
Sean baru saja turun dari mobil. Ketika sepatu hitam mengkilap terbuat dari kulit dengan kualitas nomor satu menginjakan kaki di gedung perkantoran milik keluarga Anderson, hampir semua mata memandang ke arah pria tampan berusia dua puluh tujuh tahun. Bagaimana tidak, penampilan pria itu selalu saja keren dan mampu menghipnotis seluruh kaum Hawa di bangunan megah berlantai delapan.
Perpaduan wajah Asia dan Amerika, membuat Sean Anderson bagaikan Dewa Yunani yang terus menebarkan pesonanya di depan khalayak umum dan tak jarang para wanita beranggan-anggan dapat duduk bersama di atas pelaminan meski mereka tahu kalau status sang bos sudah beristri. Walaupun mereka tahu bahwa saat ini Sean bukanlah seorang duda apalagi jejaka, tetapi para wanita itu tak peduli selama tidak ada aturan yang melarang maka mereka akan tetap melakukannya.
Saat tiba di lantai tujuh, mata hazel Sean langsung menangkap sosok makhluk cantik yang tengah berbincang hangat bersama seorang lelaki. Melihat pemandangan itu membuat sekujur tubuh terasa panas, dada kembang kempis dan tanpa sadar ia kepalkan kedua tangan di samping tubuh hingga memperlihatkan urat-urat halus di punggung tangan.
'Berengsek! Mau apa Ibrahim di depan meja kerja Clarissa! Sudah kusediakan meja kerja untuknya tetapi dia malah mengganggu sekretarisku. Awas saja kamu, Ibrahim akan kuberikan hukuman atas kesalahanmu ini!' batin Sean. Ia bertekad memberikan pelajar kepada asistennya agar pria itu jera dan tak mengulangi lagi kesalahannya.
Maka, ia ayunkan kaki mendekati meja kerja Clarissa. Berdiri di samping dua insan manusia beda jenis kelamin. "Ibrahim, tolong kamu siapkan notulen rapat beberapa hari lalu. Saya minta sebelum jam makan siang sudah ada di atas meja!" titahnya tegas. Tanpa basa basi, ia memberikan tugas yang seharusnya dikerjakan oleh Clarissa. Namun, pria itu sengaja melakukan itu semua sebagai bentuk hukuman karena berani mengganggu sekretarisnya.
Sontak, Ibrahim terlonjak kaget mendengar perintah Sean. Ia tak menduga jikalau atasannya telah tiba di kantor secara tiba-tiba memintanya membuat notulen rapat.
Akan tetapi, Clarissa menunjukan ekpresi yang berbeda. Wanita itu tersenyum samar sambil melirik ke arah Sean. Ia tahu betul kalau saat ini bos-nya itu tengah dilanda api cemburu tetapi pria itu masih belum mau mengakuinya.
'Tampaknya panah Dewa Cupid telah melesak tepat di hatimu, Tuan. Itu artinya, langkahku semakin dekat untuk bisa mendepak Karin dari keluarga Anderson.'
Ingin membuat Sean semakin kagum kepadanya, wanita cantik bermata almond berkata, "Tuan, membuat notulen rapat merupakan tugas seorang sekretaris maka biarkan saya yang mengerjakannya. Anda bisa meminta Tuan Ibrahim mengerjakan pekerjaan lain."
Ibrahim melirik sekilas ke arah Clarissa. Pria itu tersenyum sumringah karena dibela oleh rekan kerjanya. Kedua sudut bibir tertarik ke atas membentuk sebuah busur panah. Namun, senyuman itu terhenti ketika lagi dan lagi suara baritone Sean menggema.
Tuan muda Anderson mengangkat sebelah tangan kanan ke atas dan menjawab, "Tidak perlu membela asistenku, Nona. Biarkan dia mengerjakan apa yang saya perintahkan!" Melirik tajam ke arah Ibrahim. "Jika Tuan Ibrahim tidak sanggup, silakan menemui bagian HRD untuk menerima surat pengunduran diri."
Susah payah Ibrahim menelan salivanya sendiri untuk membasahi kerongkongan yang terasa kering. Entahlah, kenapa nasib sial harus ia jumpai pagi hari itu.
"Bagaimana, Tuan Ibrahim, apakah kamu ingin mengerjakan tugas yang saya perintahkan atau menemui kepala HRD?" Sean memberikan tatapan mengintimidasi kepada pria di sebelahnya.
__ADS_1
Tak ingin kehilangan mata pencaharian, Ibrahim dengan cepat menjawab, "Saya bersedia mengerjakan titah yang Tuan berikan. Tuan tenang saja, tepat pukul sebelas siang notulen tersebut sudah ada di atas meja Anda."
Sean menganggukan kepala. "Bagus. Seandainya pekerjaanmu belum selesai sedangkan sudah masuk jam istirahat maka jangan pernah mrncoba pergi secara diam-diam untuk ke kantin. Kalau sampai saya menemukanmu berkeliaran di kantin, bersiaplah menerima surat pengunduran diri yang saya berikan langsung kepadamu. Mengerti!"
