
Clarissa mendaratkan bokongnya yang sintal di gazebo pinggir kolam renang. Menghela napas panjang guna menyingkirkan beban yang menghimpit dadanya. Tidak menyangka kalau hari di mana kebenaran tentang masa lalunya sebagai seorang pelakor terungkap di depan sang suami.
"Pria yang ada di foto itu adalah Jack, sahabatku. Persahabatan kami bermula saat dia menemukanku terkapar tak berdaya di pinggir sungai di daerah Jawa Barat. Hari itu, aku baru saja mengalami sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa bayi dalam kandunganku," ucap Clarissa mulai menceritakan asal mula kenapa dia dan Jack bisa bersahabat.
"Apa? Bayi? Jadi maksudmu, sebelum mengandung anakku, kamu pernah hamil sebelumnya. Begitu?" tanya Sean penuh selidik. Mata memicing menatap tajam kepada istri tercinta. Tidak percaya atas apa yang baru saja didengar olehnya.
Clarissa memandang Sean dengan tatapan nanar. "Benar. Kamu ingat saat kita pertama kali berhubungan? Waktu itu kamu tak merasakan ada sesuatu yang menghalangi inti tubuhku, 'kan? Itu semua terjadi karena sebelumnya aku pernah melakukan hubungan dengan pria lain di bawah kendali obat perangsang. Kamu tahu, siapa orang yang menjebakku hingga aku harus mengandung saat diriku masih berusia delapan belas tahun?" Sean hanya menggelengkan kepala lemah. "Orang itu adalah ... Karin, mantan istrimu."
Bagai mendengar suara gemuruh petir di siang hari, tubuh Sean seketika lemah. Tungkai pria itu tak sanggup menopang beban tubuhnya. Kebenaran yang disampaikan Clarissa membuat bola mata pria itu melebar sempurna. Sungguh tak menduga kalau mantan istri yang baru saja beberapa hari diceraikannya mempunyai keterikatan dengan wanita di hadapannya di masa lalu.
"K-kamu dan Karin ... kalian?" Sean tak sanggup berkata apa-apa. Lidah terasa kelu dan pikirannya pun sulit mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Clarissa.
"Ya, aku dan Karin sudah lama kenal. Namun, sepertinya mantan istrimu itu tidak mengenaliku." Menghela napas sejenak, kemudian melanjutkan, "Aku bisa memaklumi kenapa dia sampai tidak mengenaliku sebab lima tahun lalu dokter pernah melakukan operasi pada bagian wajahku akibat kecelakaan. Wajahku rusak karena sempat menghantam bebatuan sebelum jatuh ke sungai."
"Bagaimana kamu bisa mengenal Karin? Lalu apa motif dia menjebakmu hingga kamu mengandung anak di luar nikah?" tanya Sean lirih, hampir tak terdengar.
"Aku mengenal Karin karena dia adalah sepupu dari teman sekelasku. Beberapa kali bertemu saat aku berkunjung ke rumah Karmila untuk mengerjakan tugas sekolah. Dari situ aku dan Karin saling mengenal satu sama lain hingga suatu hari malapetaka datang menghampiriku. Sebuah kejadian yang merupakan awal mula dari hancurnya hidupku di dunia ini." Lantas, Clarissa mulai menceritakan kejadian lima tahun lalu.
__ADS_1
Saat pesta ulang tahun Karmila berlangsung, Karin bergegas meminta sang kekasih yang tak lain adalah pegawai baru di perkebunan milik orang tua Clarissa. Pria itu bekerja sama dengan Karin untuk mengeruk seluruh harta kekayaan orang tua Clarissa yang merupakan pemilik perkebunan di wilayah Jawa Barat.
"Sayang, cepat kamu dekati Jeni dan renggut kesucian gadis jelek itu. Aku mau malam ini semua rencana kita berjalan lancar tanpa ada kegagalan sedikit pun," ucap Karin saat dia bertemu dengan kekasihnya bernama Soni.
Sorot mata Soni menunjukan keraguan saat Karin memintanya meniduri Clarissa Ada rasa tak nyaman bila harus menyentuh wanita lain selain kekasih tercinta.
"Tapi, bagaimana kalau dia hamil? Apakah aku harus menikahinya? Lalu, kalau aku menikahi gadis itu bagaimana dengan kelanjutan hubungan kita, Rin? Aku tidak mau putus darimu." Soni masih tampak ragu, menjalankan tugas yang diberi kepadanya.
