Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Selamat Malam, Tuan


__ADS_3

Setelah memakan waktu sekitar dua jam lamanya, akhirnya jet pribadi milik keluarga Anderson mendarat dengan selamat di bandara kota M. Turun dari pesawat ketiga orang dewasa itu disambut embusan angin dingin menerpa wajah membuat rambut dua pria tampan dan satu orang wanita cantik bermain di udara. Sean berjalan bersisian dengan Clarissa, sedangkan Ibrahim mengekori di belakang.


'Hufh ... sejak tadi aku hanya menjadi pendengar sejati tanpa diberikan kesempatan oleh Tuan Sean dan Nona Clarissa berbicara. Aku merasa seperti obat nyamuk yang tengah menghalau serangga laknat menjengkelkan itu menghisap darah manusia,' dengkus Ibrahim dalam hati. Entahlah, ia merasa seakan dirinya sedang menjadi setan yang berada di tengah dua insan manusia itu.


Dua orang yang bertanggung jawab terhadap proyek pembangunan rumah sakit berjalan cepat menghampiri Sean, asisten serta sekretaris cantiknya.


"Selamat datang di kota M, Tuan Sean Anderson. Saya senang, Anda dapat meninjau langsung lokasi pembangunan rumah sakit yang akan dilaksanakan dua hari ke depan," ujar salah satu penanggung jawab proyek. Pria itu mengulurkan tangan ke depan ingin menjabat tangan sang CEO.


Sebagai seorang pemimpin perusahaan, tentu saja Sean diwajibkan bersikap ramah meski tak ada seulas senyuman terlukis di wajah. Ia menerima uluran tangan itu dan menjabat tangan pria di hadapannya. "Ya ... terima kasih atas sambutanmu. Bolehkan kita langsung meninjau lokasi proyek? Saya ingin melihat lingkungan sekitar proyek sebelum besok lusa melihat secara langsung peletakan batu pertama."


Pria berjas hitam mengangguk cepat. "Tentu, Tuan. Kami akan mengantar Anda," ucapnya. "Mari, saya antar kalian menuju parkiran!"


Sean berjalan didampingi kedua pria penanggung jawab proyek. Sementara Clarissa dan Ibrahim berada di belakang.


"Nona Clarissa, udara di kota M ini begitu sejuk ya! Beda sekali dengan kota Jakarta," bisik Ibrahim ketika mereka tengah melangkah bersama ke parkiran mobil.


Clarissa yang berada di sebelah Ibrahim mengangguk-anggukan kepala cepat, tanda bahwa ia setuju dengan pendapat rekan kerjanya itu. "Betul, Tuan. Udara di sini memang sangat sejuk dan pemandangannya pun masih asri. Aku yakin sebulan saja tinggal di sini, tingkat stres kita selama berada di kota besar bisa berkurang."


"Yeah! Andaikan saja bisa cuti satu bulan, rasanya pasti menyenangkan," ujar Ibrahim lirih. Merasa bosan dengan rutinitas pekerjaan yang seakan tidak pernah usai untuk dikerjakan.

__ADS_1


***


Sepanjang perjalanan, semua mata terus memandangi keindahan pemandangan sekitar. Udara sejuk nan asri memanjakan netra ketiga orang dewasa tersebut.


Turun dari mobil, Sean diarahkan oleh pemimpin proyek yang diberikan tanggung jawab memantau selama pembangunan rumah sakit berlangsung. Rumah sakit yang dirancang khusus bagi ibu dan anak di kota M sengaja dibangun demi memberikan pelayanan kesehatan, pencegahan, penyembuhan serta rehabilitasi secara serasi dan terpadu di bidang kesehatan ibu dan anak.


"Rencananya, di depan sana adalah tempat peletakan batu pertama. Besok lusa, Tuan-lah yang akan meletakan batu tersebut di tempat yang telah ditentukan," ucap ketua proyek sambil menunjuk ke depan. Berjarak sekitar lima meter dari tempatnya berdiri, tepat di samping pohon mangga itulah tempat batu pertama diletakan.


"Lalu, apakah nasyarakat sekitar tidak keberatan apabila di tanah ini dibangun rumah sakit?" tanya Sean untuk memastikan jikalau isu yang beredar tidaklah benar.


"Awalnya memang sempat terjadi penolakan dari warga sekitar tetapi setelah diberikan penjelasan akhirnya mereka mengerti dan malah mendukung 100% proyek pembangunan tersebut. Bahkan, ada beberapa ibu-ibu yang meminta pemeriksaan gratis bagi ibu hamil yang tak mampu," tutur ketua proyek menyampaikan amanah dari salah satu warga sekitar. Sedikit terkekeh kala mengingat kejadian itu.


