
Serangkaian acara pentas seni telah ditampilkan di atas panggung. Mulai dari drama, paduan suara, puisi hingga pidato semua menggunakan bahasa Inggris. Murid TK kelas nol kecil dan nol besar tampak begitu antusias ketika MC meminta mereka naik ke atas panggung. Suara tawa diselingi ocehan ringan terus menggema di ruang teater yang mampu menampung kurang lebih 700 orang.
"Kita temui Xena setelah ini. Saya yakin, dia pasti bahagia sekali karena ternyata kamu berada di antara ratusan penonton yang hadir menyaksikan kehebatannya," bisik Sean tatkala ia dan Clarissa tengah menunggu para tamu undangan keluar dari dalam ruang teater. Pria berparas rupawan dan sang sekretaris masih duduk manis di kursi penonton, sengaja membiarkan orang tua wali murid terlebih dulu melangkah sebelum akhirnya kedua insan manusia itu ikut menyusul.
Air muka Clarissa telah berubah sumringah. Ia kembali tersenyum setelah mencurahkan perasaan yang dirasakan di pundak Sean. Dengan setia, pria yang duduk di sebelahnya mendengarkan suara isak tangis tercekat dari bibir wanita itu tanpa menyela sama sekali. Pria itu memberikan sapu tangan kesayangannya untuk mrnghapus sisa air mata yang masih ada di sudut mata.
"Baik, Tuan! Terlebih setelah kita memberikan ini kepada Nona Xena. Dia pasti melompat kegirangan seperti anak kelinci," jawab Clarissa seraya mengangkat buket snack serba merah jambu ke udara.
Sebelum pergi ke sekolah, rupanya Clarissa meminta Sean membeli bingkisan hadiah untuk Xena sebagai bentuk apresiasi karena gadis kecil itu tampil penuh percaya diri di hadapan semua orang. Semua serba merah jambu, warna kesukaan nona muda Anderson.
Sean kembali berkata, "Yeah! Kamu benar." Ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Ruangan teater sudah mulai kosong dan para tamu undangan telah lebih dulu meninggalkan ruangan tersebut. Pria itu bangkit dari kursi, lalu merapikan jas yang dikenakan sambil berucap, "Kita pergi sekarang! Jangan sampai Xena lebih dulu keluar dari ruangan. Saya tidak mau dia menjadi anak ayam yang kehilangan induknya."
Clarissa menjawab singkat. "Oke! Mari, Tuan!"
***
Sama seperti orang tua wali murid lainnya, Sean dan Clarissa berdiri di depan pintu masuk lobi sekolah. Mereka menunggu anak kesayangan yang hari ini tampil memukau kala berada di atas panggung. Ada rasa bangga dan haru di dalam hati ketika menyaksikan betapa hebatnya sang buah hati saat menampilkan kehebatannya di depan semua orang.
Berdiri dengan setia hingga orang yang dinantikan hadir di hadapan. Sean dan Clarissa sesekali berbincang untuk mengusir rasa bosan yang datang menyapa. Hingga sepasang mata hazel menatap sosok gadis kecil sedang tertawa girang bersama teman sekolahnya.
__ADS_1
"Xena!" seru Sean. Melambaikan tangan ke udara, memberikan isyarat kepada anaknya agar mendekat.
Mendengar suara yang begitu familiar, Xena menoleh ke sumber suara. Pendar bahagia terlihat jelas di wajah kala ia melihat daddy tercinta berdiri di hadapannya. Bola mata jernih nan indah mengerjap beberapa kali saat menyadari Clarissa masih setia berada di sisi sang daddy.
"Kamu lihat, Audrey! Itu adalah Daddy-ku. Sekarang kamu percaya kalau aku tidak bohong. Yang berbohong itu adalah Charlotte, bukan aku," tutur Xena membela diri. Tidak mau dianggap tukang bohong oleh teman sekelasnya.
Audrey mengangguk antusias. "Iya, benar! Kamu memang bukan pembohong, Xena. Charlotte saja yang nakal! Dia iri karena teman-teman dan guru menyukaimu."
