
Tepat pukul satu siang, Clarissa pergi ke penjara berniat menemui Karin di sana. Lori beserta kedua pengawal dengan setia menemani nyonya muda Anderson pergi ke mana pun. Mereka berjalan menuju gerbang masuk sebuah penjara di kota Jakarta.
"Kalian bertiga tunggu saja di sini. Di dalam sana pasti ada sipir penjara yang menemaniku. Kalaupun memang Karin melakukan suatu hal kepadaku, aku tentu saja tidak akan diam. Aku pasti membalas wanita itu dan tak kan kubiarkan dia melukai anakku. Mengerti?" pesan Clarissa sebelum masuk ke sebuah ruangan khusus.
Lori beserta kedua rekannya menganggukan kepala seraya menjawab, "Baik, Nyonya." Meskipun berat menuruti perintah Clarissa, tetapi mereka tidak dapat melanggar aturan yang tetapkan oleh pihak berwajib. Pada akhirnya mereka pasrah dan berharap Clarissa akan baik-baik saja selama berada dalam ruangan yang sama dengan Karin.
"Silakan, Nyonya. Waktu Anda terbatas. Jadi, gunakan dengan sebaik mungkin," ucap seorang polisi.
Tak berselang lama, pintu besi terbuka dan munculah Karin memakai pakaian penjara berwarna orange terang. Mereka kembali dipertemukan di sebuah ruangan khusus yang hanya dihalangi kaca. Dua mata saling menatap penuh kebencian.
Karin duduk di seberang Clarissa. Wanita itu menyeringai sambil berkata, "Ada urusan apa kamu menemuiku? Bukannya kita tidak punya masalah apa pun."
Mendengar pertanyaan Karin, membuat perut sang sekretaris terasa geli seakan ada tangan tak kasat mata sedang menggelitikinya. "Tampaknya otakmu yang isinya hanya uang, uang dan uang saja terbentur sesuatu saat dirimu masuk penjara hingga kamu amnesia," kata wanita itu sambil memandang sinis. "Kamu lupa, apa yang telah kamu perbuat terhadap Xena selama ini? Sejak aku tahu kalau kamu sering menyiksa Xena, maka sejak itu pulalah kita berurusan."
Karin mencibir dan memutar bola mata dengan malas. "Sok menjadi pahlawan kesiangan! Ingat, Nyonya Pelakor yang terhormat, kamu itu hanya ibu tiri. Jadi, jangan sok-sokan menjadi ibu yang baik bagi anak tirimu deh sebab jika gadis gila itu beranjak dewasa, dia tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibunya. Kamu cuma dijadikan tameng untuk membela si Gila itu dari kejahatan orang-orang."
Meluap sudah emosi dalam diri Clarissa. "Siapa yang kamu panggil gila, heh?" desis wanita itu langsung melotot begitu Karin menyebut anak tirinya dengan sebutan 'gila'. "Kuperingatkan untuk terakhir kalinya, jangan pernah menghina anakku! Atau kalau tidak, aku robek mulutmu itu hingga tak dapat berbicara lagi!"
Dalam sekejap, Clarissa telah berubah menjadi macan betina yang siap menerkam mangsanya. Wajah wanita itu merah padam disertai deru napas yang memburu. Sumpah demi apa pun, ingin rasanya ia berhambur menghampiri Karin saat ini juga lalu mendaratkan sebuah tamparan keras di wajah wanita di seberangnya. Akan tetapi, mereka terpisah oleh penghalang terbuat dari kaca sehingga sang sekretaris tak bisa melakukan apa pun terhadap Karin.
"Merobek mulutku?" Karin tertawa terbahak hingga suara wanita itu nyaring, menggema memenuhi penjuru ruangan. "Jangan mimpi! Kamu tidak mungkin melakukan itu kepadaku." Memandang sinis seraya melipat kedua tangan di depan dada.
Sialan! Ternyata dia hanya ingin memancing emosiku saja. Dan bodohnya lagi aku terpancing begitu saja, batin Clarissa saat menyadari seringai mengejek terpancar di wajahnya yang jahat.
Akan tetapi, bukan Clarissa Dianti Jenia namanya kalau tidak bisa membalikan keadaan. Menyilangkan kaki kanan ke kaki sebelah kiri, kemudian menopang dagu dengan kedua tangan. "Memang benar aku tidak dapat melakukan apa yang kuucapkan barusan. Namun, aku bisa memastikan kalau dirimu akan mendekam selamanya di balik jeruji besi ini hingga kamu mati menyusul kekasih berengsekmu yang bernama Soni," desis istri ketiga Sean tersenyum sinis.
__ADS_1
Mendengar Clarissa menyebut nama Soni--kekasih sekaligus suami pertama Clarissa yang telah meninggal dunia akibat kecelakaan, senyuman mengejek Karin terhenti. Ia terkejut karena wanita di seberang sana tak menduga akan mengetahui masa lalunya yang kelam.
"Kenapa? Kaget ya kok aku bisa tahu nama kekasihmu yang bodoh dan berengsek itu?" Kali ini gantian Clarissa yang tersenyum mengejek. "Aku bukan hanya tahu nama kekasih pertamamu, Karin, tapi aku juga tahu apa yang telah kamu perbuat terhadap Papa-nya Jeni dan gadis culun itu."
"Sialan! Dari mana kamu tahu tentang masa laluku? Siapa kamu sebenarnya?" Karin beranjak dari kursi sambil menggebrak meja. Suasana yang semula hening berubah mencekam.
"Kamu ingin tahu siapa aku, hem?" tanya Clarissa. Tubuh wanita itu sedikit membungkuk, kemudian mencondongkan wajah ke depan hingga tepat mengenai penyekat terbuat dari kaca. "Aku adalah ... Jenia--si gadis cupu yang mirip Betty La Fea."