"Mengerti, Tuan!" sahut Ibrahim mantap. Tak ada sedikit pun keraguan dalam diri pria itu. Lebih baik tak istirahat daripada harus kehilangan tempat mencari rezeki, sebab akan banyak orang yang kecewa bila tahu dirinya dipecat dari perusahaan sedangkan di rumah ia merupakan tulang punggung keluarga setelah kepergian sang ayah dari dunia ini selama-lamanya.
Urusan dengan Ibrahim telah selesai dan Sean merasa puas karena sukses memberikan sedikit pelajaran kepada asistennya. Kini saatnya ia mencari kesempatan untuk berduaan dengan Clarissa.
Menatap ke arah Clarissa dengan sorot mata tajam setajam tatapan seekor elang yang hendak menerkam mangsanya. "Nona Clarissa, tolong ke ruangan saya sekarang!"
"Baik, Tuan!" Maka, dua insan manusia itu melangkah bersama menuju ruangan CEO.
"Duduklah dulu, saya kerjakan pekerjaan penting sebentar!" titah Sean tatkala dia dan Clarissa telah berada di ruangan CEO.
Tanpa membantah, Clarissa menuruti perintah Sean. Duduk di sofa dengan kedua kaki ia silangkan. Tak lupa meletakkan bantal di pangkuan, menghindari bagian roknya yang tersingkap tanpa sengaja.
Saat semua berkas telah selesai ditandatangani, Sean bangkit dari kursi lalu menghampiri Clarissa yang masih fokus menatap layar ponsel miliknya. "Ikut saya sekarang!" ucapnya singkat dengan suara dingin.
Clarissa mendongakan kepala menghadap Sean. Bola mata mengerjap beberapa kali. "Ikut Anda? Memangnya, Tuan hendak membawa saya ke mana?"
Sean menghela napas kasar. "Hari ini, ada acara pentas seni dan seluruh orang tua diminta hadir. Oleh sebab itu, saya mengajakmu menemani saya."
"Loh, memangnya Nyonya Karin ke mana, Tuan. Kenapa tidak menemani Anda? Lalu, bagaimana jika ada wartawan yang memberitakan bahwa Tuan ada affair dengan saya? Bukankah itu akan merusak citra Anda sebagai pemimpin Anderson Grup."
"I don't care! Persetan dengan omongan mereka! Kalaupun memang ada pemberitaan miring tentang kita berdua, biarkan saja. Kelak, berita itu pun akan hilang dengan sendirinya. Sudah, ayo jalan! Satu jam lagi giliran Xena tampil. Saya tidak mau dia kecewa karena kita tak datang tepat waktu."
__ADS_1
Ketika melintas di depan meja kerja Ibrahim, Sean berkata, "Ingat, jangan pernah coba-coba bermain trik dengan saya jika tidak mau dipecat!" Kemudian dia membenarkan jas yang dikenakan. "Kita pergi sekarang!"
***
Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit, akhirnya kendaraan yang ditumpangi oleh Sean dan Clarissa telah memasuki halaman sekolah Xena. Ia parkirkan mobil mewah miliknya di parkiran khusus para tamu undangan.
"Tuan, saya khawatir akan ada pemburu berita menyusup di antara orang tua wali murid," bisik Clarissa di telinga Sean.
Dengan santai Sean menjawab, "Kamu tenang saja, bila sampai ada berita miring tentang kamu dan saya maka Ibrahim yang akan mengurusnya."
Clarissa mengulum senyum di wajah. "Baiklah, kalau seperti itu adanya saya jadi tenang sekarang."
Terlahir dari keluarga kaya raya serta keturunan konglomerat membuat nama Sean Anderson menjadi sorotan. Setiap gerak gerik pria itu menjadi sorotan, baik awak media maupun khalayak umum. Jadi tidak heran ketika penerus perusahaan Anderson Grup memasuki aula pertemuan yang dijadikan tempat petas seni, seluruh mata memandang takjub akan sosok pria itu terlebih kehadiran Clarissa di sampingnya semakin menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka.
"Tuan?" bisik Clarissa lirih. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tampak jelas jika saat ini para orang tua wali murid tengah menatap ke arah mereka.
"Bersikap biasa saja. Jangan pedulikan mereka. Anggap orang-orang itu tidak pernah ada," sahut Sean sambil terus menatap lurus ke depan.
Clarissa menarik napas panjang dan dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Tanpa berkata dia menegakkan duduknya, lalu meletakkan hand bag miliknya di atas pangkuan.
Jemari tangan lentik nan mungil menari indah di atas layar ponsel dengan logo buah apel di belakang. Clarissa tersenyum lebar setelah berhasil mengirimkan sebuah pesan yang dikirimkan kepada seseorang.
'Permainan seru segera dimulai.'
.
__ADS_1
.
.