Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Di dalam kamar presidential suite, seorang pria dan wanita dewasa masih bergelung di bawah selimut tebal. Entah sudah berapa kali Sean menyemburkan lava panas ke dalam rahim Clarissa hingga membuat mereka terbang menuju puncak kenikmatan tak berujung. Namun, satu hal yang pasti ketika sang CEO telah benar-benar menuntaskan hasrat membara dalam diri, pria itu tak lagi mempunyai tenaga walau hanya sekadar menggeser tombol hijau maupun merah saat ada panggilan telepon masuk.


Dua insan manusia itu terlalu lelah sampai tidak mengetahui kericuhan yang terjadi di ballroom hotel, tempat diselenggarakannya pesta anniversary tuan dan nyonya besar Anderson. Beruntungnya Ibrahim dapat mengendalikan permasalahan yang terjadi tadi malam sehingga Sean dapat terus memadu kasih bersama Clarissa.


Flash back on


Usai berbincang dengan teman sekolah Anita, Karin bergegas meninggalkan ballroom hotel menuju rest room. Ketika hendak berbelok menuju lorong menuju toilet, ia berpapasan dengan Ibrahim--asisten pribadi Sean di depan pintu lift.


"Ibrahim, sedang apa kamu di sini? Lalu, di mana Sean?" cecar Karin dengan berbagai pertanyaan. Alis mengerut, mata memicing mencoba mengintrogasi sosok pria di hadapannya.


Diberondong berbagai pertanyaan oleh istri bos-nya membuat Ibrahim gugup. Wajah pria itu berubah seketika. Bola mata bergerak tidak fokus pada satu titik, butiran peluh sebesar biji jagung mulai muncul ke permukaan kulit.


"Hei, kenapa diam saja! Jawab pertanyaanku!" sembur Karin, sedikit jengkel karena pria itu tak kunjung menjawab pertanyaan yang dilontarkan olehnya.


Ibrahim menundukan kepala ke bawah, tidak berani menatap wajah Karin yang terkesan begitu menakutkan. Akan tetapi, ketika ia menatap bayangan diri di lantai, tersadar akan tanggung jawab yang diberikan oleh Sean kepadanya. Lantas, ia mengumpulkan keberanian dalam dada. Mendongakan kepala secara perlahan, kemudian tersenyum seramah mungkin menutupi persingkuhan yang melibatkan bos dan rekan kerjanya.


Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Tuan Sean berada di kamarnya, Nyonya. Beliau mengatakan ingin istirahat dan minta tak diganggu oleh siapa pun termasuk ... Anda."


Karin melotot mendengar kalau dirinya tak boleh menemui Sean, padahal status di antara mereka adalah suami istri. "Dasar asisten kurang ajar! Berani-beraninya melarangku menemui Sean. Kamu tidak tahu siapa aku? Aku ini adalah Karin, istri sah dari Bosmu!" sembur wanita itu berapi-api.


"Hanya orang rendahan, sok-sokan mencegahku menemui Sean. Kamu tidak takut dipecat, iya?" sambungnya sambil menunjukan ekspresi marah. Terlihat jelas kilatan emosi terpancar dari sorot mata wanita itu. Ia berkacak pinggang, kemudian kembali berucap, "Aku akan meminta Sean memecatmu setelah bertemu dengannya."


Tanpa menunggu jawaban dari Ibrahim, Karin hendak melangkah meninggalkan tempatnya, tetapi lengan wanita itu dicekal oleh tangan kekar seorang pria di belakangnya.


"Jangan melanggar perintah dari Tuan Sean, Nyonya, bila tidak mau terjadi masalah di kemudian hari." Kalimat penuh penegasan meluncur di bibir Ibrahim. Rahang pria itu mengeras, dada kembang kempis dan wajah memerah. Sebelah tangan mengepal sempurna, mencoba mengendalikan diri agar tak melampaui batas kesabarannya.

__ADS_1


Sebagai pekerja biasa, tentu saja Ibrahim sadar kalau dirinya tak mempunyai hak apa pun untuk mencegah Karin menemui Sean. Hanya lulusan SMK, terlahir dari keluarga tidak mampu, namun apakah orang lain boleh sesuka hati menghina dia sedangkan mereka tak tahu bagaimana perjuangan asisten pribadi Sean untuk bisa hidup di tengah perekonomian yang sulit.


Langkah kaki terhenti kala tangan seseorang menyentuh permukaan kulitnya. Menoleh ke belakang, lalu menghunuskan tatapan tajam kepada Ibrahim. "Dasar berengsek! Berani sekali kamu menyentuh tubuhku! Lepaskan!" Karin berusaha melepaskan tangan pria itu. Namun, Ibrahim semakin mengeratkan cengkramannya. "Asisten miskin! Pegawai rendahan, lepaskan tanganmu dari tubuhku!"


Maka, terjadilah perselisihan antara Ibrahim dan Karin. Beruntungnya malam itu David memergoki menantu serta lelaki yang dipercayainya mengurusi segala keperluan sang anak selama berada di kantor sehingga istri kedua Sean tak berani menemui sang suami di kamar.


Flash back off


Suara kicauan burung saling bersahutan. Sinar rembulan pun telah berganti menjadi sinar matahari yang masih setia menyinari seluruh alam semesta. Cahaya mentari menelusup melalui celah vitrase yang tertutup rapat.


Perlahan, Sean membuka kedua matanya. Sebelah tangan menyapu sisi kanan pria itu, mencari keberadaan wanita yang tadi malam telah menolongnya terbebas dari obat sialan. Kosong, itulah yang ia rasakan. Tidak ada siapa pun di sebelahnya.


