
Satu bulan t'lah berlalu. Rumah tangga antara Clarissa dan Sean semakin harmonis. Sepasang suami istri itu berkomitmen menjaga keharmonisan rumah tangga meski keduanya sibuk bekerja. Jadi jangan heran bila saat jam istirahat tiba keduanya akan terlihat berjalan beriringan menuju restoran ataupun kantin kantor untuk makan siang bersama.
Xena, semenjak tahu kalau Clarissa kini merupakan ibu tirinya, ia selalu datang ke kantor sepulang sekolah. Saat akhir pekan pun ia pasti main ke rumah yang diberikan sang daddy untuk mommy tercinta. Seperti sekarang ini, gadis cantik bermata hazel tengah dalam perjalanan menuju kantor milik kakeknya.
"Aku akan memberikan gambar ini kepada Mommy Clarissa saat tiba di kantor Daddy," ucap Xena seraya menunjukan buku gambar miliknya kepada Imelda.
Di dalam buku tersebut, terdapat dua orang wanita muda sedang duduk bersama di sebuah bangku taman. Gadis kecil berambut panjang duduk di antara dua wanita tersebut. Seulas senyum mengembang di sudut bibir mereka.
"Saya yakin, Nyonya Clarissa pasti senang melihat hasil karya Nona Xena," sahut Imelda dengan senyuman terlukis di wajah.
Imelda ikut bahagia atas pernikahan ketiga Sean dan Clarissa. Impian gadis kecil yang selama hampir lima tahun diasuh olehnya akhirnya terkabul. Meyakini dalam hati kalau Clarissa adalah wanita berhati malaikat yang memang sengaja diutus oleh Tuhan untuk memberikan kebahagiaan di hati Xena dan Sean. Terbukti, semenjak kehadiran wanita itu dalam kehidupan tuan muda Anderson dan nona kecil Anderson, senyuman terus mengembang di sudut bibir. Tak terlihat lagi awan kelabu, yang ada hanya sinar kebahagiaan terlukis di wajah.
Sementara itu, Sean sedang sibuk memberikan penjelasan kepada klien yang berencana bekerjasama dengan perusahaan, membangun sebuah rumah sakit di wilayah timur Indonesia. Begitu pun dengan Clarissa. Jemari tangan wanita itu menari indah di atas keyboard sambil sesekali memperhatikan sang suami yang sedang memberikan paparan di hadapan empat orang klien.
Di saat sedang sibuk, ia merasa ribuan tangan tak kasat mata tengah bekerjasama mengaduk-aduk isi perut wanita itu hingga membuat sang sekretaris menghentikan sejenak kegiatannya. Perut terasa mual, seakan ada sesuatu yang mendorong wanita itu untuk memuntahkan isi perutnya.
Kenapa perutku terasa mual sekali, tidak biasanya seperti ini. Apa mungkin asam lambungku naik ya? batin Clarissa dalam hati. Telapak tangan menutup bibir, menahan agar tidak ada sesuatu yang keluar dari dalam perut.
Ibrahim yang kebetulan sedang menoleh ke arah Clarissa menjadi khawatir kala melihat wajah sang nyonya muda berubah pucat. Menarik kursi ke samping hingga terdengar bunyi benda bergeser. "Nyonya, apakah Anda baik-baik saja? Saya perhatikan tampaknya Anda sedang tidak sehat. Mau saya antar ke klinik?" bisiknya tepat di telinga Clarissa.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, Tuan Ibrahim. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," jawab Clarissa sambil memaksakan diri tersenyum. Sejujurnya, ia ingin sekali meninggalkan ruang rapat menuju kamar khusus yang biasa ia gunakan untuk bercinta bersama suami. Merebahkan tubuh yang terasa lelah meski sedari tadi hanya duduk manis di atas kursi. Namun, ia bukanlah wanita lemah sehingga angan-angannya memang hanya sebatas angan belaka dan tidak ada niatan untuk direalisasikan.
Tepat pukul dua belas siang, akhirnya rapat dengan klien selesai. Keempat orang klien itu cukup puas dengan penjelasan yang disampaikan oleh Sean, maka kesepakatan kerjasama terjalin di antara dua perusahaan.
"Saya harap kita dapat bekerjasama dengan baik, Tuan Sean. Semoga kerjasama ini terus terjalin meski proyek yang sedang direncanakan telah teralisasikan." Salah seorang klien berambut keperakan menjabat tangan Sean.
Sean menerima uluran tangan pria paruh baya itu. Saya pun berharap demikian, Tuan."
