
Lagi dan lagi Clarissa menganggukan kepala. "Istrimu itu--" Belum sempat menyelesaikan perkataannya, tubuh wanita itu oleng. Wajah semakin memucat, matanya terasa berkunang-kunang. Kunang-kunang itu semakin memenuhi pandangan sang sekretaris. Tubuhnya lemas dan nyaris roboh. Namun beruntungnya Sean dengan sigap menopang tubuh istrinya.
Sean membawa Clarissa mendekati sofa. Ia rebahkan tubuh sintal itu di atas sofa empuk yang ada di dalam ruangan. Sebelah tangan menepuk pelan pipi istrinya. "Sayang, apakah kamu bisa mendengar suaraku?"
Sayup terdengar suara Sean. Hendak membuka kelopak mata tetapi sulit terbuka. Hanya mampu bergumam lirih sambil merasakan rasa pening yang tak pernah hilang.
"Fuckiing shiit!" umpat Sean menggunakan Bahasa Inggris. Lantas, ia merogoh telepon genggam miliknya dari saku jas dan menghubungi Ibrahim.
Tak berselang lama, dokter pribadi keluarga Anderson datang ke kantor memeriksa kondisi Clarissa. Meletakkan sebuah benda bundar terbuat dari logam ke atas dada sang pasien kemudian mulai memeriksa kesehatan istri ketiga Sean.
"Bagaimana keadaannya, Dokter? Apa yang terjadi kepada istri saya?" tanya Sean. Air muka penuh kecemasan terlihat jelas di sana. Melihat Clarissa terbaring tak sadarkan diri membuat dunianya terasa berhenti berputar. Ia takut seandainya wanita cantik yang terbaring di atas ranjang tak akan membuka mata untuk selamanya, sama seperti yang dilakukan Sabrina dulu. Mendiang istri tercinta pingsan dan tak pernah terbangun dari tidurnya.
Bola mata dokter pria berambut keperakan melebar sempurna ketika mendengar Sean mengucapkan kata 'istri'. Padahal, setahu dia menantu keluarga Anderson hanya Sabrina dan Karin. Lantas, kenapa sekarang ada wanita lain yang diakui sebagai istri dari tuan muda Anderson? Berjuta pertanyaan berputar, mengisi isi kepalanya.
"Dokter Hansel!" seru Sean dengan meninggikan nada suaranya. Kedua tangan mengepal di samping, mencoba mengurai emosi dalam diri. Sedikit kesal karena pria paruh baya di sebelahnya hanya terdiam tanpa mau menjawab pertanyaan darinya.
Hansel berdehem, mencoba menyingkirkan benda asing yang terasa mengganjal tenggorokan. "Ehm ... keadaan istri Anda baik-baik saja. Hal itu wajar terjadi pada trimester pertama kehamilan."
Tubuh Sean mematung mendengar semua yang dikatakan dokter Hansel. Jantung pria itu memompa semakin cepat dari biasanya. Mata hazel pria itu menyiratkan berbagai perasaan yang tengah dirasakan olehnya. Antara bahagia dan ketidakpercayaan hadir dalam waktu bersamaan.
"Hamil? Dokter Hansel tidak salah periksa, 'kan?" tanya Sean kembali memastikan bahwa apa yang dia dengar bukanlah halusinasi belaka.
Sepasang mata memicing tajam, menatap lekat pada pemilik mata hazel. "Loh, memangnya Tuan Sean belum tahu jika Nyonya tengah berbadan dua?"
__ADS_1
Sean menggeleng. "Tidak, Dokter. Istriku sama sekali tidak bercerita apa-apa kepadaku."
"Mungkin saja Nyonya Clarissa memang belum mengetahui bahwa saat ini dia sedang mengandung." Ibrahim ikut menimpali.
Ingatan pria itu kembali pada kejadian beberapa hari yang lalu saat mereka sedang melakukan meeting bersama klien. Wajah sang sekretaris memang terlihat pucat dari biasanya. Beberapa kali sempat memergoki Clarissa bolak balik toilet, memuntahkan isi perut. Ia pikir, istri sang bos sedang bermasalah dengan pencernaannya tetapi rupanya rekan kerjanya itu sedang berbadan dua.
"Oh ya, bisa saja itu terjadi," jawab pria paruh baya itu. "Usia kandungan baru memasuki minggu kelima. Masih rentan terjadi keguguran. Jadi, saya harap Tuan Sean bisa lebih memperhatikan kondisi istri Anda. Jangan sampai terlalu capek dan malah membahayakan janin yang ada dalam kandungan." Dokter Hansel memberikan nasihat kepada Sean meski mengetahui ini bukanlah pertama kalinya tuan muda Anderson melihat istri tercinta mengandung.
Senyum samar terlukis di sudut bibir Sean. Mendengar kabar bahwa istri tercinta sedang mengandung benih yang ia tanam membuat perasaan pria itu berbunga-bunga. Akhirnya, setelah sekian lama ia kembali merasakan kehangatan sebuah keluarga.