Sean bangkit dari pembaringan, lalu duduk di sandaran ranjang. Ingatan pria itu tergali akan kejadian tadi malam. Kamar itu menjadi saksi bisu betapa liar dan ganasnya Sean tadi malam hingga keadaan sekitar bagaikan kapal pecah. Helai pakaian berserakan di mana-mana, sprei berantakan, serta tubuh dipenuhi jejak cinta berasal dari Clarissa membuat ia tersenyum samar sambil membayangkan dirinya dan sang sekretaris bahu membahu menuju puncak kenikmatan dunia.


Pintu kamar mandi terbuka, semerbak harum aroma mawar menguar ke udara, menggelitik indera penciuman sang CEO. Rupanya Clarissa baru saja selesai membersihkan diri dari sisa percintaan tadi malam.


"Selamat pagi, Tuan Sean." Tersenyum ramah seperti biasa, seakan tak terjadi apa pun di antara mereka tadi malam. "Apakah tadi malam Anda bermimpi indah?" Melangkah anggun seraya memunguti helai pakaian yang berserakan di lantai.


"Tentu saja. Tadi malam aku bermimpi sangat indah," ucap Sean sambil melingkarkan tangan di pinggang Clarissa. Meletakkan ujung dagu di pundak wanita itu. "Semalam aku bermimpi, kamu, aku, Xena serta anak kita bermain bersama di tepi pantai sambil menikmati terbenamnya matahari. Begitu indah sekali, Cla."


Menghirup aroma wangi, kemudian mencium ceruk leher Clarissa. Walaupun banyak tanda kepemilikan di sana, ia tetap memberikannya lagi. Ingin menunjukan bahwa saat ini wanita itu hanya miliknya seorang.


Clarissa tidak tinggal diam, dia menyambut sentuhan itu dengan suka rela. Membelai rambut pirang kecoklatan milik Sean sambil menikmati hangatnya bibir pria itu saat menyentuh permukaan kulit.


"Pasti indah sekali, Tuan. Membayangkannya saja sudah membuat saya bahagia, apalagi jika itu semua menjadi kenyataan. Anda, saya, Nona Xena dan ... anak kita hidup bahagia selamanya." Clarissa menjeda kalimatnya. Ia menarik napas dalam kemudian mengembuskan secara perlahan. "Namun, bagaimana mungkin itu terjadi sedangkan status Anda sudah beristri."

__ADS_1


Sean mengurai pelukan, membalikan badan Clarissa hingga kini posisi kedua orang itu saling berhadapan. Ia ulurkan tangan ke depan, menangkup wajah sekretarisnya. "Segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang mustahil, Cla. Walaupun aku telah menikah dengan Karin, bukan berarti kita tak bisa bersama."


Clarissa menatap mata hazel Sean. Ketika iris coklat bersitatap dengan pemilik mata indah, degup jantung wanita itu memompa lebih kencang dari biasanya. Tubuh meremang setiap kali merasakan sentuhan lembut dari pria itu.


"M-maksud, Tuan, apa? Bersama bagaimana, Tuan? S-saya ... tidak mengerti maksud Anda." Suara terbata dengan bibir gemetar hebat. Entahlah, kenapa tubuh Clarissa bisa bereaksi seperti itu. Padahal ia hanya berniat balas dendam dengan cara merebut suami Karin agar lebih leluasa mendepak wanita iblis itu tetapi malah menunjukan tanda seakan wanita itu jatuh cinta betulan kepada Sean. Aneh, benar-benar aneh sekali.


Kedua sudut bibir Sean tertarik ke atas hingga memperlihatkan deretan gigi putih dan rapi. Tanpa diduga, pria itu menyapukan hidung miliknya ke hidung Clarissa. "Aku akan menceraikan Karin, tetapi tidak semudah membalikan telapak tangan. Oleh karena itu, sambil mencari celah dapat bercerai dari dia, kita menikah secara siri dulu agar kelak saat kamu hamil, bayi dalam kandunganmu tidak disebut anak haram."


"Kamu tenang saja, meskipun hanya siri, aku tetap memberikan nafkah lahir batin kepadamu. Keselamatan, kesejahteraan kamu dan calon anak kita terjamin. Bila aku sudah bercerai dari Karin, secepatnya kita legalkan pernikahan di kantor catatan sipil. Bagaimana?" sambung Sean.


"Sungguh? Tuan tidak sedang bergurau, 'kan?" tanya Clarissa dengan mata berbinar bahagia. Tak menduga kalau Sean menjanjikan sesuatu tanpa ia minta terlebih dulu. Kalau begini, maka jalannya semakin terbuka lebar.


"Sungguh. Kalau kamu tidak percaya, saya akan membuat pernyataan di atas materai dan di hadiri oleh pengacaraku," jawab Sean mantap.


Senyum merekah bagai kuncup bunga yang bermekaran, terlihat indah dan menyegarkan mata. "Baiklah, saya percaya kepada Anda. Terima kasih, Tuan."


Sean membawa tubuh Clarissa dalam pelukan, memeluk erat wanita itu seakan tak ingin dia pergi begitu saja. "Besok malam kita langsungkan pernikahan di kediamanmu. Ibrahim akan mengurus semuanya." Mencium puncak kepala sang sekretaris dengan penuh cinta. "Mulai hari ini, gunakan bahasa non formal saat bersamaku, Cla. Kamu adalah calon istriku. Mengerti?"


"Mengerti, Tuan. Eh ... maksudku, Sean."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2