
"Dasar wanita bodoh! Tidak berguna! Bagaimana mungkin kamu bisa diceraikan oleh suamimu!" seru Mister White dengan meninggikan nada suara. Melengking tinggi hingga membuat kaca jendela di kediaman pria itu bergetar hebat.
Karin terkesiap beberapa saat, ketika sebuah tamparan keras mendarat di pipinya yang mulus. Belum hilang tanda kemerahan akibat ditampar oleh Anita, kini sang kekasih memberikan tanda baru di pipinya yang sebelah.
"Aku memintamu menaklukan hati Sean, tetapi kenapa sekarang dirimu pergi dari rumah itu. Lantas, bagaimana dengan rencana kita untuk menyingkirkan mereka semua bila dirimu saja sudah tak lagi menjadi bagian dari keluarga Anderson!" Suara Mister White menggelegar ke segala penjuru. Tidak peduli bila semua mata para pelayan memandang takut ke arahnya. "Jawab aku, Karin!"
"I-itu semua karena kehadiran wanita sialan itu, Sayang. Dia datang dengan membawa semua bukti kejahatanku terhadap Xena selama ini. Aku tak mengerti kenapa wanita jal*ng itu bisa mendapatkan bukti tersebut. Padahal, aku telah mengancam Imelda serta para pelayan tetapi kenapa bisa bocor aku pun tak tahu." Karin menyentuh wajahnya yang terasa panas. Ia tidak menduga kalau sang kekasih tega menyakitinya. Selama menjalin kasih, tidak sekalipun pria itu menampar ataupun menyiksanya. Hanya berkata kasar di saat emosi tidak terkendali. Namun, entah kenapa hari ini pria berdarah Jepang menampar pipinya dengan begitu kencang.
"Jal*ng siapa yang kamu maksud, heh! Memangnya, Sean mempunyai wanita idaman lain setelah kepergian Sabrina?" tanya Mister White sambil menatap penuh selidik.
Karin menganggukan kepala sebagai jawaban. "Benar. Rupanya tanpa diketahui oleh siapa pun, Sean telah menjalin kasih dengan seorang wanita yang tak lain adalah sekretarisnya." Wanita itu menyibakan sebagian rambut yang menutupi sebelah wajah. "Saat aku hendak memberikan pelajaran kepada Jal*ng itu, Sean menghentikan langkahku dan dia berkata bahwa status wanita itu bukan hanya menjadi sekretaris melainkan juga sebagai istri suamiku."
Makin murkalah mister White. Emosi pria itu semakin tidak terkendali. Melempar semua barang dalam jangkauan ke lantai. Suara pecah belah menggema. Para pelayan termasuk Karin hanya bisa diam dan menyaksikan mister White mengamuk.
Hati mister White semakin memanas kala sekelebat kejadian di masa lalu terlintas dalam benaknya. Sosok wanita cantik berwajah khas wanita Asia dengan kulit putih bersih menolak cintanya dan mengatakan bahwa telah ada pria lain yang singgah dan bertahta di hati wanita itu.
Dalam satu gerakan, tubuh mister White telah berdiri di dekat Karin. Pria itu menekan pangkal tenggorokan sang kekasih kuat-kuat. Mata memerah bagaikan seekor banteng, penuh dengan keinginan untuk membunuh.
"Katakan padaku, siapa wanita itu!" ujar Mister White tanpa melepaskan cengkraman tangannya.
__ADS_1
Suara Karin tercekat. Cengkraman tangan pria itu begitu kuat bagaikan batang besi. Ia meronta, kedua tangan mencoba melepaskan cekalan di leher. Namun, usahanya sia-sia. Cekalan tangan itu tidak bisa dilepaskan.
Semua mata terbelalak termasuk Karin. Wanita itu benar-benar tak dapat mengenali lagi sosok lelaki yang menjadi kekasih gelapnya selama lima tahun belakangan ini. Pria berhidung mancung dengan alis tebal melingkung di atas sepasang mata sipit berubah menjadi sosok yang menakutkan.
Tidak mau terjadi hal buruk menimpa sang bos, salah seorang bodyguard mister White melangkah mendekati sang majikan dan berkata, "Tuan, kendalikan diri Anda. Kalau Anda bunuh dia, maka Tuan akan terkena hukuman. Bahkan, terancam kurungan penjara. Lalu, siapa yang akan membalaskan dendam Anda kepada pria itu? Lagipula, Anda bisa memanfaatkan wanita itu untuk mencari tahu siapakah wanita yang tengah dekat dengan Tuan Sean."
