
Resepsi pernikahan Clarissa dan Sean digelar sangat meriah, di sebuah ballroom hotel dengan mengusung konsep tema ala fairy tale. Pernikahan itu pun ditayangkan secara live di beberapa stasiun televisi sehingga masyarakat umum dapat menyaksikan penyatuan dua keluarga dalam sebuah ikatan pernikahan.
Ribuan bunga mawar putih mendominasi ruangan ballroom hotel. Dekorasi yang cantik dengan sulur sulur warna senada. Penambahan kereta kencana di tengah ruangan memberikan kesan nyata ala negeri dongeng.
Clarissa terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin warna putih. Gaun berbahan sutera model cutting ball gown dengan bagian dada dibuat lebih tertutup serta penambahan butiran berlian menempel di gaun tersebut membuat gaun tersebut terkesan lebih mewah.
Meskipun riasan make up flawless, tetapi tak dapat menyembunyikan kecantikan mempelai wanita. Kilauan perhiasan terbuat dari berlian membuat kecantikan Clarissa bertambah ratusan kali lipat hingga membuat semua mata memandang takjub tanpa dapat berkedip sedikit pun. Terlebih saat mengandung buah cintanya bersama suami, aura kecantikan wanita itu berlipat ganda.
"Kamu menyukai konsep pernikahan ini?" tanya Sean seraya menggenggam jemari lentik sang istri. Tubuh tegapnya dibalut tuxedo dan dilapisi jas putih yang dipadu dengan warna senada.
"Tentu saja, Sayang. Ini ... terlalu berlebihan menurutku."
Jari telunjuk Sean berada tepat di depan bibir Clarissa. "Sst! Tidak ada yang berlebihan, Sayang. Resepsi pernikahan ini tidak sebanding dengan hadiah yang kamu berikan kepadaku. Kehadiranmu dan calon anak kita merupakan hadiah terindah yang pernah Tuhan berikan kepadaku. Sepantasnya aku memberikan sesuatu yang sangat spesial untuk kalian berdua." Dia kecup kening istrinya dengan penuh cinta. "I love you, Clarissa Dianti Jenia."
Semburat rona merah muda di wajah terpancar di kedua pipi Clarissa. Dada berdenyut kencang saat untaian kata cinta terucap di bibir tuan muda Anderson. Saat ini, Clarissa seperti seorang gadis remaja yang sedang jatuh cinta.
Menahan debaran halus di dada, Clarissa menjawab, "I love you too, Sean Anderson." Lantas, dia menundukan wajah, menyembunyikan rona merah muda di kedua pipi.
Acara resepsi pernikahan masih berlangsung. Para undangan yang kebanyakan merupakan relasi, rekan kerja, seluruh karyawan perusahaan Anderson Grup serta pemegang saham berbondong-bondong memasuki ballroom hotel megah di kawasan Jakarta Pusat. Di antara tamu undangan yang turut hadir memberikan do'a restu kepada kedua mempelai, empat di antaranya adalah orang-orang yang sangat berarti dalam hidup Clarissa. Siapa lagi kalau bukan keluarga Smith, sahabat serta orang kepercayaan nyonya muda Anderson saat menjalankan misinya membalas dendam kepada para pengkhianat.
"Selamat menempuh hidup baru, Nak. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu." Alvin memeluk erat tubuh anak angkatnya.
"Terima kasih, Papa, karena sudah bersedia hadir dalam resepsi pernikahanku. Kupikir, di hari bahagia seperti ini aku tidak akan ditemani oleh siapa pun," tutur Clarissa dengan bibir gemetar.
Alvin mengurai pelukan. Dia ulurkan tangan ke depan, kemudian mengusut butiran kristal yang meluncur di sudut mata Clarissa. "Sudah sepatutnya Papa melakukan itu. Kamu tetaplah menjadi bagian keluarga Smith meski dirimu bukan darah dagingku, tetapi selamanya kita tetap satu keluarga."
Makin pecahlah tangis Clarissa mendengar ucapan Alvin. Rasa haru dan bahagia melebur menjadi satu, membuat suasana mengharu biru. Semenjak hamil, suasana hati istri ketiga Sean memang tidak stabil. Terkadang marah-marah tidak jelas, menangis tanpa suatu sebab yang pasti hingga membuat sang CEO berkali-kali mengelus dada melihat sikap sang istri yang sering berubah-ubah.
__ADS_1
"Hush! Kenapa malah semakin pecah tangismu, Nak. Apa kamu tidak malu menjadi pusat perhatian semua orang?" kata Alvin membendung air matanya agar tidak pecah.
"Aku tidak pernah menduga kalau Tuhan akan memberi kebahagiaan berlipat ganda kepadaku. Kupikir, aku tidak pantas bahagia karena masa laluku yang sering menghancurkan rumah tangga orang," jawab Clarissa di tengah suara isak tangisnya. Sungguh, dia merasa seperti sedang bermimpi saat ini sebab Tuhan melimpahkan banyak kebahagiaan untuknya.
Dahlia mengeluarkan tisu dari dalam dompet, kemudian mengusut air mata sahabatnya. "Cla, semua orang itu berhak bahagia, begitu pun denganmu. Lagi pula, kita semua tahu tujuanmu melakukan itu untuk apa. Selagi kamu mau berubah, aku yakin Tuhan pasti memaafkanku."
"Benar kata calon Kakak iparmu. Sebanyak apa pun dosa kita di masa lalu, selagi kita mau bertaubat dan membenahi diri, Tuhan pasti mengampuni setiap hamba-Nya yang berdosa," timpal Devan.
