Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Berlayar Menuju Pulau Cinta


__ADS_3

Usai mengadakan press conference di sebuah hotel mewah, Clarissa meminta Jack mengantarkannya ke perusahaan. Dia ingin memastikan sendiri apakah usaha yang dilakukan untuk mempertahankan jabatan Sean sebagai CEO membuahkan hasil atau tidak. Meskipun bisa saja dia menanyakan langsung perihal hasil rapat para pemegang saham kepada Ibrahim tetapi wanita itu ingin mengetahuinya langsung dari bibir sang suami.


"Apa rencana Anda selanjutnya untuk mengantisipasi kekacauan yang kemungkinan akan dilakukan lagi oleh Wanita iblis itu? Saya yakin, saat ini dia sedang mencari letak kesalahan Nona dan menjadikannya sebagai senjata untuk menyerang Anda," tanya Jack dari balik kemudi. Pandangan mata pria itu fokus, menatap jalanan di depan sana dari jendela mobil.


Clarissa yang saat itu sedang memijat pelipis yang terasa pening menghentikan sejenak kegiatannya. Memfokuskan diri pada pertanyaan yang baru saja ditujukan kepadanya. Sementara Lori, si pengawal wanita hanya terdiam, mengunci rapat mulut dan memasak kacamata kuda seakan tak mendengar serta melihat apa yang sedang dikerjakan oleh majikannya.


"Kamu benar, Jack, Karin pasti sedang menyusun rencana untuk membalas dendam kepadaku karena berhasil membalikan keadaan dan membuat nama baik dia hancur akibat bukti perselingkuhan yang kusebar di hadapan para wartawan. Namun, aku tidak tahu harus menyiapkan amunisi apa untuk membalas wanita itu. Saat ini aku tak bisa berpikir mau melakukan apa. Tenagaku terkuras habis untuk menyiapkan acara tadi siang." Clarissa menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Untuk sementara waktu, aku ingin fokus dulu terhadap kandunganku. Setelah itu baru kupikirkan lagi langkah selanjutnya."


Tampak Jack mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti kenapa Clarissa belum menyusun strategi untuk melawan Karin seandainya wanita gila itu kembali menyerang. "Baiklah, jika itu keputusan Nona, saya selalu mendukung. Hubungi saya bila Nona membutuhkan bantuan."


Seluruh mata memandang ke arah Clarissa dengan sorot mata yang sulit diartikan kala wanita itu melangkah anggun memasuki gedung pencakar langit di kota Jakarta. Terus melangkah maju menyusuri lorong sepi menuju sebuah ruangan di mana suaminya berada.


"Selamat siang, Nyonya Clarissa," sapa Ibrahim sopan saat dia berpapasan dengan sekretaris sekaligus istri dari sang bos. Pria itu baru saja memberitahu Sean perihal hasil rapat internal para pemegang saham.


Clarissa membalas sapaan Ibrahim dengan suara lembut. "Apa Tuan Sean ada di dalam? Aku ingin bertemu dengannya."

__ADS_1


"Masuk saja! Dia sedang menunggumu di dalam," balas Ibrahim.


Di saat Clarissa hendak melangkah, asisten pribadi Sean kembali berkata, "Nyonya, performa Anda barusan sungguh luar biasa. Saya tak menduga kalau Anda akan bekerja keras untuk mengembalikan nama baik keluarga Anderson di mata masyarakat umum. Loyalitas Anda memang patut diacungi jempol." Pria itu mengacungkan dua ibu jari ke udara. "Wanita seperti Anda memang pantas menyandang gelar Nyonya muda Anderson. Wanita kuat, hebat dan pintar sangat cocok menjadi istri dari penerus perusahaan Anserson Grup."


Clarissa terkekeh pelan mendengar pujian yang ditujukan kepadanya. "Kamu terlalu berlebihan, Ibrahim. Saya hanya melakukan tugas yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri pada umumnya, membela nama baik suami di depan khalayak banyak. Sudah ah, saya mau masuk dulu ke dalam. Banyak hal yang ingin dibicarakan dengan suamiku. Bye, Ibrahim!" Tangan melambai di udara sembari mengayunkan kaki menuju ruangan CEO.


"Sayang," panggil Clarissa dengan suara manja. Senyuman manis terlukis di wajah.


"Clarissa." Sean bangkit dari kursi kebanggannya dan menghampiri istri tercinta. "Wajahmu tampak kelelahan. Apakah si Mbul menyusahkanmu lagi hari ini?" tanya pria berdarah blasteran Amerika Indonesia.


Tanpa diduga, Clarissa melingkarkan kedua tangan di punggung Sean kemudian mendekap tubuh kekar nan berotot dalam pelukan. Kepala menempel di dada bidang sang lelaki. "Mbul tidak menyusahkanku hari ini. Hanya saja, tubuhku memang terasa lelah sekali, rasanya ingin terus rebahan di atas kasur empuk di kamar kita."


Clarissa mencibir dan memutar bola mata dengan malas. "Dih, geer! Siapa lagi yang kangen sama CEO dingin super menyebalkan sepertimu."


Sean terkekeh setengah berkelakar. "Aku memang dingin dan menyebalkan, tapi kamu cinta, 'kan kepadamu?"

__ADS_1


Pelukan terurai. Iris coklat menatap lekat sepasang mata hazel. Clarissa mengulurkan tangan untuk menangkup wajah Sean dan mendaratkan satu kecupan ringan di bibir. Tanpa berkata-kata, seharusnya pria itu tahu bahwa saat ini sang sekretaris telah jatuh cinta kepada bosnya itu.


Mendapat serangan mendadak, membuat Sean terkejut. Akan tetapi, dia bisa dengan mudah mengendalikan diri. Lantas, dia membalas pangutan istrinya dengan bersemangat dan penuh bergairah.


"Sayang, aku sangat merindukanmu," ucap Sean disela aktivitas mereka. Suara terengah disertai deru napas yang mulai memburu. Tubuh meremang saat tanpa sengaja area sensitif pria itu mengenai bagian perut sang istri. Sungguh, dia tidak dapat mengendalikan diri saat berada di dekat Clarissa. Bibir ranum wanita itu bagaikan candu bagi sang CEO.


"Tapi ada si Mbul. Bagaimana, Sayang?" jawab Clarissa. Wajah wanita itu merah padam melihat kabut di wajah suaminya yang tampak pekat dan berbahaya.


"Aku tidak akan menyakiti Mbul, sangat pelan ...." Usai mengucapkan kalimat terakhir, Sean kembali melumaat bibir sang istri dengan begitu rakus hingga suara decapan menggema memenuhi ruangan.


Tanpa basa basi, Sean segera menggendong Clarissa ala bridal style menuju kamar yang biasa digunakan pria itu untuk beristirahat. Siang menjelang sore, mereka habiskan untuk berolahraga di atas ranjang. Saling berbagi peluh, memberikan kehangatan satu sama lain.


Berkali-kali Sean membawa Clarissa menuju puncak kenikmatan tertinggi hingga membuat wanita itu melupakan tujuan awalnya datang ke perusahaan. Beruntungnya saat itu Lori serta para pengawal sudah diminta menunggu di ruangan lain sehingga tak perlu tersiksa kala mendengar suara aneh yang tanpa sengaja terdengar dari dalam ruangan CEO.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2