Lantas, pria berambut keperakan mengalihkan pandangan ke arah Clarissa yang berdiri di samping Sean. "Presentasi Tuan Sean cukup memukau. Saya yakin di dalamnya pasti ada campur tangan Nona Clarissa, benar 'kan tebakan saya?"
Clarissa terkekeh pelan dan menjawab, "Anda terlalu memuji saya, Tuan. Power point yang ditampilkan di depan memang dibuat oleh saya. Namun, itu semua tidak ada arti apa-apa bila seseorang yang memberikan penjelasan tak mempunyai skill tingkat dewa seperti Tuan Sean. Butuh kemampuan serta pemahaman tinggi hingga orang tersebut mengerti atas apa yang saya tulis."
Clarissa tersenyum manis ketika mendengar pujian yang diberikan kepadanya. Tidak mau besar kepala bila ada seseorang yang memuji dirinya.
Sorot mata penuh mendamba disertai senyuman yang terus terukir di sudut bibir membuat Sean mengepalkan telapak tangan hingga memperlihatkan otot halus menonjol di punggung tangan. Sedikit kesal karena ada seseorang yang secara terang-terangan memuji kemampuan sekretaris sekaligus istri sirinya. Dada kembang kempis disertai deru napas yang memburu.
Gawat, tampaknya akan ada banteng yang mengamuk di ruangan ini bila aku tidak secepatnya ke sana, batin Ibrahim. Melihat gelagat tidak wajar bersumber dari sang bos, ia sangat yakin bahwa saat ini Sean sedang cemburu karena ada seseorang yang memuji istri tercinta di hadapannya.
Tak mau membuang waktu terlalu lama, Ibrahim bangun dan melangkah cepat mendekati sekelompok orang tersebut. "Permisi, Tuan Sean, baru saja saya mendapatkan pesan dari Tuan Antonio, mengatakan bahwa saat ini Anda sudah ditunggu di ruangan." Sengaja berbohong demi kebaikan semua orang. Tidak tahu apa yang akan terjadi kalau sampai Sean emosi dan melampiaskan kekesalannya. Mungkin bisa saja rencana kerjasama ini berakhir dan reputasi perusahaan hancur hanya karena cemburu buta.
__ADS_1
Sadar bahwa dia harus bergegas meninggalkan kantor Anderson Grup, pria berambut keperakan berkata, "Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Sekali lagi, saya harap kita dapat bekerjasama dengan baik." Kembali menjabat tangan Sean sebelum pergi dari ruangan.
"Tentu, Tuan," jawab Sean singkat. Tak ada senyuman ramah di wajah. Yang ada hanya wajah datar tanpa ekspresi.
Setelah kepergian keempat klien itu, Sean menatap tajam ke arah Clarissa yang masih tersenyum melepas kepergian sang klien. "Jangan memberikan senyuman manismu kepada pria lain! Aku tidak suka melihatnya!" Pria itu mendesis pelan. Rasa kesal bercambur cemburu masih menguasai diri pria berdarah campuran Amerika.
Clarissa melirik ke arah Sean. Meletakkan tas kecil berisi laptop di atas meja. Kemudian ia mengalungkan tangan di pundak sang suami. "Walaupun aku tersenyum kepada seluruh pria di muka bumi ini, tetapi hati dan cintaku cuma untuk kamu seorang, Sayang. Cuma kamu yang aku cintai di dunia ini. Jadi, please, jangan marah lagi ya?" Membujuk pria di hadapannya agar tak marah lagi.
Sean berdecak kesal. "Ck! Tetap saja aku tidak menyukainya. Terlebih saat pria tua bangka itu memandangimu dengan tatapan mendamba. Rasanya ingin kuhajar saja wajahnya yang jelek itu!"
Tawa Clarissa pecah saat itu juga. Saking kencangnya, rasanya ia ingin pergi ke toilet. "Astaga, Sayang. Masa sih kamu cemburu kepada pria itu." Kini, jemari tangan Clarissa mengusap kedua rahang Sean dengan lembut. "Kalau kamu memang tidak suka maka di kemudian hari kejadian ini tak kan terulang kembali. Bagaimana, kamu sudah tak marah lagi 'kan?"
Sean menyodorkan pipi sebelah kanan dan berkata, "Berikan aku satu ciuman di sini maka aku tidak akan marah lagi." Merajuk seperti anak kecil yang minta dibelikan es krim oleh mama-nya.
Tanpa banyak berkata, Clarissa menuruti keinginan Sean.
.
.
__ADS_1
.