda Anderson hendak memadu kasih bersama nona muda Smith.
Jemari panjang nan lentik menangkup pipi Sean, serta memandang lekat wajah tampan di hadapannya. Mata almond beradu pandang dengan pemilik mata hazel, jernih dan indah. Dalam diam, keduanya bisa merasakan debaran lembut di hati masing-masing.
"Rasakan setiap sentuhan lembut dari tanganku, Tuan. Dengan tangan inilah kelak Anda akan merasakan kenikmatan dunia yang selama lima tahun tak pernah dirasakan." Suara lembut bagai nyanyian surga begitu merdu terdengar di telinga sang CEO.
Bagai tersihir, Sean memejamkan mata menikmati gerakan tangan Clarissa yang mulai bergerak turun menyentuh dada bidangnya. Membuat lingkaran abstrak sambil memberi sedikit remasan di puncak dada pria itu.
"Sampai sini, apakah permainanku mengecewakan Anda, Tuan Sean. Jika iya, katakan saja bagian mana yang membuat Anda kecewa. Namun, bila memuaskan teruslah pejamkan mata, resapi setiap kelembutan dari sentuhan tangan saya." Kembali berucap dengan sedikit memberikan suara desahaan.
Masih dalam posisi terpejam, Sean menuruti perintah Clarissa tanpa membantah sedikit pun. Menikmati aroma parfum yang menggelitik indera penciuman. Bila dulu ia beranggapan aroma lily of the valley adalah aroma parfum yang disukai olehnya, tetapi tidak untuk kali ini. Red musk milik sang sekretaris telah memberikan aroma baru dalam kehidupan pria itu.
"Nikmatilah setiap sentuhan yang saya berikan, Tuan. Malam ini, saya adalah milikmu seutuhnya." Usai mengucapkan kalimat itu, Clarissa mendekatkan wajahnya ke depan. Mendekat ... terus mendekat ... dan semakin mendekat hingga tidak ada jarak sejengkal pun di antara mereka. Detik berikutnya sekretaris itu mendaratkan bibir ranum nan seksi ke permukaan bibir sang CEO.
Tubuh Sean semakin menegang, membuat sesuatu yang sejak tadi bangkit semakin terasa sesak. Clarissa pun merasakan yang dirasakan oleh pria di depannya. Entah memang dia sudah diselimuti kabut gairah ataukah memang diam-diam ia telah jatuh cinta kepada Sean tanpa disadarinya? Hanya Tuhan saja yang tahu.
Merasakan kehangatan bibir seorang wanita, tanpa ragu, Sean mencecap rasa manis di dalam bibir Clarissa. Pria itu memaksa wanita di depannya untuk membuka lebih lebar agar dapat mengabsen seluruh rongga mulut sang sekretaris.
Clarissa mengerang, karena untuk pertama kalinya merasakan begitu nikmatnya berciuman dengan sosok lelaki tampan bagai Dewa Yunani. Walaupun ini bukan ciuman pertamanya, tetapi ia merasakan seluruh tubuhterbang menuju ke nirwana tertinggi.
Waktu berlalu begitu cepat. Namun, tidak ada tanda-tanda mereka mengakhiri permainan tersebut. Saling mencecap, membelit lidah serta bertukar saliva. Clarissa dan Sean berlomba-lomba menunjukan siapakah gerangan yang mempunyai teknik berciuman terbaik di antara keduanya.
Ciuman itu terhenti di saat Clarissa nyaris kehabisan oksigen. Menggunakan ibu jari, mengusut sudut bibir sisa saliva yang tertinggal.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum menggoda sembari berkata, "Saya akui bahwa Tuan memang menguasai teknik berciuman bahkan lebih unggul daripada saya." Jujur berkata, mengakui kehebatan Sean dalam teknik berciuman. Setelah itu, dia tersenyum manis.
"Apakah kamu lupa, kalau saya adalah seorang duda? Pernah menikah, hidup berumah tangga meski hanya seumur jagung tetapi kemampuan saya dalam memuaskan seseorang tidak perlu diragukan lagi. Buktinya, Xena lahir di tengah pernikahan saya dengan Sabrina," sahut Sean bangga, karena berhasil menitipkan benih kepada mendiang sang istri.
Clarissa tersenyum mendengar perkataan Sean. Perkataan itu memang terdengar konyol tetapi juga cukup menghibur wanita itu.
Merasa puas telah memberikan permainan pembuka, Clarissa menarik tangan Sean menuju tempat tidur. Ia dorong tubuh pria itu dengan pelan hingga terlentang di atas kasur berukuran king size.
Dengan gerakan slow motion, jemari tangan Clarissa bergerak perlahan membuka ritsleting gaun yang dikenakan. Sengaja mengulur waktu agar si korban semakin penasaran dengan apa yang tersembunyi di balik gaun berbahan sutra lembut kualitas nomor satu dan merupakan rancangan desainer terkenal di tanah air.
Setelah berhasil melucuti gaun warna marun yang membungkus tubuh sintal bak gitar Spanyol berlenggak lenggok bagai super model profesional di atas run away. Melihat sekretarisnya hanya mengenakan segi tiga hitam dengan kacamata warna senada membuat dada bergerak turun naik. Jakut pria itu bergerak kala tuan muda Anderson menelan saliva.
