
Tanpa membuang waktu, Sean bergegas bangkit dafi kursi kebanggaanya kemudian meraih jas yang digantung di standing hanger lalu berlalu begitu saja meninggalkan Karin yang masih duduk manis di kursi. Ia sudah tidak tahan ingin bertemu dengan Clarissa dan menanyakan masalah ini secara langsung. Meskipun kemarahan tengah menguasai diri tetapi dia mencoba berpikir jernih dan menyingkirkan pikiran negatif dari pikirannya.
"Sialan! Apa yang harus kulakukan seandainya saja Clarissa memang berselingkuh di belakangku? Tidak mungkin, 'kan bagiku menjatuhkan talak kepadanya di saat dia sedang mrngandung anakku. Namun, bagaimana kalau jika semua bukti yang ditunjukan Karin kepadaku adalah benar? Aargh! Sial. Benar-benar sial!" umpat Sean seraya berlari meninggalkan ruangan CEO.
Karin yang menyaksikan sendiri betapa kacaunya pikiran Sean saat menerima beberapa lembar foto tatkala Clarissa duduk berdua dengan Jack di sebuah café dekat mansion keluarga Anderson. Bukan hanya itu saja, rupanya Risma--teman sekolah Karin memberikan bonus berupa foto-foto sang sekretaris ketika tengah bermesraan dengan seorang pria yang tak lain adalah mantan kekasih Clarissa.
"Ternyata rencanaku berhasil membuat hubungan mereka tak akur. Sebentar lagi akan ada pemberitaan yang menyatakan bahwa wanita itu resmi menjadi mantan Nyonya muda Anderson sama sepertiku." Karin tersenyum bangga sebab rencananya kali ini membuahkan hasil. Tidak sia-sia dia menerima ajakan Risma untuk makan malam bersama di restoran Itali. Meskipun harus mendengar omongan tak pantas didengar tapi ternyata dia mendapatkan sebuah hadiah menarik yang bisa digunakan untuk menyerang Clarissa. "Kita lihat saja apakah Jal*ng itu masih punya urat malu setelah kebusukannya terbongkar di hadapan suami serta mertuanya."
Sementara itu, Sean semakin mempercepat langkahnya bahkan melupakan wibawanya sebagai pemimpin perusahaan. "Ibrahim, tolong cancel semua agendaku dengan klien. Ada hal penting yang harus kuselesaikan saat ini juga!" titah pria itu saat melintas di depan meja kerja Ibrahim. Tanpa memberikan kesempatan kepada sang asisten, tuan muda Anderson kembali melanjutkan langkahnya menuju parkiran basement.
Sambil menunggu lift mencapai gedung lantai delapan, Sean kembali mengeluarkan lembaran foto saat Clarissa sedang berduaan dengan Jack beberapa hari lalu. Di foto itu sang istri tampak begitu bahagia bisa berjumpa dengan pria lain bahwa wajah wanita itu begitu sumringah seakan tidak ada beban yang dipikul di pundaknya.
Ketika pintu lift berdenting dan terbuka, Sean langsung melangkah dan berlari menuju mobilnya. Pria itu duduk di balik kemudi kemudian menginjak pedal gas dalam-dalam hingga suara ban yang berdecit menggema di basemen. Mobil mewah milik sang CEO melesat membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan 80 KM/jam.
"Aku bersumpah tidak akan membiarkan Karin lepas begitu saja seandainya dia mengirimkan bukti palsu dan berani memfitnah istriku. Dengan tangan ini, akan kujebloskan dia ke penjara karena bermain-main denganku." Sepasang mata hazel terus memperhatikan kaca spion di samping kanan kiri. Saat ada kesempatan, dia akan menyalip beberapa kendaraan di depannya.
Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit dari yang seharusnya ditempuh selama kurang lebih empat puluh menit berhasil dipersempit oleh tuan muda Anderson. Seperti orang kesetanan dia membanting pintu mobil dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi dentuman yang cukup keras.
__ADS_1
"Di mana istriku berada?" tanya Sean saat berpapasan dengan salah satu pelayan yang kebetulan sedang mengganti gorden di ruang tamu.
