Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Everthing Is Gonna Be Okay!


__ADS_3

Begitu pun dengan wanita yang berdiri di belakang Clarissa. Walaupun posisi istri muda Sean membelakanginya tetapi sebuah cermin besar di depan sana membuat dia bisa melihat pantulan diri masing-masing.


Wanita itu tersenyum sinis sambil berkata, "Tak disangka ternyata bisa bertemu denganmu di sini. Dunia ini benar-benar sempit rupanya."


Clarissa menghela napas panjang karena tak menduga akan bertemu istri kedua sang suami. Jujur, sebenarnya ia enggan sekali bertemu dengan orang bermuka dua dan berhati iblis seperti Karin. Namun, rupanya Tuhan mempunyai kehendak lain dan malah mempertemukan dia dengan istri kedua Sean.


Sekretaris sekaligus istri siri Sean membalikan badan sehingga posisi dia dan Karin saling berhadapan. "Benar, memang tidak disangka kita bisa bertemu di sini, Nyonya. Padahal, pusat perbelanjaan di kota ini banyak tetapi kenapa kita dipertemukan di tempat yang sama. Mungkinkah kita berdua berjodoh?" Mencoba bersikap ramah walau otaknya memperintahkan Clarissa pergi dari tempat itu segera. Ia sedang tidak mood meladeni Karin dan beramah tamah dengan wanita itu.


Karin memandang wajah Clarissa yang dipoles make up flawless, tidak terlalu menor tetapi sukses membuatnya merasa iri. Aura kecantikan terpancar dari dalam diri sehingga netra seakan tengah memandangi sosok bidadari yang jatuh dari Khayangan. Akan tetapi, ia segera menepis rasa kagum akan sosok wanita di depannya. Kembali meyakinkan diri bahwa dialah yang paling cantik di muka bumi ini.


Lantas, Karin memandang ke sekeliling mencoba mengalihkan perhatia sesaat sebelum akhirnya kembali berbicara. "Berjodoh?" Ia tertawa dibuat-buat. "Sekalipun aku dilahirkan menjadi seorang lelaki, selamanya tidak mungkin jatuh cinta kepada wanita penggoda sepertimu. Sekretaris yang hanya jual tampang demi mendapatkan kehidupan lebih layak. Benar-benar menjijikan!"


Alih-alih merasa tersindir, Clarissa tersenyum smirk sambil melipat kedua tangan di depan dada. Menghadapi Karin, ia tidak boleh terlihat lemah seakan mudah ditindas oleh wanita jahat itu. Bila Karin bersikap angkuh maka ia pun harus bersikap yang sama agar tak diperlakukan semena-mena.


"Nyonya bilang, saya menjijikan? Lalu, sebutan apa yang pantas disematkan kepada wanita bersuami tetapi dia malah selingkuh dengan lelaki lain. Bukankah perbuatannya sama-sama menjijikan?" skak Clarissa dengan senyum penuh kemenangan.


Sikap angkuh yang ditunjukan Karin sirna begitu saja ketika mendengar perkataan Clarissa. Tubuh terasa lemas dan tungkai tak mampu menopang berat badan. Nyaris saja terjatuh bisa tidak segera menyentuh dinding di sebelah.


"M-maksudmu, apa? K-kenapa kamu berbicara begitu?" tanya Karin terbata.


Ucapan Karin membuat Clarissa tertawa. Kali ini, dia membalikan posisi yang sebelumnya dikuasai istri kedua sang suami. "Nyonya Karin betulan lupa atau hanya pura-pura lupa? Hati-hati, jangan sampai Tuhan betulan membuat Nyonya amnesia. Kalau sampai amnesia, lalu siapa yang akan menemani Mr. White di atas ranjang? Nyonya bersedia berbagi selimut dengan wanita lain?"

__ADS_1


Tubuh Karin gemetar hebat. Tanpa disadari olehnya, dia mundur ke belakang seiring dengan langkah kaki Clarissa yang semakin maju.


"Kamu jangan sembarangan bicara! Berbagi selimut apa! A-aku tidak pernah selingkuh dengan siapa pun. Aku tipe wanita setia, hanya mencintai satu orang saja." Karin berkilah agar kedoknya tidak terbongkar. Suara lirih nyaris tak terdengar. Bola mata bergerak tak tentu arah, mencoba mencari jawaban dari mana Clarissa mengetahui tentang perselingkuhannya dengan Mr. White selama ini.


"Nyonya memang setia, tetapi kata setia itu mempunya singkatan tersendiri. Yaitu, setiap tikungan ada!" Clarissa menatap Karin tajam seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya.


