Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Restu untuk Clarissa


__ADS_3

Kepergian Karin memberikan kelegaan tersendiri bagi Clarissa, sebab mulai hari ini Xena dapat hidup tenang tanpa harus ketakutan bila tanpa sengaja melakukan kesalahan. Namun, firasat wanita itu mengatakan akan ada masa di mana Karin melakukan pembalasan atas semua tindakan yang dilakukan oleh sang sekretaris. Oleh karena itu, ia harus mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang datang menghampiri.


Efek kurang darah ditambah terlalu lelah membuat wajah cantik Clarissa memucat, mata wanita itu terasa berkunang-kunang. Kunang-kunang itu semakin memenuhi pandangan sang sekretaris. Tubuhnya lemas, tungkai pun tak mampu menopang berat badan wanita itu hingga membuatnya terjatuh di lantai.


"Astaga, Clarissa!" seru Anita ketika melihat sekretaris anak tercinta terkulai lemah di lantai.


"Sayang!" Sean bergegas membawa kepala Clarissa ke atas pangkuan. "Sayang, bangunlah. Kumohon, bangunlah, Sayang!" Akan tetapi, Clarissa tetap tidak sadarkan diri.


"Sean, sebaiknya kamu rebahkan Clarissa di sofa. Biar Mama carikan minyak angin untuknya," titah Anita yang diikuti anggukan kepala Sean.


Untuk memastikan tidak terjadi hal buruk menimpa Clarissa dan janin dalam kandungan akibat tubuh wanita itu membentur lantai, Sean kembali memanggil dokter ke kediaman orang tuanya. Beruntungnya tak terjadi hal serius menimpa mereka.


"Sean, bisakah kamu ikut Mama keluar sebentar. Ada hal penting yang harus kita bicarakan," bisik Anita. Nada suara rendah, tak ingin membuat istirahat Clarissa terganggu.


Sean mengembuskan napas kasar. Ia sudah tahu Anita akan membahas kenapa dirinya bisa membela Clarissa saat hendak ditampar oleh Karin. Terlebih ia sempat mengatakan bahwa sang sekretaris adalah istrinya, sedangkan setahu nyonya besar Anderson, istri Sean hanya satu yaitu, Karin.


Anita menyentuh pagar pembatas balkon di lantai dua. Pandangan mata menatap hijaunya tumbuhan yang ia tanam sendiri. Terpaan angin menerbangkan anak rambut yang menjuntai di pinggir telinga.

__ADS_1


"Apakah ada hal yang ingin kamu sampaikan pada Mama?" Anita memulai percakapan mereka. Terus memandangi keindahan pemandangan di depan sana.


Sebelum menceritakan semuanya kepada Anita, Sean lebih dulu menarik napas dalam lalu mengembuskan secara perlahan. Sadar kalau ia telah melakukan suatu perbuatan yang pasti membuat papa dan mamanya marah besar. Menikahi seorang wanita secara siri tanpa memberitahu kedua orang tua bukanlah tindakan yang patut dicontoh. Terlebih ia sudah melakukan hubungan layaknya suami istri dengan Clarissa di saat belum ada ikatan pernikahan di antara mereka.


Walaupun sang papa berasal dari Amerika, berdarah asli negeri Paman Sam bukan berarti pria bermata hazel menganut sistem liberal yang boleh bertindak sesuka hati. David mengajarkan anak semata wayangnya untuk tidak menyentuh seorang wanita sebelum ada ikatan yang sah. Prinsip itu selalu dianutnya selama ini hingga suatu kejadian tak terduga terjadi, memaksa dia melakukan nana nini bersama sekretarisnya sendiri.


"Seperti yang ketahui oleh kita semua bahwa Clarissa hamil dan bayi dalam kandungannya adalah anakku. Kami sudah menikah satu bulan lalu secara siri. Sebenarnya tidak ada niatan ingin membohongi Mama dan Papa, tetapi saat itu aku terpaksa melakukannya demi mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah kulakukan kepadanya," tutur Sean.


"Bertanggung jawab atas hal apa? Memangnya apa yang telah kamu lakukan kepada sekretarismu itu hingga dirimu harus menikahinya di saat statusmu masih mempunyai istri!" sentak Anita. Tidak habis pikir kenapa Sean mengambil keputusan secara sepihak tanpa melibatkan kedua orang tuanya.


