Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Suamiku Lebih Tampan dari Siapa pun!


__ADS_3

Tepat pukul satu siang, Clarissa dikawal dua orang pengawal pribadi melangkah menuju sebuah café yang lokasinya tidak begitu jauh dari mansion keluarga Anderson. Meminta izin kepada Sean pergi ke super market untuk membeli susu hamil serta camilan sehat di kala perut terasa lapar saat malam hari dia meminta sopir mengantarkannya menemui Jack--sahabat sekaligus orang kepercayaannya.


"Kalian berdua cukup tunggu di sini! Biar aku masuk sendirian ke dalam," titah Clarissa saat mereka telah tiba di Café Senja.


"Maaf, Nyonya. Tapi, kami diperintahkan Tuan David untuk mengawal Nyonya ke mana pun Anda pergi. Jadi, kami tidak dapat menuruti perintah Anda," jawab salah seorang pengawal wanita bernama Lori.


Clarissa menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Kembali teringat akan perkataan David saat pria berambut keperakan memperkenalkan empat orang pengawal pribadi kepadanya. Papa mertuanya secara khusus meminta Antonio mencarikan pengawal yang kelak dapat menjaga keselamatan Clarissa dan calon janin dalam kandungan.


"Baiklah, kalian berdua boleh ikut denganku. Tapi ingat, apa pun yang kalian dengar dan kalian lihat, jangan pernah membocorkannya kepada siapa pun termasuk Tuan Besar Anderson! Mengerti?" kata Clarissa kepada Lori dan Ruli, dua orang pengawal pribadi yang hari itu mendapat tugas mengawal nyonya muda Anderson pergi keluar.


Dua pengawal menganggukan kepala. "Mengerti, Nyonya. Anda tenang saja, rahasia Nyonya dijamin terjaga," jawab mereka hampir bersamaan.


Melangkah bersama dua orang pengawal berpakaian serba hitam, Clarissa mengayunkan kaki jenjang yang dibungkus celana jeans panjang warna putih dipadu dengan blouse tosca tanpa lengan. Kacamata hitam sengaja dia kenakan untuk menyembunyikan wajah dari pandangan aneh para pengunjung café.


"Selamat siang, Nona Clarissa. Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Jack seraya mengulurkan tangan ke depan.


Di saat bersamaan, Lori dan Ruli melangkah maju ke depan berniat menghentikan sikap Jack yang begitu lancang mengulurkan tangan kepada menantu baru keluarga Anderson. Akan tetapi, langkah mereka harus terhenti kala melihat telapak tangan Clarissa terangkat ke udara.


"Pria ini adalah orang kepercayaanku. Jadi, kalian tidak perlu melakukan apa pun kepadanya. Kalian cukup berdiri di sampingku lalu menutup mulut, mata dan telinga dengan rapat!" Tanpa membantah, kedua pengawal itu terdiam.

__ADS_1


Lantas, Clarissa menerima uluran tangan Jack. "Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja," ucapnya ramah. Seulas senyum dia berikan kepada sosok pria berhati baik yang pernah menolongnya dari kecelakaan lima tahun lalu.


Jack melirik ke arah Lori dan Ruli secara bergantian. Pandangan mata kembali menatap kepada Clarissa. "Wow, tampaknya sekarang kehidupan Nona Clarissa jauh lebih baik dari sebelumnya hingga menyewa dua bodyguard untuk mengawal Anda ke mana-mana," kekeh pria itu setengah berkelakar.


Clarissa mencibir dan memutar bola mata. "Aku terpaksa melakukannya demi keselamatan janin dalam kandunganku. Jika tidak maka kesempatan ini bisa dimanfaatkan orang lain untuk mencelakai calon bayiku."


"Kamu tahu sendiri, bagaimana anarkisnya warga +62 saat mereka tahu bahwa ada orang ketiga hadir dan merusak rumah tangga wanita lain. Mereka pasti melakukan hal konyol demi melampiaskan kemarahannya tanpa pernah berpikir apakah orang itu salah atau tidak. Maka dari itu, aku menyetujui usulan Tuan David, menggunakan jasa para pengawal demi menjaga keselamatanku saat berada di luar mansion," sambung Clarissa.


"Ya .... Ya .... Ya .... Aku bisa memaklumi kenapa Tuan David melakukan itu semua," ujar Jack tersenyum penuh makna kepada majikan sekaligus sahabatnya.


