Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Mengurus Surat Perceraian


__ADS_3

"Ibrahim, tolong kamu secepatnya urus surat perceraian saya dengan Karin. Pastikan sidang itu diadakan dalam waktu dekat. Saya tidak mau ada pemberitaan miring mengenai kehamilan Clarissa," pinta Sean kepada Ibrahim.


Asisten pribadi Sean menganggukan kepala sebagai jawaban. "Baik, Tuan. Saya segera meminta pengacara keluarga Anderson untuk mengurusi masalah ini. Kalau begitu saya permisi dulu." Ibrahim pamit undur diri meninggalkan mansion milik sang majikan.


Setelah kepergian Ibrahim, Clarissa telah tersadar dari tidurnya yang cukup panjang. Perlahan menggerakan bulu matanya yang panjang nan lentik kemudian pemilik mata almond membuka kelopak mata perlahan-lahan terbuka.


"Sean?" ucap Clarissa lirih. Meski ia sudah berusaha sekuat tenaga, suara wanita itu nyaris tak terdengar. Akan tetapi, karena suasana kamar sepi suara itu masih bisa didengar oleh Sean.


"Sayang, syukurlah kamu sudah sadarkan diri." Sean segera berhambur dan duduk di tepian ranjang. Tangan kekar pria itu terulur ke depan, mengusap sebelah pipi lembut selembut sutera. "Apa yang kamu rasakan saat ini? Mual, pusing atau ngidam sesuatu?"


Clarissa tersenyum samar mendengar rentetan pertanyaan yang ditujukan kepadanya. "Aku hanya merasa sedikit pusing saja mungkin karena terlalu lama tidur." Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tersadar kalau saat ini sedang ada di kamar Sean, ia kembali berkata, "Kenapa aku bisa ada di kamarmu? Kalau Nyonya Anita tahu, dia pasti marah karena pekerja rendahan sepertiku tidur di ranjang majikan."


Sean terkekeh pelan, mencubit ujung hidung Clarissa lembut. "Mama tidak mungkin memarahimu, Sayang, karena dia sudah tahu tentang status kita." Pria itu menggenggam erat jemari tangan sang istri sambil mengusap punggung tangan secara perlahan. "Sewaktu kamu tidur, aku menceritakan semuanya kepada Mama. Dimulai dari obat sialan itu hingga berujung pada pernikahan siri kita, semua sudah aku katakan tanpa ada satu pun yang terlewatkan."


"Lalu?" tanya Clarissa penasaran.


"Awalnya Mama cukup terkejut tentang pernikahan kita yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tetapi setelah mengetahui alasan dibalik aku menikahimu, Mama bisa menerimanya. Bahkan, dia pun bersedia menerimamu menjadi bagian dari keluarga kami."


"Bagian dari keluarga kalian? Maksudnya, mau menerimaku sebagai menantu, begitu?" ucap Clarissa memperjelas apa yang ada dalam benaknya saat ini. Khawatir terjadi kesalahpahaman di antara mereka.

__ADS_1


Sean mengangguk. "Benar. Jadi, mulai saat ini statusmu bukan lagi sebagai istri siriku melainkan istri sah dari seorang Sean Anderson. Aku pun sudah meminta Ibrahim mengurus perceraianku dengan Karin. Setelah semua urusan selesai, barulah kita mendaftarkan pernikahan ke KUA dan menggelar resepsi besar-besaran. Kamu ... mau 'kan duduk bersebelahan denganku di pelaminan?" tanyanya ragu-ragu. Entah kenapa, ia terkadang masih ragu dengan perasaan Clarissa meski wanita itu telah mengorbankan kesuciannya direnggut oleh sang CEO.


Anak angkat Alvin Smith tidak menyahut dengan sebuah ucapan, tetapi melalui sebuah gerakan. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia menarik tengkuk Sean kemudian mencium bibir pria itu. ******* bibir sang suami dengan begitu lembut.


Sebagai pria normal yang merasakan kelembutan bibir Clarissa, tak membuat Sean menolak. Pria itu membalas ciuman istri tercinta dengan sedikit liar. Bibir pria itu mengulum bibir bawah Clarissa. Bergantian dengan Clarissa yang mengulum bibir atas Sean. Lidah mereka saling membelit satu sama lain. Bertukar saliva yang terus menghantarkan gelombang panas dalam diri masing-masing.