Bukannya Anita tidak suka kalau Sean menikahi wanita cantik, anggun dan berpendidikan tinggi seperti Clarissa. Ia cuma takut reputasi yang dijaga olehnya selama ini hancur hanya karena mempunyai menantu seorang pelakor--sebutan bagi seorang wanita yang hadir di tengah rumah tangga orang lain. Mau ditaruh di mana muka wanita itu bila teman geng sosialita mengetahui kalau Clarissa adalah orang ketiga dalam rumah tangga Sean dan Karin.


"Daripada aku meniduri menantu kesayangan Mama, lebih baik aku melakukan cara lain. Namun, di waktu bersamaan aku berpapasan dengan Clarissa. Singkat cerita kami melakukan hubungan intim di kamarku. Itulah sebabnya kenapa saat acara berakhir aku tidak ada di ballroom karena tengah memadu kasih akibat perbuatan Karin."


"Sebagai lelaki, tentu saja aku tidak mau lepas dari tanggung jawab. Oleh karena itu, aku bergegas meminta bantuan Ibrahim menyiapkan segala kebutuhan pernikahan. Aku cuma tidak mau bila Clarissa menanggung malu akibat perbuatan bejatku kepadanya. Terlebih ... aku menyimpan rasa kepada wanita itu."


Kalimat terakhir Sean semakin membuat Anita tercengang. Tidak menduga kalau hati anak tercinta telah berpaling kepada wanita lain. Padahal selama membina rumah tangga dengan Karin, rasa itu tidak muncul di hati Sean tetapi kenapa anak tercinta malah mencintai seseorang yang baru beberapa bulan dikenal. Benar-benar tidak habis pikir.

__ADS_1


"Aku tahu Mama pasti kecewa atas sikapku. Namun, sungguh, aku benar-benar tulus mencintai Clarissa. Xena pun tampak akrab dengan wanita itu. Terlihat jelas betapa bahagianya putriku setiap kali bersama dengan Clarissa. Karena itulah aku memutuskan mempersunting sekretarisku menjadi istri, menggantikan posisi Sabrina di rumah ini. Akan tetapi, bukan berarti aku melupakan Sabrina begitu saja. Aku tetap menyayanginya karena dialah wanita pertama yang hadir dalam hidupku, memberikan cinta dan kebahagiaan meski hanya sebentar saja."


Ibu kandung Sean Anderson terduduk lemas di kursi terbuat dari rotan yang menghadap langsung ke arah kolam renang. Kepala terasa pening karena otaknya tak mampu mencerna semua kejadian yang baru saja terjadi.


Meletakkan jari telunjuk serta jari tengah di pelipis, lalu memberikan pijatan ringan di sana. "Tuhan, kenapa aku bisa memilihkan jodoh yang salah untuk anakku? Andai saja aku tahu kalau Karin bukanlah wanita baik, walau aku berhutang budi padanya karena telah mendonorkan darah untuk Sabrina meski menantuku tak bisa diselamatkan sudah pasti tidak kupaksan anakku menikahi Iblis itu," lirih Anita, menyesali perbuatannya sendiri.


Wajah polos tanpa dosa serta sikap lemah lembut yang ditunjukan saat pertama kali bertemu, membuat Anita jatuh hati kepada Karin. Sikap wanita itu mampu menghipnotis nyonya besar Anderson dan saat Sabrina meninggal dunia, ia memaksa Sean menikahi sang penyelamat meski saat itu anak tercinta tengah berduka.


Menarik napas dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan hingga berkali-kali. "Lantas, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Anita setelah berhasil mengendalikan diri. Semua kejadian ini berhasil membuat irama jantung berdetak lebih cepat dari biasanya.


Sean berjongkok, lalu meletakkan lutut di lantai. Mengulurkan tangan ke depan, menyentuh tangan sang mama di atas pangkuan. "Aku akan mengurus surat perceraianku dengan Karin. Setelah itu, melegalkan pernikahanku dengan Clarissa agar anak kami mempunyai legalitas yang sah di negara ini. Mama, mau 'kan menerima Clarissa sebagai menantu di keluarga ini?"


Anita menatap lekat mata hazel anak tercinta. Detik berikutnya ia tersenyum lebar. "Tentu, Nak. Mama pasti menerima Clarissa sebagai bagian dari keluarga kita. Ya walaupun akan ada resiko yang diambil karena kalian menikah di saat statusmu masih suami Karin, tetapi Mama tidak peduli. Kebahagiaanmu dan Xena merupakan prioritas utama Mama."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2