"Kamu begitu sempurna, Clarissa. Tidak menyesal saya menerimamu sebagai seorang sekretaris. Dirimu bukan hanya pintar mengerjakan setiap perintah yang saya berikan tetapi juga pintar merawat diri," puji Sean. Memandang takjub akan sosok wanita berkulit putih tanpa cacat sedikit pun
Clarissa merangkak naik ke atas tubuh Sean dan dia berhenti tepat di depan inti tubuh pria itu. Sisi lain dari seorang Sean Anderson telah bangkit dan bersiap menyemburkan lava panas. Menyeringai karena berhasil menjadi orang kedua setelah Sabrina melihat sesuatu yang tersembunyi selama ini di balik setelan kerja dengan aneka warna pakaian.
Clarissa terkesiap beberapa saat ketika melihat pemandangan langka di hadapannya. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia risih dan segan melakukan hubungan intim dengan pria lain tanpa ada ikatan pernikahan. Akan tetapi, demi membalas dendam, ia rela menggadai tubuhnya asalkan semua rencana berjalan mulus.
Sudah tidak tahan memendam gelora hasrat bersemayam dalam diri, Sean bangkit dari pembaringan dan menarik tangan Clarissa dengan sekali hentakan. "Sudah cukup kamu menunjukan kemahiranmu, Nona Clarissa. Kini saatnya saya yang mengambil alih permainan."
Tanpa membuang waktu, Sean mencumbu tubuh Clarissa, meninggalkan jejak permainan di seluruh tubuh. Jemari tangan pria itu bermain indah di area sensitif bagi seorang wanita, membuat Clarissa menggelinjang, mendesah dan merem melek sambil menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh tuan muda Anderson.
Ketika Sean telah merasakan Clarissa telah siap, ia bertumpu pada siku. Pria itu berada di atas tubuh sekretarisnya seperti posisi sedang push up. "Siapkan dirimu, sebab sebentar lagi permainan inti segera dimulai," bisiknya di telinga Clarissa. "Pertama kali terasa sakit, tetapi setelah itu hanya ada kenikmatan saja dalam dirimu."
__ADS_1
Sebelum memulai inti permainan, Sean mengusap puncak kepala Clarissa dengan lembut. Mencium kening, hidung, kedua bola mata almond dan berakhir di bibir. Perlahan, ia mendesakkan pinggulnya di inti tubuh Clarissa. Hanya membutuhkan sekali hentakan, ia berhasil membobol pertahanan wanita itu.
Mengernyitkan alis ketika menyadari sesuatu aneh terjadi pada diri Clarissa. Ia hentikan sejenak kegiatannya. Walaupun hasrat membara terus bergejolak tetapi ia terpaksa berhenti, memastikan sesuatu.
Menatap sepasang mata tengah terpejam dengan kedua tangan mencengkram erat sprei putih. "Cla, kamu?"
Kelopak mata bergerak saat mendengar suara parau pria di atasnya. "Benar, Tuan. Maaf, karena tidak bisa memberikan mahkota saya kepada Anda." Usai mengucapkan kalimat itu, Clarissa menoleh ke samping. Ada rasa kecewa ketika seseorang mempertanyakan kesuciannya. "Jika Anda tidak sudi menjamah wanita hina ini, kita akhiri saja sampai di sini."
Sean masih terdiam sambil memperhatikan wajah cantik sekretarisnya. Sejuta pertanyaan muncul dalam benak pria itu. Ingin sekali bertanya, siapakah orang pertama yang menjamah wanita itu.
Akan tetapi, sebuah kesadaran menghantam kepalanya. Ia sadar bahwa itu tidaklah penting. Yang terpenting saat ini, ia berhasil mendapatkan Clarissa meski harus meniduri wanita itu.
"Bagaimana mungkin berhenti, sementara diriku telah lama menginginkanmu, Cla," ucap Sean lembut. Kali ini ia menggunakan bahasa non formal saat berdua dengan Clarissa. "Aku tidak peduli apakah kamu sudah pernah melakukannya atau belum. Bagiku itu tidaklah penting. I love you, Clarissa."
Sean kembali menghentak dengan irama lambat. Mengerang perlahan sambil menikmati permainan panas malam itu. Di kamar itu hanya terdengar suara deru napas memburu disertai desahaan nakal saling bersahutan menggema memenuhi seluruh penjuru ruangan.
Semakin lama, Sean meningkatkan intensitas gerakannya. Memberikan kenikmatan tiada tara sambil terus menyebut nama Clarissa.
Di saat Sean hampir mencapai puncak kenikmatan, ia mempercepat gerakannya sambil terus meracau tidak jelas hingga akhirnya pria itu pun meledak menyemburkan bibit unggulnya di dalam rahim Clarissa.
"Terima kasih Clarissa. Aku berjanji akan bertanggung jawab bila kehidupan baru hadir di perutmu ini," bisik Sean sambil mengecup bibir dan kening Clarissa. Kemudian ia merebahkan tubuh di samping wanita itu, membawa tubuh polos sang sekretaris dalam pelukan. "Istirahatlah. Setelah itu kita lanjut lagi."
.
__ADS_1
.
.