"Ayo, Audrey, aku kenalkan kepada Daddy dan Tante cantik!" ajak Xena.
Audrey menganggukan kepala sebagai jawaban. Berjalan sambil bergandengan tangan menghampiri Sean dan Clarissa. Kebetulan, saat itu orang tua Charlotte masih berada di dalam ruang teater sehingga teman dekat Xena dapat berkenalan dengan pewaris tunggal Anderson Grup.
Sean mengulum senyum lebar di wajah. Tangan pria itu terulur ke depan, mengusap puncak kepala Xena dengan penuh cinta. "Daddy sudah berjanji padamu akan datang saat kamu tampil hari ini. Jadi, mana mungkin Daddy ingkar janji dan membuatmu bersedih." Pria itu melirik ke sebelah kiri, posisi Clarissa berdiri. "Bahkan, Daddy mengajak Tante Clarissa datang ke sini untuk turut menyaksikan bagaimana hebatnya kamu dan teman-teman yang lain."
Clarissa mengulas senyum teramat lebar. "Seharusnya Nona Xena percaya bahwa Tuan Sean pasti menonton pertunjukan Nona hari ini. Tuan Sean adalah lelaki yang bisa dipercaya. Bukan begitu, Tuan?"
Kalimat panjang yang keluar dari bibir ranum Clarissa berhasil membuat hati Sean berbunga-bunga. Di depan mata, ia disanjung sedemikian rupa oleh wanita cantik.
Sean mengurai pelukan. Pria itu berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan Xena. "Benar kata Tante Clarissa. Coba Daddy tanya, apakah selama ini pernah membohongimu? Jika iya, sebutkan kapan dan dalam hal apa?"
__ADS_1
Xena menengadahkan kepala ke atas sambil mengetuk-ngetukan jari telunjuk di pipi. Gadis kecil itu tampak tengah mengingat apakah Sean pernah membohonginya atau tidak. "Tidak! Daddy tidak pernah sekalipun berbohong padaku. Daddy selalu menepati janji bila sudah berjanji kepadaku."
Xena mengalihkan pandangan ke arah Clarissa yang sedari tadi memegang buket snack warna merah jambu. Mata hazel itu menatap bungkusan makanan ringan yang dirangkai menjadi satu kemudian diberi pita warna senada dengan tatapan penuh mendamba. Namun, ia tidak berani meminta kepada orang asing meski di sebelahnya itu adalah sekretaris sang ayah.
Tatapan mata Xena berhasil tertangkap oleh netra Clarissa. Lantas, wanita itu berkata, "Nona Xena mau ini? Buket snack ini memang sengaja Tante belikan untuk Nona, sebagai bentuk apresiasi karena telah berusaha keras memberikan penampilan menarik bagi seluruh penonton."
"Sungguh?" tanya Xena antusias. Sepasang mata indah itu mengerjap berkali-kali hingga membuat Clarissa merasa gemas.
Clarissa menyodorkan buket tersebut dan kembali berkata, "Ambilah! Semua snack ini adalah milik Nona Xena. Nona bebas memakan semuanya dalam waktu bersamaan. Tante sudah meminta izin kepada Tuan Sean dan diberikan izin olehnya. Jadi, Nona Xena boleh memakan sepuasnya."
Xena melompat kegirangan dengan kedua tangan berada di udara. "Yeah! Yeah! Aku boleh makan snack ini semuanya!" seru gadis kecil itu. Kemudian, ia ulurkan tangan ke depan menerima buket tersebut dengan penuh suka cita. "Terima kasih banyak, Tante Clarissa."
Jemari tangan Xena menarik ujung rok span yang dikenakan, memberi isyarat agar Clarissa membungkukan badan. "I love you, Tante Clarissa." Sebuah ciuman penuh kasih sayang gadis itu berikan di pipi sekretaris sang daddy tatkala tinggi badan mereka sejajar.
.
.
.
__ADS_1