Mendengar suara sang majikan, kedua pelayan itu menghentikan sejenak kegiatannya kemudian salah satu dari mereka menjawab, "Nyonya Muda sedang bersama Kepala Pelayan di taman belakang, Tuan." Usai mengucapkan kalimat terakhir, pelayan itu buru-buru menundukan kepalanya tak berani menatap Sean.
"Kalau putriku telah kembali dari sekolah, minta Imelda segera membawanya ke kamar. Kalaupun dia menangis ingin menemui Clarissa, jangan pernah sekalipun Imelda memberikan izin kepadanya! Mengerti!" kata Sean dengan nada tegas. Pria itu tidak ingin Xena mendengar daddy dan mommy-nya bertengkar karena khawatir memberikan dampak buruk terhadap psikis gadis kecil bermata hazel.
"Baik, Tuan," jawab kedua pelayan itu hampir bersamaan.
Sean langsung berjalan setengah berlari menuju taman belakang. Napas tersengal dengan dada kembang kempis. Sepanjang jalan dia terus memikirkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi termasuk ayah dari bayi yang tengah dikandung Clarissa. Entah kenapa dia jadi meragukan janin dalam kandungan sang istri. Apakah bayi itu memang darah dagingnya sendiri ataukah benih dari lelaki lain dan Clarissa sengaja menutupi semua kebenaran itu demi mendapatkan segala kemewahan serta status sebagai nyonya muda Anderson.
"Clarissa! Cla!" Sean berteriak dengan lantang hingga para pengawal dan kepala pelayan menoleh ke sumber suara. Begitu pun dengan Clarissa, wanita itu menghentikan kegiatannya yang sedang belajar merajut topi khusus untuk si Mbul.
"Sayang, kamu sudah pulang? Kenapa tidak memberitahuku kalau kamu pulang cepat. Andai saja aku tahu mungkin aku akan--"
Belum selesai Clarissa berbicara, sebelah tangan Sean terangkat udara memberikan kode kepada pengawal serta kepala pelayan untuk meninggalkan mereka berdua.
Wajah memerah, dada kembang kempis disertai sebelah tangan mengepal dengan sempurna membuat Clarissa menjadi lebih waspada. Insting wanita itu seakan memberitahu kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan suami tercinta.
__ADS_1
"Aku menunggu penjelasanmu, Cla!" Sean langsung berkata dengan nada suara tinggi.
"Penjelasan apa? A-aku tidak mengerti maksudmu, Sayang." Clarissa tergagap, sama sekali tak mengerti arah pembicaraan pria itu.
"Alah, jangan pura-pura bodoh! Kamu pasti tahu maksudku, 'kan? Tapi kamu mencoba mengelak dengan belaga tidak tahu!" cibir Sean seraya menghunuskan tatapan tajam kepada Clarissa.
Clarissa menatap Sean dengan tatapan yanh sulit diartikan. "Aku benar-benar tidak tahu maksudmu apa, Sayang. Sungguh."
"Kita lihat saja apakah kamu masih bisa mengelak kalau aku menunjukan sesuatu kepadamu." Lantas, Sean mengeluarkan beberapa lembar foto pemberian Karin ke hadapan Clarissa. "Bisa kamu jelaskan maksud dari foto ini apa?"
Dengan tangan gemetar, Clarissa meraih lembaran foto itu dari tangan Sean. Alangkah terkejutnya dia saat mendapati dirinya tengah duduk berduaan dengan Jack di café Senja beberapa hari lalu. Bukan hanya itu saja, dia pun menemukan foto zaman dulu kala masih menjadi seorang pelakor demi memberikan pelajaran kepada pasangan tukang selingkuh.
"I-ini ... kamu mendapatkan foto ini dari siapa, Sayang?" tanya Clarissa tergagap, sama sekali tak menyangka bahwa masa lalu yang ditutupinya selama ini akhirnya terbongkar.
"Tidak penting aku mendapatkan itu semua. Aku cuma butuh penjelasanmu saja. Cepat katakan, siapa pria yang tengah duduk bersamamu? Ada hubungan apa antara kamu dengan lelaki itu?" cecar Sean dengan berbagai pertanyaan. Dia sudah tidak dapat mengendalikan diri lagi. Ingin rasanya menghancurkan seluruh isi mansion itu karena terlalu cemburu melihat istri tercinta bermesraan dengan lelaki lain.
.
__ADS_1
.
.