Sontak, Clarissa, Ibrahim dan kedua pria yang bertanggung jawab terhadap proyek pembangunan rumah sakit menatap Sean dengan tatapan yang sulit diartikan. Empat pasang bola mata menatap penuh keterkejutan pada sosok pemimpin perusahaan Anderson Grup. Tak menduga jikalau pria itu bersedia mengabulkan salah satu keinginan warga sekitar.


Merasa tengah diperhatikan oleh keempat orang di sebelahnya, Sean kembali berkata, "Saya hanya ingin agar mereka pun ikut merasa bahagia atas didirikannya rumah sakit ini. Lagipula, itu tidak sebanding dengan kerugian yang kelak diterima oleh warga sekitar. Berbagi itu tidak akan membuat kita miskin malah semakin memperbanyak ladang amal untuk di akhirat nanti."


Lagi dan lagi, mereka dibuat takjub akan sikap dermawan yang ditunjukan oleh tuan muda Anderson. Dua orang pria itu berpikir, kalau Sean adalah sosok pemimpin kejam yang tak punya hati nurani. Namun, ternyata, dugaan mereka salah. Bagi kedua pria itu, Sean adalah sosok pemimpin baik, bertanggung jawab serta mempunyai hati yang lapang sehingga bersedia menolong orang tak mampu. Meskipun tak pernah memberikan senyuman ramah kepada orang lain tetapi Sean berhasil memberikan kesan bagi di hati semua orang.


Setelah hampir tiga jam lamanya mengadakan rapat internal di salah satu ruang VIP sebuah restoran Jepang, kedua pria tadi mengantarkan Sean, Clarissa serta Ibrahim menuju penginapan. Memesankan tiga kamar hotel di pusat kota M. Lokasi hotel cukup strategis karena dikelilingi oleh berbagai fasilitas publik seperti alun-alun, restoran, rumah sakit, mall, minimarket serta drug store yang jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel.

__ADS_1


Sean dan Clarissa telah berada di kamar presidential suite Hotel Marrie akhirnya dapat menghela napas lega, sebab setelah seharian berkeliling mereka bisa mengistirahatkan tubuh di atas ranjang empuk hotel bintang lima. Ibrahim memilih melanjutkan berkeliling kota M ditemani ketua proyek serta asistennya. Entah apa yang akan dilakukan oleh sang asisten Sean tetapi tampaknya pria itu ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum dirinya diberikan tugas berat oleh atasannya.


Wanita bertubuh semampai tengah berendam air panas dalam bathtub sambil mengingat kembali kejadian yang dilaluinya seharian ini. Membayangkan itu semua, membuat sudut bibir Clarissa terangkat ke atas.


"Karina ... Karina ... tak kusangka, kamu itu wanita terbodoh yang pernah kutemui sebelumnya," ucap Clarissa seraya menggosok badannya menggunakan shower puff. "Terlalu lama hidup mewah hingga membuat otakmu tidak dapat berfungsi dengan baik. Kupikir, kecerdasanmu semakin meningkat, rupanya kamu malah semakin bodoh karena tak bisa mengenali diriku."


"Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi dirimu saat tahu siapa diriku yang sebenarnya. Mungkin ... kamu akan berteriak histeris atau bahkan mencelakaiku sama seperti dulu." Clarissa tersenyum smirk sambil menatap luruh ke arah sebuah jendela besar yang menghadap langsung pemandangan di kota M. "Dulu aku diam karena terlalu lemah hingga tak bisa berbuat apa-apa. Namun, untuk saat ini, aku siap bertarung denganmu. Karena diriku bukanlah Clarissa yang dulu. Cupu, bodoh dan mudah ditipu oleh orang lain hingga tanpa sadar telah dipermainkan oleh dua orang jahat seperti kalian!"


"Clarissa yang sekarang adalah wanita pintar, elegan, berkelas serta tak mudah ditindas. Jadi, persiapkan dirimu untuk menerima kehancuranmu secara perlahan. Aku bersumpah, atas makam mendiang Papa-ku, akan kubuat kamu menyesal karena telah berani menghancurkan kehidupanku!" Wanita cantik itu menghentakan tangan di atas permukaan air hingga riak air bergelombang menimbulkan sedikit air keluar dari tempatnya. Jatuh membasahi lantai kamar mandi.


Ketika Clarissa keluar kamar mandi, di saat bersamaan seorang pria melangkah mendekati kamar wanita itu. Ia berdiri di depan pintu kamar wanita bermata almond. Mengulurkan tangan ke depan, mengetuk daun pintu itu sebanyak tiga kali.


Namun, alangkah terkejutnya dia kala menyaksikan Clarissa hanya mengenakan jubah mandi dalam keadaan rambut basah dan aroma sabun menguar menggelitik indera penciuman lelaki itu.


"Selamat malam, Tuan!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2