Desahaan pelan lolos dari bibir Clarissa yang ranum nan tipis kala Sean memperdalam ciuman mereka. Semakin lama ciuman itu semakin menuntut hingga membuat jiwa kelelakian Sean bangkit.


Sadar kalau saat ini istri tercinta dalam keadaan kurang sehat ditambah usia kandungan masih sangat muda, membuat Sean harus menahan hasrat yang menggelora. Lantas, ia menghentikan kegiatan panas mereka.


Pandangan mata dipenuhi kabut gairah, tetapi otak Sean masih bisa berpikir jernih. "Tindakanmu barusan aku anggap sebagai jawaban," tuturnya sambil mengusap sudut bibir Clarissa yang terkena sisa saliva miliknya. "Aku tinggal dulu sebentar, mengerjakan laporan yang dikirimkan Ibrahim barusan. Setelah semua selesai, aku balik lagi ke sini. Kalau butuh apa-apa, kamu bisa menekan tombol di samping dan sampaikan keinginanmu kepada para pelayan di bawah sana."


***


"Di mana Mister White?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Karin. Pelayan wanita berseragam navy dengan celemek putih melingkar di pinggang terkejut ketika mendengar suara pintu rumah dibanting dengan cukup keras.


Pelayan wanita itu sedang membersihkan guci mahal ratusan juta rupiah. Pada guci tersebut, menggambarkan seorang wanita mengenakan kimono, pakaian khas negeri Jepang sedang berdiri memandangi gunung Fuji sambil membawa payung. Bunga sakura bermekaran di saat musim semi membuat netra siapa saja yang melihat kagum atas hasil karya tersebut.


Melihat pelayan wanita itu bergeming, Karin melesak begitu saja tanpa permisi terlebih dulu. "Mister White, keluarlah! Aku butuh bantuanmu sekarang!" seru mantan istri Sean sekaligus kekasih gelap Mister White. Melangah masuk dengan napas terengah. "Mister White, aku tahu kamu ada di dalam. Keluarlah!"

__ADS_1


Rasa kesal akibat diperlakukan tidak adil oleh keluarga Anderson membuat amarah dalam diri Karin mengebu-ngebu. Telapak tangan mengepal di samping badan hingga memperlihatkan buku-buku tangan. Dada bergerak kembang kempis disertai wajah memerah menahan emosi yang terus menyelimuti diri.


Karin membuka mulut, bersiap memanggil kembali kekasih gelapnya yang merupakan pria keturunan Jepang. Akan tetapi, saat ia telah bersiap berteriak dari arah belakang pria bermata sipit dengan alis tebal berdiri sambil menatap tajam ke arah mantan istri Sean.


"Ada apa teriak-teriak! Memangnya kamu pikir rumahku ini hutan bagimu, hem!" kata Mister White dingin dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Mendengar suara sang kekasih, Karin membalikan badan dan berhambur mendekati pria itu. "Sayang, tolong aku. Aku baru saja diusir dari kediaman Anderson. Sean sudah tahu bagaimana aku memperlakukan gadis sialan itu selama ini. Dia--"


Suara Karin terhenti kala melihat telapak tangan mister white terangkat ke udara, seakan memberikan isyarat kepadanya untuk berhenti berbicara. Bibir wanita itu mengatup sempurna.


"Jadi maksudmu, kamu sudah tidak lagi tinggal di kediaman Anderson?" tanya Mister White, yang diikuti anggukan kepala Karin. "Jangan bilang ... kalau Sean juga sudah menceraikanmu."


Lagi dan lagi Karin menganggukan kepala sebagai jawaban. "Benar, Sayang. Sean menjatuhkan talak kepadaku. Dia langsung menceraikanku saat itu juga."


Air muka mister white berubah masam. Sorot mata pria itu mulai memancarkan ketidaksukaan atas informasi yang disampaikan oleh Karin. Rahang mengeras hingga terdengar suara gemelutuk gigi saling beradu.


Lalu ... tiba-tiba saja ... suara pertemuan dua permukaan kulit terdengar memenuhi penjuru ruangan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2