
"Aku mau duduk di samping Tante Clarissa, Daddy." Nona muda Anderson berucap ketika Sean menarik salah satu kursi dan hendak membantu sang putri agar duduk di sebelahnya.
Usai berkenalan dengan orang tua Audrey, Sean Anderson mengajak putri tercinta ke sebuah restoran Jepang di kawasan Jakarta Pusat. Ia juga turut serta membawa Clarissa ikut bersama. Dari kejauhan mereka tampak seperti keluarga bahagia yang terdiri dari ayah, ibu dan satu orang anak.
"Tentu saja boleh, Sayang. Mari, Tante bantu Nona Xena duduk di sebelah sini!" jawab Clarissa sambil mengulum senyum di bibir. Ia mengulurkan tangan ke depan, memastikan Xena duduk nyaman di kursi. Gadis kecil itu berada di sebelah kiri Clarissa, sedangkan Sean di seberang sang sekretaris.
Suasana restoran cukup ramai, sebab bertepatan dengan jam makan siang sehingga banyak pekerja kantoran yang datang untuk menghilangkan rasa lapar serta dahaga. Bukan hanya itu saja restoran Jepang yang kini menjadi pilihan Sean merupakan salah satu tempat cozy bagi para pengunjung.
Saat menginjakan kaki di restoran Akeno Japanase Restaurant suasana zen langsung terasa seketika. Pemilik restoran mengkombinasikan elemen kayu dan adanya zen garden di tengah restoran menciptakan suasana yang begitu menenangkan jiwa dan pikiran. Ruangan yang cukup luas, bersih, pelayanan baik serta aneka hidangan lezat yang dimasak oleh chef terkenal membuat restoran ini banyak diminati oleh para pengunjung.
Tingkah laku Clarissa tak luput dari pandangan Sean. Iris hazel pria itu terus memperhatikan bagaimana cekatannya wanita itu ketika membantu Xena makan. Mulai dari meniupkan makanan yang masih menguarkan kepulan asap panas ke udara hingga mengusut sisa makanan di area sekitar bibir menjadi pemandangan indah bagi tuan muda Anderson.
Tanpa sadar, ia menyungingkan seulas senyum samar di bibir karena tak menduga jikalau perhatian yang diberikan oleh Clarissa kepada Xena benar-benar tulus adanya. Ia pikir saat pertama kali mengajak wanita itu makan malam bersama untuk pertama kali, sikap sekretarisnya hanya dibuat-buat guna menarik simpati sang CEO. Namun, ketika ia kembali mengajak wanita itu makan bersama, pria berdarah blasteran dapat melihat bahwa wanita yang duduk di seberangnya mempunyai naluri keibuan yang tinggi hingga membuat ayah kandung Xena semakin kagum.
"Bagaimana Nona Clarissa, apakah semua makanan di restoran ini sesuai dengan lidahmu?" tanya Sean sambil menyendokan truffle gyudon ke dalam mulut.
Truffle Gyudon merupakan makanan ala Jepang berupa sajian nasi yang dibagian atasnya diletakkan bagian irisan daging sapi dan bawang bombai.
Clarissa yang tengah menyesap cold ocha melirik sekilas ke arah Sean, lalu menjawab, "Sesuai ekspektasi saya, Tuan. Walaupun harganya cukup mahal, tetapi bila mampu memanjakan lidah saya pun berani mengeluarkan budget besar demi mendapatkan kepuasan tersendiri dari hidangan yang kita makan."
Tampak Sean menganggukan kepala, setuju atas pendapat yang dikemukan oleh sekretarisnya. "Yeah, kamu benar, Nona Clarissa." Pria itu kembali menyendokan makanan ke dalam mulut. "Kamu tahu, restoran ini tidak sembarangan menerima koki untuk dipercaya menyajikan makanan kepada para customer. Ada beberapa tahap seleksi hingga orang tersebut akhirnya dinyatakan lulus dan dipekerjakan menjadi chef handal. Jadi tidak heran bila kualitas makanan dari setiap menu yang ada di buku menu tampak begitu menggugah selera."
__ADS_1
Clarissa berdecak kagum usai mendengar penuturan Sean. Tidak menyangka kalau pemilik restoran begitu memperhatikan cita rasa serta kepuasan para customer.
Iris coklat menatap mata hazel sang CEO. Alis wanita itu mengerut. Tiba-tiba saja ia jadi penasaran mengapa Sean begitu tahu seluk beluk tentang restoran tersebut.
Clarissa bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari Sean. "Tuan, kenapa Anda bisa tahu semua informasi tentang restoran ini. Apakah Anda kenal dengan pemilik restoran ini?"