Suara Pratama--bodyguard mister White terdengar jelas di telinga. Tangan pria itu masih mencengkram pangkal tenggorkan Karin yang sudah mulai kehabisan oksigen.
Semua mata memandang ke mister White. Tanpa disadari, tangan pria itu terlepas dari pangkal tenggorokan Karin. Detik itu juga, tubuh mantan nyonya Anderson terkulai lemas di lantai dengan wajah memerah dengan napas terengah.
"Dudukan dia di sofa, lalu bawakan segelas air putih untuknya. Aku akan mulai mengintrogasi dia!" titah mister White dingin dengan wajah datar.
Setelah memberikan waktu sekitar lima menit lamanya untuk Karin mengumpulkan lagi separuh jiwanya yang nyaris melayang di udara, mister White mulai beraksi mencari tahu semua informasi yang diketahui oleh sang kekasih.
"Katakan padaku, siapa wanita itu dan bagaimana dia bisa dekat dengan mantan suamimu!" ucap Mister White lantang. Matanya yang sipit memberikan tatapan membunuh kepada Karin.
Memandangi wajah pria itu membuat bulu kudu Karin merinding. Masih jelas terasa bagaimana tangan kekar itu mencengkram erat pangkal tenggorokan. Tangan kekar yang biasa digunakan untuk mencumbu dan memberikan sentuhan menggoda telah berubah menjadi alat pencabut nyawa baginya. Sungguh, ia benar-benar takut dibuatnya.
"Wanita itu bernama Clarissa. Dia bekerja di perusahaan Anderson Grup sebagai sekretaris suamiku," sahut Karin. "Aku tidak tahu pasti bagaimana mereka bisa dekat. Namun, aku curiga semua berawal dari kepergian mereka ke kota M. Saat itu, Sean meminta sekretarisnya datang ke rumah dengan alasan membantu mantan suamiku memeriksa berkas penting. Di situ aku sudah merasa kalau Sean menaruh hati kepada Clarissa karena dari cara pria itu menatap bola mata sekretarisnya begitu berbeda."
__ADS_1
"Lalu, kenapa kamu sampai tidak tahu kalau Sean telah menikahi sekretarisnya? Apa kamu tidak curiga dengan gelagat aneh yang ditunjukan oleh Sean?" Mister White kembali menanyakan apa yang ada dalam isi hatinya.
"Sebenarnya aku curiga ketika Sean beberapa hari tidak pulang ke mansion. Kupikir, dia menginap di apartemen karena tidak mau diganggu oleh siapa pun. Tapi, jika dipikir-pikir mungkin saja saat itu Sean dan Clarissa telah menjalin kasih tanpa diketahui olehku maupun kedua orang tuanya."
Mister White tampak menganggukan kepala, merasa cukup puas atas informasi yang disampaikan oleh Karin. Walaupun wanita di seberangnya tidak dapat menjalankan tugas dengan baik, setidaknya ia bisa mendapatkan informasi mengenai Clarissa sebelum menyusun rencana merebut apa yang dimiliki oleh rivalnya tersebut.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, mister White menepuk kedua tangan ke udara hingga terdengar bunyi nyaring memenuhi penjuru ruangan. "Pratama! Bawa wanita itu keluar dari rumahku! Aku tidak sudi melihatnya berkeliaran lagi di sini!" seru pria itu dengan suara lantang.
Sontak, Karin bangkit dari sofa dengan kedua mata terbelalak sempurna. "Sayang, kenapa kamu malah mengusirku? Bukankah kita adalah pasangan kekasih. Saat ini aku sedang kesusahan dan membutuhkan bantuanmu maka kamu wajib menolongku!" jerit wanita itu histeris. Ia meronta, menjajakan kaki ke sana kemari ketika Pratama dan salah seorang bodyguard membawanya paksa dari rumah mister White.
Akan tetapi, kedua pria berbadan kekar tak mengindahkan ucapan Karin. Mereka terus menyeret wanita itu tanpa ampun.
"Sean, permainan kita belum berakhir. Bersiaplah menerima kenyataan bahwa kamu memang ditakdirkan hidup menyendiri di dunia ini tanpa ada cinta dan kasih sayang dari orang yang kamu cintai," ucap Mister White sambil menyeringai.
.
.
.
__ADS_1