Setelah kepergian dokter Hansel, Sean duduk di tepian ranjang sambil mengusap lembut pipi kenyal sang istri. Mengamati dengan seksama wajah cantik yang terlelap dalam tidur. Tangan pria itu mengusap-usap perut yang masih terlihat rata.
"Tuan, selamat atas kehamilan Nyonya Clarissa. Saya turut bahagia mendengar kabar gembira ini. Sebentar lagi, akan ada anggota baru di keluarga Anderson."
Clarissa perlahan menggerakkan bulu matanya yang lentik. Kelopak matanya secara perlahan terbuka. Saat terbuka sempurna, hal pertama yang dia ingat adalah niatannya memberitahu perihal kekejaman Karin kepada sang suami.
"Sayang, kamu sudah sadar? Bagian mana yang menurutmu terasa sakit, katakan saja kepadaku. Jangan sungkan!" imbuh Sean terlihat cemas.
Clarissa meminta Sean membantunya duduk di sandaran tempat tidur. Tanpa diminta, pria yang berstatuskan sebagai suaminya menyodorkan segelas air putih ke hadapan wanita itu.
Setelah membasahi tenggorokan yang terasa kering, Clarissa mengatur napasnya agar kembali lebih tenang. "Sayang, sebetulnya ada hal penting yang ingin kukatakan kepadamu. Ini soal Karin."
Sean membelai lembut sebelah pipi Clarissa dengan penuh cinta. Menatap hangat pada sosok wanita yang sedang mengandung buah cintanya bersama istri tercinta. "Ada apa dengan Karin, hem? Memangnya dia berbuat apa terhadapmu?"
__ADS_1
Clarissa berkata lirih, "Jika dia berani berbuat macam-macam kepadaku, sudah bisa dipastikan tangan dan kakinya patah saat ini juga." Kalimat mengandung ancaman meluncur dari bibirnya yang ranum.
Sean kembali tersenyum mendengar jawaban Clarissa. Seharusnya dia tahu bahwa wanita di hadapannya bukanlah wanita lemah yang mudah ditindas oleh orang lain. Kendati begitu, tetap saja ia mencemaskan keselamatan istrinya terlebih saat ini wanita itu sedang berbadan dua.
"Lantas, apa yang diperbuat olehnya hingga kamu memaksakan diri menemuiku di sini."
"Dia telah berbuat sesuatu kepada anakmu, Sayang. Dia ... memperlakukan Xena dengan semena-mena." Akhirnya kalimat yang ingin disampaikan olehnya sebelum dia tak sadarkan diri telah terucap. Ada rasa lega bergelayut di dalam dada usai mengatakan apa telah diperbuat oleh istri kedua Sean. "Istrimu itu sering memarahi, membentak dan bahkan mengurung Xena di gudang tanpa memberinya makan dan minum."
"Kamu tahu, kejadian itu telah berlangsung selama tiga tahun lamanya tanpa diketahui oleh kamu serta Tuan dan Nyonya besar."
Bagai disampar petir di siang bolong. Tubuh Sean membeku seketika setelah mendengar kabar bahwa anak kesayangannya diperlakukan kejam oleh Karin. Ia tidak menduga jika selama ini Karin telah berbuat semena-mena terhadap buah cintanya bersama Sabrina.
"Terkejut? Itulah yang aku rasakan saat pertama kali mendengar cerita dari Imelda. Tak kusangka, istrimu itu bisa berbuat kejam terhadap anak kecil padahal gadis itu adalah anak tirinya sendiri." Clarissa menatap sendu ke arah Sean. "Dan kamu, sebagai orang tuanya sama sekali tidak memperhatikan itu semua. Ke mana saja kamu selama ini sampai tidak tahu ada wanita iblis tinggal di rumahmu!"
"Jangan mentang-mentang kamu sibuk bekerja hingga tak mengetahui apa saja yang diperbuat wanita itu terhadapmu!" kesal Clarissa sambil menatap nyalang. Hati terasa dikoyak-koyak kala membayangkan tangan kotor Karin memperlakukan Xena dengan tidak baik. Sekelebat bayangan wajah Xena yang ketakutan saat tanpa sengaja bertemu Karin di toilet mall semakin membuat hatinya terasa sakit bagai disayat pisau tajam.
"Aku tahu kamu merasa sedih atas kepergian Sabrina, tetapi apakah harus menyibukan diri dengan pekerjaan sampai mengorbankan anakmu sendiri?" Clarissa menggelengkan kepala lemah. "Jika kamu melakukan itu, artinya kamu egois, Sean. Kamu hanya mementingkan dirimu sendiri tanpa memikirkan keadaan Xena. Apakah itu yang disebut sebagai salah satu bentuk kasih sayang terhadap anakmu sendiri?"
.
.
.
__ADS_1