Karin menyentuh pundak Soni. Sepasang iris coklat menatap lekat manik coklat milik pria itu. "Kita masih bisa berhubungan di belakang Gadis bodoh itu. Ayolah, Son, gunakan kelemahan Jeni untuk mengeruk harta kekayaan Papa-nya. Aku yakin, dia tidak mungkin curiga karena rasa cintanya kepadamu begitu besar." Gadis itu masih membujuk sang kekasih agar luluh dan menuruti perintahnya.
Beberapa kali Karin datang ke perkebunan dengan dalih membeli sayuran dan buah-buahan segar di perkebunan milik papa Clarissa, ia mendapati gadis cupu berpenampilan tak menarik mencuri pandang ke arah kekasihnya. Dari situ ia mulai curiga bahwasannya Clarissa menaruh hati kepada sang kekasih.
Soni menghela napas panjang sembari memejamkan mata. "Oke. Aku akan menuruti perintahmu asalkan hubungan kita masih berlanjut." Tanpa membuang waktu, pria itu bergegas menegak minuman yang telah dicampur obat sialan kemudian menyusul Clarissa yang telah lebih dulu masuk ke kamar tamu.
Tangan mengepal sempurna hingga memperlihatkan otot halus di punggung tangan. Sean begitu marah setelah mendengar masa lalu Clarissa dan Karin.
"Beruntungnya saat kecelakaan, orang tua Jack menemukanku di tepian sungai. Mereka membawaku ke puskesmas dan merawatku. Namun, karena keterbatasan ekonomi membuat mereka menyerah karena tak sanggup membawaku ke rumah sakit agar aku mendapatkan perawatan intensif."
__ADS_1
"Tapi ... lagi dan lagi Tuhan menunjukan kekuasaannya hingga aku dipertemukan seseorang yang berhati baik dan bersedia menanggung biaya perawatanku hingga sembuh. Bukan cuma itu saja, orang itu pun mengangkatku menjadi anak di keluarganya." Bola mata Clarissa semakin berkaca-kaca saat memori ingatannya kembali tersesat pada kejadian lima tahun lalu. Merasa beruntung karena Tuhan mempertemukannya dengan Belinda dan Alvin, orang tua angkatnya.
"Lalu, kenapa Karin bisa mendapatkan fotomu bersama pria berbeda?" Sean masih menanyakan beberapa pertanyaan yang terlintas dalam benaknya.
"Aku yakin, mantan istrimu itu mendapatkan foto-foto tersebut dari salah satu target yang pernah kubongkar kebusukannya. Dia dendam dan menggunakan bukti itu untuk menyerangku."
Makin peninglah kepala Sean mendengar Clarissa menyebutkan kata 'target' disela percakapan mereka. Pelipis terasa berkedut kencang hingga nyaris membuat kepalanya mau pecah.
Clarissa tersenyum samar bahkan nyaris tak terlihat. "Aku terpaksa menjadi seorang pelakor untuk membalas rasa sakit hatiku, Sean. Aku ingin memberikan pelajaran kepada orang-orang yang tidak setia kepada pasangannya."
"Apakah aku termasuk di dalamnya?" tanya Sean penuh selidik.
Clarissa menganggukan kepala cepat. Tidak ingin menyembunyikan rahasia apa pun dari suami tercinta. "Namun, seiring berjalannya waktu aku mulai sadar bahwa diriku telah jatuh cinta pada pesonamu, Sean. Cinta tulus yang kamu beri mampu meruntuhkan benteng pertahanan yang kubangun sedari dulu. Aku ... cinta sama kamu. Aku--"
"Sst! Jangan katakan apa pun lagi! Aku sudah tak peduli dengan masa lalumu. Terpenting bagiku saat ini adalah kamu yang sekarang. Biarkan masa lalumu itu menjadi kenangan pahit yang kamu simpan rapat-rapat." Sean segera membawa tubuh Clarissa dalam pelukan. Mendekap erat wanita itu seakan ia takut kalau sang istri akan pergi meninggalkannya selama-lamanya. "Maafkan aku karena telah meragukan dirimu. Maafkan aku, Sayang."
.
__ADS_1
.
.