"Omong kosong! Katakan saja kalau kamu berniat menggantikan posisiku sebagai nyonya muda Anderson hingga tega memfitnahku, iya 'kan?"


"Saya memang berniat merebut posisi itu dari Nyonya, karena Anda sudah terlalu banyak berbuat jahat kepada orang lain. Kini, sudah waktunya kebenaran itu terungkap dan Anda harus bersiap angkat kaki dari kediaman Anderson."


Bola mata Karin memerah, menatap beberapa pengunjung wanita yang kebetulan menoleh ke arahnya. Tangan mengepal di samping tubuh, dada bergerak kembang kempis. Terlebih saat para pengunjung itu mulai berbisik, menggunjingkan mereka. Khawatir kalau sampai kejadian ini berdampak terhadap retupasinya sebagai nyonya muda.


"Dasar wanita tidak tahu malu! Sudah merebut suami orang malah menuduh yang bukan-bukan! Saya yakin, orang tuamu pasti malu mempunyai anak seorang j*l*ng yang cuma modal tampang demi hidup mewah," sindir Karin sambil menghunuskan tatapan penuh kebencian.


Semua orang boleh menghina dirinya, mengatakan apa pun sesuka hati, ia bisa terima. Namun, bila ada orang lain sudah menghina kedua orang tuanya yang telah lama meninggal, ia tidak akan tinggal diam. Tamparan merupakan tindakan paling tepat untuk diberikan Clarissa agar mulut Karin bungkam dan tak lagi menghina papa serta mama-nya.


"Jangan pernah menghina kedua orang tuaku!" bentak Clarissa sambil menatapnya dengan tatapan membunuh. Sikap sang sekretaris membuat ketakutan menjalar ke seluruh tubuh Karin dan beberapa pengunjung lain.


Ini merupakan pertama kalinya Karin melihat sisi gelap dari seorang Clarissa. Ia pikir, sekretaris Sean adalah orang lemah yang mudah ditindas. Namun, dugaannya itu salah setelah tamparan keras melayang di wajahnya yang mulus bahkan menyisakan rasa panas hingga sekarang.


"Nyonya boleh menghina saya sesuka hati, tetapi jangan pernah menghina kedua orang tua saya! Kalau sampai itu terjadi lagi, saya pastikan bibir Anda akan bungkam selamanya!" ancam Clarissa.

__ADS_1


Wajah Karin sudah memucat. Bukan cuma ketakutan tetapi juga rasa malu menjalar ke seluruh tubuh. Seumur hidup, baru kali ini ia dipermalukan oleh seseorang dan itu membuatnya semakin benci kepada Clarissa.


Kebencian itu semakin mendarahdaging kala mendengar seseorang memanggil Clarissa dengan sebutan ....


"Mommy!" panggil gadis kecil berambut panjang dengan mata hazel yang jenih dan bersinar. Ia berada di ambang pintu sambil menatap cengo ke arah Clarissa.


Posisi Karin yang terhalang tubuh Clarissa, membuat Xena tak melihat kalau di depan sana ada seorang wanita yang selama lima tahun menyandang status ibu tirinya.


Baik Clarissa dan Karin sama-sama terkesiap mendengar suara merdu gadis keci berusia lima tahun. Sang sekretaris mundur ke belakang, merapikan penampilannya yang terlihat sedikit berantakan sedangkan istri kedua Sean menoleh ke sumber suara.


Hanya berjarak dua meter, bola mata jernih bisa melihat jelas siapakah gerangan yang menyender di dinding toilet. Refleks, Xena mundur beberapa langkah ke belakang. Wajah gadis kecil itu pucat dan terlihat ketakutan.


Sikap tak wajar itu tertangkap oleh netra Clarissa. Entah kenapa, insting wanita itu mengatakan kalau Karin telah melakukan sesuatu hingga membuat anak tirinya ketakutan setengah mati. Naluri seorang ibu untuk melindungi anaknya muncul secara tiba-tiba.


Lantas, ia membalikan badan dan menatap tajam ke arah Karin. "Saya tidak tahu apa yang membuat Xena begitu ketakutan ketika melihatmu. Namun, saya tak akan tinggal diam kalau sampai terjadi hal buruk menimpa Xena, sebab mulai detik ini anak tirimu itu adalah anakku juga! Jadi, jangan coba-coba melukai ataupun menyakitinya! Camkan itu!"


Tanpa pikir panjang, Clarissa berhambur mendekati Xena. Membungkukan sedikit badan hingga tinggi badan sejajar dengan Xena. "Everthing is gonna be okay! Percaya kepada Mommy, tidak akan ada satu orang pun menyakitimu lagi, Nak."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2