Jack melangkah maju ke depan untuk menyalami Sean. "Tuan, maafkan saya karena sempat membuat Anda cemburu. Tapi demi Tuhan, di antara kami tidak punya hubungan apa pun hanya murni ikatan persahabatan saja, tidak lebih."
Sean terkekeh saat mengingat kejadian beberapa hari lalu, kala api cemburu membakar dirinya. "Tidak masalah, Jack. Aku pun minta maaf karena sudah curiga padamu." Tangan pria itu merangkul bahu orang kepercayaan Clarissa. "Terima kasih sudah membantu istriku selama ini. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan menghubungiku."
"Tuan Sean, tolong jaga dan lindungi Clarissa. Apabila ada perbuatannya yang menyinggung perasaan Anda, cukup ditegur tanpa menampar apalagi sampai memukul. Namun, jika memang Anda sudah enggan berumah tangga dengan Clarissa, kami dengan tangan terbuka siap menerimanya kembali," imbuh Alvin.
Sean tersenyum lebar. "Papa jangan khawatir, aku pasti menjaga dan melindungi Clarissa dan calon cucumu dengan baik."
Alvin tertegun sejenak, lalu dia kembali berkata, "Papa?"
Mendengar namanya dipanggil, refleks pria itu menganggukan kepala. "Benar ... benar ... sekarang kita saudara jadi tidak perlu sungkan."
Di samping Sean, Clarissa menyaksikan dengan mata berkaca-kaca. Pemandangan itu begitu mengharukan. Mereka semua saling berpelukan dan bersalaman sebelum akhirnya menikmati hidangan yang disediakan.
Hari ini Xena pun tidak kalah cantik dari sang mama. Wajah blasterannya membuat siapa saja akan berdecak kagum melihat kecantikan gadis kecil itu. Sedari tadi dia terus asyik bermain bersama Audrey. Tak jarang terdengar suara gelak tawa memenuhi penjuru ruangan.
Saat Xena tengah berlari-larian dengan Audrey, sesuatu hal menarik perhatian gadis itu hingga membuat langkahnya terhenti. Tanpa disadari oleh siapa pun, gadis itu melangkah menuju lorong sepi.
"Mommy?" kata Xena lirih sembari mengerjapkan matanya yang indah dan jernih.
__ADS_1
Sosok wanita cantik bergaun putih tersenyum manis ke arah Xena. "Halo, Sayang. Mommy kangen banget sama kamu, Nak."
Perlahan, Xena melangkah mendekati sosok wanita itu. "A-aku juga kangen sama Mommy." Gadis kecil itu terbata saat mengucapkan kalimat tersebut. Kehadiran Sabrina di tengah pesta membuat nona muda Anderson kebingungan.
"Kenapa Mommy ada di sini? Bukannya Mommy ada di surga? Apa Mommy akan tinggal bersamaku dan Daddy lagi?" tanyanya polos.
Senyuman Sabrina semakin lebar mendengar perkataan Xena. "Tidak, Sayang. Dunia Mommy dan kamu sudah berbeda."
"Mommy datang ke sini cuma mau minta kamu sampaikan ucapan terima kasih Mommy kepada Mommy Clarissa karena sudah menyayangi serta mencintaimu dan Daddy dengan tulus." Meskipun Xena tidak mengerti maksud perkataan Sabrina, tetapi dia tetap menganggukan kepala sebagai jawaban.
Kilasan cahaya yang menyilaukan secara perlahan semakin meredup dan semakin menghilang dari pandangan. Suasana kembali hening tak ada suara apa pun di sekitar sana.
"Mommy!" panggil Xena sembari memutar tubuhnya, mencari keberadaan sang mama kandung. Akan tetapi, kilasan cahaya yang sempat menyilaukan mata tak ada di mana pun. Namun, kalimat yang terucap di bibir Sabrina kembali terngiang di telinga Xena.
"Jangan lupa sampaikan apa yang Mommy bilang kepadamu, Sayang!"
Xena tertegun sejenak. Tanpa sadar, dua bulir bening mengalir di sudut mata. Rasa rindu akan kehadiran ibu kandung membuat gadis kecil menitikan air mata. Walaupun dia tidak kekurangan kasih sayang dan mendapatkan pengganti Sabrina, tetap saja bocah kecil itu merindukan pelukan hangat dari wanita yang telah melahirkannya ke bumi ini.
"Aku tidak boleh nangis, nanti Mommy Clarissa bersedih. Sebaiknya aku temui Mommy Clarissa di dalam." Lantas, dia mengusut sisa buliran tersebut dan berlari menuju ballroom hotel.
"Mommy! Mommy!" seru Xena sembari berhambur mendekati Clarissa dan Sean yang sedang duduk di pelaminan.
"Hati-hati, Sayang!" tegur Clarissa dan Sean hampir bersamaan.
Xena menurut, berderap mendekati sang mommy dan duduk di pangkuan Clarissa. "Mommy, sini deh!"
Clarissa menjawab, "Ada apa, Sayang." Wanita itu mendekatkan telinganya, lalu Xena mulai membisika sesuatu.
__ADS_1
Perkataan Xena berhasil membuat kelopak mata Clarissa mulai berkaca-kaca. Wanita itu mendekap anak tirinya, menyalurkan kasih sayang yang sedemikian besar. Aku janji akan membesarkan Xena dengan segenap jiwa dan ragaku meski suatu hari nanti hadir buah cintaku dengan Sean ke muka bumi ini tapi kadar cinta dan kasih sayangku kepada putrimu tidak pernah luntur.
...~The End~...