Karin terbelalak kala mendengar jawaban Clarissa. "T-tidak mungkin. Gadis itu sudah mati. Dia ... tidak mungkin hidup lagi," katanya tergagap.
"Namun, sayangnya, gadis culun itu selamat dan kini dia datang untuk membalaskan dendam atas semua kejahatan yang pernah kamu perbuat terhadap ayah dan bayi dalam kandungannya." Clarissa kembali terduduk di kursi dan melipatkan kedua tangan ke dada. Sudut bibir wanita itu tertarik ke atas, tersenyum smirk seakan mengejek kebodohan Karin.
"Bohong! Kamu pasti bercanda! Jeni sudah mati, mana mungkin hidup kembali!" pekik Karin histeris. Masih belum percaya atas ucapan Clarissa.
Tubuh Karin terkulai lemas di kursi. Degup jantung wanita itu seketika memompa lebih cepat dari biasanya. Bagaimana mungkin ia lupa akan kalung itu. Sebuah kalung yang pernah kekasihnya berikan kepada Clarissa sebagai mahar pernikahan. Ia sendiri yang memilihkan kalung tersebut karena Soni tidak tahu selera Jenia alias Clarissa.
"Ini tidak mungkin. K-kamu sudah mati, Jeni," ucap Karin lirih.
"Memang seharusnya aku sudah mati saat kamu mendorongku ke sungai. Tapi rupanya Tuhan masih berbelas kasih hingga mengirimkan seseorang untuk menolongku. Meskipun wajah serta tubuhku terluka tetapi aku bangkit demi membalaskan dendamku kepadamu, Karin. Kini, setelah aku kembali, jangan harap kamu bisa hidup tenang!"
"Jadi ... semua yang kamu lakukan selama ini adalah salah satu caramu membalas dendam kepadaku, begitu?" Bola mata Karin memicing tajam.
Clarissa menjentikkan jemari tangan sambil mengedipkan sebelah mata. Bersikap centil di hadapan Karin. "Benar sekali! Rencanaku memikat Sean, mendepakmu dari keluarga Anderson, merebut perhatian Tuan dan Nyonya Anderson merupakan salah satu dari rencanaku untuk balas dendam. Dan lihatlah, semuanya berhasil. Aku merebut kembali apa yang pernah kamu rampas dariku, Karin."
"Kamu dengan tega berselingkuh dengan suamiku, sedangkan saat itu statusmu menjadi calon ibu tiriku. Merekayasa kematian Papa, seolah-olah Papa meninggal karena serangan jantung. Tapi ternyata, kamulah yang telah membunuh Papaku. Jahat kamu, Karin!" skak Clarissa hingga Karin bungkam seketika.
__ADS_1
"Lalu, setelah kepergian Papa, kamu berniat menyingkirkanku agar seluruh harta kekayaan mendiang orang tuaku jatuh ke tanganmu dan si Berengsek itu. Dasar wanita iblis! Tak berperasaan!" hardik Clarissa dengan emosi berapi-api. "Namun, usahamu tidak berjalan mulus sebab Tuhan langsung merampas semua yang kamu rebut secara paksa dariku."
"Kekasihmu tercinta tewas. Rumah peninggalan Papa beserta surat-surat berharga ikut terbakar. Perkebunan yang selama ini Papa kelola dengan susah payah pun habis terkena hama. Lalu, Om dan Tante serta sepupumu itu pun meninggal akibat kebakaran. Ck ... ck ... benar-benar tragis," sambung Clarissa.
"Semua orang yang telah menyakiti Papaku telah menerima balasannya. Tuhan memberikan karma secara tunai kepada mereka. Dan kini saatnya kamu menerima balasan atas perbuatanmu di masa lalu." Clarissa bangkit dari kursi, membenarkan dress-nya yang sedikit berantakan. "Selamat menikmati sisa hidupmu di penjara. Sampaikan salamku kepada Soni, Karmila serta Om dan Tantemu di neraka."
Clarissa melangkah keluar bersama seorang polisi wanita. Tubuh semampai yang mulai terlihat sedikit berisi berlenggak lenggok bagaikan seorang peragawati di atas run away. "Terima kasih karena sudah diperbolehkan membesuk Karin, Bu Polisi." Sikap sang sekretaris langsung berubah seratus delapan puluh derajat saat bercakap dengan polisi wanita.
"Jangan sungkan, Nyonya Jeni. Ini sudah menjadi tugas saya dalam membantu Anda," jawab polisi wanita ramah.
Setelah berbincang sebentar dengan polisi wanita berseragam navy, Clarissa mengayunkan kaki menuju parkiran mobil. Akan tetapi, saat ia melihat sebuah tempat sampah berada di dekat tiang bendera, ia menghentikan langkahnya.
"Sudah saatnya aku memulai hidup baru dan mengubur semua kenangan buruk di masa lalu." Clarissa mencopot kalung pemberian Soni, lalu membuangnya ke tempat sampah. "Selamat tinggal Mas Soni, dan selamat tinggal masa lalu."
Tangan Clarissa terulur ke depan, kemudian mengusap lembut perutnya dengan sangat lembut. "Mbul, mulai sekarang kita akan melupakan masa lalu dan memulai lembaran baru. Mengisi kisah kita dengan kebahagiaan."
.
.
.
Note : Karya ini akan tamat dalam beberapa bab lagi. Jadi, bagi yang masih nahan bisa dikebut mulai dari sekarang. 😊
Jangan lupa like dan komentarnya ya, Kak. Terima kasih. ❤
__ADS_1