Sean menganggukan kepala. "Kebetulan, pemilik restoran ini adalah sahabat dari mendiang istriku, Sabrina. Namanya adalah Akeno. Pria itu dan Sabrina sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMP."
"Saat aku menjalin kasih dengan Sabrina dan memutuskan menikah, hubunganku dengan Akeno cukup baik. Namun, semenjak kejadian itu, hubunganku dengan Akeno menjadi renggang. Hingga aku memilih pergi ke Amerika dan menetap di sana selama lima tahun, lelaki itu tak juga menghubungiku. Aku pun terlalu malas mencari tahu informasi mengenainya," sambung Sean.
"Oh begitu rupanya. Pantas saja Tuan mengetahui soal intern restoran ini. Ternyata Tuan Akeno merupakan sahabat dari mendiang istri Anda."
Sean dan Clarissa kembali sibuk menyantap semua hidangan yang ada di atas meja.
"Boleh. Pesan saja, kamu ingin es krim yang rasa apa. Sekalian pilihkan es krim untuk Tante Clarissa," jawab Sean mantap.
Clarissa tersenyum lebar kala melihat kedekatan hubungan antara ayah dan anak di hadapannya. Ia menjadi lebih emosional setiap kali menyaksikan suatu hal yang mengingatkannya akan kejadian di masa lalu.
Dulu, hubungan antara Clarissa dan mendiang sang papa sangat dekat bahkan Bhisma, nama ayah kandung wanita itu merupakan cinta pertama baginya. Super hero yang selalu menjaga dan selalu ada di saat ia membutuhkan. Akan tetapi, ia harus kehilangan papa tercinta akibat serangan jantung yang diderita hingga menyebabkan juragan kebun jagung terkenal di daerah Jawa Barat pergi untuk selamanya.
***
__ADS_1
Sementara Sean tengah menikmati waktu kebersamaan dengan anak tercinta, di kota yang sama tetapi tempat berbeda, tampak seorang wanita berusia dua puluh tujuh tahun sedang sibuk keluar masuk sebuah toko pakaian di salah satu mall terbesar, terluas dan terlengkap di Jakarta. Kedua tangan sudah penuh membawa tas belanjaan, tetapi belum ada tanda-tanda ia akan berhenti berbelanja.
"Tolong kamu jaga semua belanjaan saya ini. Jangan sampai hilang bila tidak mau saya laporkan kepada atasanmu. Mengerti!" ujar Karin dengan nada mengancam. Ia menitipkan barang belanjaan kepada salah satu petugas yang berjaga di depan pintu masuk toko.
"Baik, Nyonya. Anda tenang saja, barang belanjaan Nyonya akan aman di sini," sahut salah satu petugas toko.
"Baguslah kalau begitu. Soalnya semua belanjaan ini berharga puluhan juta rupian. Apabila hilang, saya yakin gaji kalian saja tak mampu untuk menggantinya. Jadi, daripada uang kalian habis untuk ganti rugi, sebaiknya jaga baik-baik barang belanjaan ini." Tangan Karin menyodorkan seluruh tas belanjaan kepada petugas toko. "Ingat, jangan sampai hilang!"
Usai mengucapkan kalimat terakhir, Karin melangkahkan kaki jenjangnya menuju deretan pakaian branded merk terkenal. Mengambil satu gantungan baju, lalu mencocokannya dengan tubuh wanita itu.
"Aku 'kan memang cantik jadi seluruh koleksi pakaian di toko ini pasti cocok denganku," gumamnya lirih sambil menatap kagum akan pantulan dirinya di depan cermin.
Ia ambil beberapa koleksi dress, blouse serta gaun di toko tersebut tanpa melihat terlebih dulu harga yang tercantum. Bagi wanita itu, harga barang tersebut bukanlah masalah penting. Yang penting ia puas karena dapat mempergunakan uang milik keluarga Anderson tanpa perlu takut kantong jebol. Terlebih dia pun diberikan uang bulanan oleh kekasih gelapnya sehingga mempunyai dua penghasilan dalam waktu bersamaan.
Ketika Karin sibuk memilah dan memilih, suara dering ponsel miliknya berbunyi. Lantas, ia meraih benda pipih tersebut dari dalam hand bag.
Rahang wanita itu mengeras, deru napas memburu ketika melihat beberapa foto yang dikirim oleh orang asing. "Dasar lelaki berengsek! Kenapa dia tidak memberitahuku kalau hari ini si Gadis Sialan itu ada acara pensi di sekolah! Dia malah mengajak wanita j*l*ng ini untuk menemaninya!" Kembali menatap layar ponsel dengan sorot mata tajam. "Tidak bisa dibiarkan. Pokoknya aku harus mencari cara mendapatkan Sean seutuhnya agar wanita ini tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan."
.
.
__ADS_1
.