Clarissa menyesap matcha hangat yang dipesankan oleh Jack sebelumnya. "Oh ya, apakah kamu membawa barang yang kuminta?" tanyanya langsung kepada inti permasalahan. Tidak bisa membuang waktu terlalu lama sebab Sean hanya memberikan batas waktu dua jam kepadanya hingga dia kembali ke mansion.


Clarissa memasukan tangan ke dalam amplop dan menemukan lembaran foto yang tak terhitung berapa jumlahnya. Jemari tangan wanita itu mengeluarkan lembaran tersebut. Dia beber di atas meja. Senyum menyeringai kala melihat begitu banyaknya foto Karin tengah bersama kekasih gelapnya. Namun, wajah si lelaki tampak tidak jelas.


"Aku tak menduga akan sebanyak ini. Kupikir hanya lima atau sepuluh lembar saja yang berhasil kamu ambil." Tatapan mata Clarissa terus tertuju pada lembaran foto di atas meja.


Jack terkekeh pelan. Tangan pria itu terulur ke depan, meraih cangkir isi kopi hangat kesukaannya. "Awalnya begitu. Namun, melihat congkak dan angkuhnya wanita itu, aku berpikir akan lebih baik lagi kalau memberikan semua koleksi foto yang kudapat selama menjalankan tugas. Semua foto ini bisa dijadikan bukti kuat untuk menyerang Karin kalau dia menyangkal semua tuduhan yang Nona tujukan kepadanya."


Clarissa tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih. "Aku suka cara kerjamu, Jack. Sejak dulu hingga sekarang, kamu tidak pernah mengecewakanku."

__ADS_1


Tangan kanan Jack meletakkan cangkir ke atas meja. Pandangan mata menatap tajam ke arah wanita di depannya. "Bagaimana mungkin saya mengecewakan Nona bila Anda begitu baik kepada saya dan ibu. Saya orang susah, tak mempunyai apa-apa. Hanya bisa membalas semua kebaikan Nona dengan cara ini. Maka dari itu, saya ingin memberikan yang terbaik untuk membantu Anda terbebas dari masalah ini."


"Semua kebaikan yang aku beri tidak sebanding dengan apa yang kamu dan ibumu lakukan kepadaku dulu. Seandainya dulu kalian tidak menolongku mungkin saat ini aku sudah menyusul kedua orang tuaku." Bola mata Clarissa mulai berkaca-kaca kala mengingat kejadian di masa lampau saat dia baru saja terbebas dari cengkraman Karin. Beruntungnya ada Jack dan ibu kandung sang sahabat yang menolongnya hingga wanita itu dapat melanjutkan hidup demi membalas dendam kepada Karin.


"Sudahlah, Nona. Jangan diingat lagi. Semua telah berlalu. Terpenting saat ini, Nona melanjutkan kembali misi yang telah Anda susun," nasihat Jack, mencoba menenangkan Clarissa yang nyaris terisak akibat teringat kejadian di masa lalu.


Clarissa melanjutkan kembali kegiatannya, melihat hasil jepretan Jack yang tampak begitu indah. Akan tetapi, kegiatan wanita itu harus terhenti kala menemukan satu foto Karin tengah berciuman bibir dengan seorang pria yang terlihat begitu familiran baginya.


Membawa foto tersebut ke hadapannya. Mata memicing, otak berusaha keras mengingat siapa gerangan pria yang bersama dengan Karin. "Jack, pria ini ... bukankah dia adalah ... Mister White?"


Jack mengalihkan perhatiannya dari pemandangan indah di luar ruangan kepada Clarissa. "Benar, Nona. Pria itu adalah Mister White, kekasih gelap Nyonya Karin. Dari banyaknya foto hanya itu saja yang berhasil menampilkan jelas wajah selingkuhan si Iblis Betina. Wajah pria itu memang tampan jadi wajar kalau mantan istri Tuan Sean bersedia menjadi selingkuhannya."


Tampak Clarissa mengangguk-anggukan kepala. Kini dia mengerti kenapa mister White mendekatinya. "Pria ini memang tampan, tapi suamiku lebih tampan dari pria manapun di dunia ini, Jack," ucapnya penuh rasa bangga.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2